Kembali ke Era Kolonialisme
Gigin Praginanto
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com) 24 January 2020 15:00
Watyutink.com - Saat ini Ibu Pertiwi mungkin sedang menangis. Tak sanggup menerima kenyataan bahwa para pelajar Indonesia makin bodoh seperti tampak dalam hasil tes PISA, sementara tahun ini Indeks Demokrasi-nya merosot sampai di bawah Malaysia seperti hasil survei The Economist Intelligence Unit, dan kasus para penyidik KPK ditahan polisi semalam suntuk ketika memburu Sekjen PDIP hasto Kristiyanto.

Sementara itu masa depan para pedagang kakilima kian terancam oleh para konglomerat eceran yang makin agresif melakukan ekspansi ke segala penjuru nusantara. Para konglomerat ini seperti kapitalis jaman kolonial, makin kaya di tengah kualitas ekonomi takyat yang sangat rendah. Sebagaimana dicatat oleh Kemenaker, dalam 5 tahun terakhir pengangguran tenaga terdidik meningkat, sementara tamatan SMP ke bawah malah turun. 

Ini mengingatkan pada apa yang pernah diungkapkan oleh Bung Karno puluhan tahun silam: "Kita bukan saja harus menentang kapitalisme asing tapi juga harus menentang kapitalisme bangsa sendiri." 

Sungguh ironis karena partai yang sedang berkuasa adalah PDI, yang mengklaim sebagai anak ideologi presiden pertama RI tersebut. Partai ini juga dipimpin oleh putri Bung Karno yaitu Megawati Soekarnoputri, sedangkan Presiden RI Jokowi adalah petugas PDIP, yang mengklaim sebagai partai wong cilik. 

Maka, bila masih hidup, Bung Karno akan marah lagi menyaksikan bagaimana pada Maret tahun lalu pemerintah menetapkan garis kemiskinan berdasarkan pengeluaran sebesar Rp425.250 per kapita per bulan atau sekitar Rp14 ribu per hari. Kemarahan ini pernah ditulis oleh Bung Karno dalan harian Fikiran Ra'jat sebagai respon atas penetapan garis kemiskinan oleh pemerintah kolonial Belanda, yang menyatakan rakyat jajahan bisa hidup dengan 1,5 sen gulden atau segobang per hari. Angka itu, sama dengan perhitungan BPS hari ini, diambil dari asupan hitungan kalori yang diperlukan untuk bertahan hidup.

Dalam artikelnya yang berjudul “Orang Indonesia Cukup Nafkahnya Segobang Sehari?” Bung Karno menuduh pemerintah kolonial Belanda tidak bisa membedakan antara "cukup" dan "terpaksa" hidup".

"Di antara dua (kata) ini adalah perbedaan yang sama lebarnya dengan perbedaan sana dan sini, antara kaum penjajah dan terjajah, antara kaum kolonialisator dan gekoloniseerde,” tulis Sukarno.

Seperti di zaman penjajahan. Ada sekelompok kecil orang yang hidup makin mewah, sementara yang lain harus kerja makin keras agar sekadar bisa hidup. Sialnya lagi, kini kaum kaya itu juga berkongkalikong dengan para politisi papan atas untuk mengendalikan kebijakan pemerintah. Hasilnya adalah liberalisasi ekonomi sangat agresif, dan pembusukan demokrasi. Indonesia saat ini tampak kian jelas sedang banting setir menuju kolonialisme baru.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Krisis APBN Kian Mendekat

24 February 2020

Indonesia Bubar

21 February 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF