Guterres, Penggerak KTT Aksi Iklim
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
21 September 2019 10:00
Watyutink.com - Sebelum menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang dimulainya pada 1 Januari 2017, selama 10 tahun Antonio Guterres adalah Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi.

Bertahun-tahun menyaksikan penderitaan orang-orang di kamp pengungsi dan di zona perang, membuat ia bertekad untuk menjadikan martabat manusia sebagai inti dari pekerjaannya.

Menjelang Sidang Majelis Umum PBB ke-74 yang kini sedang berlangsung ia menekankan bahwa dunia berada pada momen kritis di beberapa bidang - darurat iklim, meningkatnya ketidaksetaraan, kebencian dan intoleransi, serta sejumlah tantangan perdamaian dan keamanan yang mengkhawatirkan.

PBB akan menyoroti isu perubahan iklim melalui Climate Action Summit (KTT Aksi Iklim) yang akan diselenggarakan di Kota New York pada Senin, 23 September.

Dalam surat yang dikirimkannya ke semua kepala negara, Guterres menetapkan harapannya untuk KTT Aksi Iklim dan mendesak pemerintah negara-negara anggota PBB untuk datang dengan rencana aksi yang konkret dan realistis, bukan hanya pidato-pidato retorik.

Ia meminta negara-negara untuk  meningkatkan Nationally Determined Contribution (NDC) pada tahun 2020, sejalan dengan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 45 persen selama dekade berikutnya, dan untuk mencapai net zero emission pada tahun 2050.
 
Net zero emission berarti bahwa semua emisi gas rumah kaca buatan manusia (yang diekivalenkan dengan karbon) harus dihilangkan dari atmosfer melalui langkah-langkah pengurangan sehingga suhu global akan stabil.
Sedangkan NDC menggambarkan upaya sebuah negara menuju masa depan yang rendah karbon dan berketahanan iklim.
 
Bagaimana KTT Aksi Iklim dapat menerjemahkan permintaan Guterres yang memang ditujukan untuk kemaslahatan umat manusia?
 
KTT ini akan mengundang Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan  bersama dengan masyarakat sipil, bisnis, organisasi internasional, pemuda dan perwakilan  masyarakat luas.
 
Konferensi akan mengembangkan solusi ambisius di enam bidang yang diakui memiliki potensi tinggi untuk mengekang emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim dan meningkatkan aksi global dalam adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dengan rincian sebagai berikut:

Pertama, pendanaan dengan memobilisasi sumber keuangan publik dan swasta;
Kedua, transisi energi dengan mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan, serta efisiensi energi;
Ketiga, transisi industri melalui transformasi industri seperti minyak dan gas, baja, semen, bahan kimia dan teknologi informasi;
Keempat, solusi berbasis alam, yaitu mengurangi emisi, meningkatkan kapasitas penyerapan karbon dan meningkatkan ketahanan di sektor kehutanan, pertanian, lautan dan sistem pangan;
Kelima, kota dan aksi lokal, dengan memajukan mitigasi (mengurangi gas rumah kaca) dan ketahanan iklim di tingkat perkotaan dan lokal;
Keenam, ketahanan dan adaptasi, dengan memajukan upaya global untuk mengatasi dan mengelola dampak dan risiko perubahan iklim.
 
Selain keenam hal di atas, ada tiga bidang tambahan, yaitu strategi mitigasi, keterlibatan pemuda dan mobilisasi publik, serta penggerak sosial dan politik.
 
Climate Change News menulis bahwa KTT Aksi Iklim ini tidak menggantikan negosiasi pada acara tahunan Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim yang akan berlangsung pada bulan Desember di Santiago, Chili. Namun KTT menandai langkah tambahan bagi negara-negara untuk membangun momentum menjelang perundingan iklim 2020 ketika mereka wajib mengumumkan pemutakhiran rencana iklim mereka.
 
Usai KTT Aksi Iklim, Sekretaris Jenderal PBB akan menyiapkan laporan analitik, yang akan disampaikan di Santiago, tentang pencapaian pertemuan khususnya tambahan pengurangan emisi dan dukungan yang diperlukan untuk implementasi inisiatif yang diusulkan.
 
António Guterres, yang mengawali karirnya sebagai Asisten Profesor di bidang teknik sebelum terjun ke dunia politik, menyampaikan pesan yang sangat sederhana kepada para pemimpin dunia: “Dahulukanlah umat manusia, kebutuhan mereka, aspirasi mereka, dan hak mereka. Masyarakat menginginkan solusi, komitmen, dan pelaksanaannya.”

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

FOLLOW US

Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja