Kesabaran adalah Matahari!
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
18 April 2019 11:00
Watyutink.com - Pemilu-pileg dan terkhusus pilpres memang belum selesai. Walau pun hampir semua lembaga survei telah mengeluarkan hasil perhitungan cepatnya dengan memberi angka kemenangan bagi Capres 2019-2024 kepada Paslon 01. Maka wajar bila kemudian kubu 02 belum bisa menerimanya. Alasan yang dikemukakan oleh Prabowo sebagai Capres Paslon 02, karena berdasarkan hasil hitungan dari internal partai pendukung 02, justru kemenangan berada pada kubunya. Walau hampir semua lembaga survei memberi kemenangan bagi Jokowi (Paslon 01) dengan angka yang berkisar tak jauh dari  54,50 persen untuk Paslon 01, dan 45,50 persen bagi Paslon 02, angka perolehan ini oleh Prabowo dinyatakan tidak valid. 

Alasannya, karena tidak mencerminkan realita suara di lapangan yang langsung diamati dan dicatat oleh para saksi-aktivis pendukung 02. Prabowo sendiri mengklaim perolehan suara baginya adalah 62 persen. Hasil hitungan ini berdasarkan perhitungan cepat dari internal partai pendukungnya yang  juga melakukan perhitungan cepat yang diyakini sebagai realita suara di lapangan. 

Maka Prabowo pun memproklamasikan dirinya sebagai ‘defacto’ Presiden terpilih 2019-2024. Tentunya mengacu pada keyakinan bahwa yang benar adalah hitungan cepat versi kubunya sendiri. Setidaknya, itulah yang terjadi. Prabowo menolak hasil perhitungan cepat mayoritas lembaga survei yang ada!

Salahkah Prabowo melakukan penolakan? Rasanya bukan pertanyaan seperti itu yang menjadi persoalan. Karena wajar bila pihak yang kalah atau dikalahkan, melakukan gugatan ketika dirinya meyakini kemenangan ada pada kubunya. Karena merasa kecurangan dan ketidak adilan telah terjadi sehingga hitungan dari mayoritas, bahkan hampir semua lembaga survei yang memberi angka kemenangan bagi Paslon 01, dianggap merupakan bentuk pendzoliman terhadap dirinya. 

Memaknai protes ini tidak perlu disikapi dengan sinisme maupun reaksi yang berlebihan. Sebaiknya tempatkan pada suatu kewajaran yang biasa terjadi dalam setiap kontestasi pemilu-pilpres. Kecuali klaim sebagai ‘sudah menjadi presiden terpilih’, hal ini mungkin sudah merupakan langkah yang terlalu jauh.  

Tapi hal ini pun biarlah menjadi catatan sebuah dinamika politik pilpres yang bisa digunakan kelak sebagai ukuran kualitas pribadi maupun instisusi peserta Pilpres 2019. Tidak perlu ditanggapi dengan sarkasme dan apalagi sinisme yang berlebihan oleh kubu pendukung 01. Sementara terhadap pendukung 02, melakukan protes yang berlebihan dengan menggalang massa untuk bertindak berlebihan yang jauh dari harapan Pemilu Damai, hal ini pun perlu dihindarkan. 

Setidaknya para pemimpin di kubu 02, wajib meredam emosi atau kemarahan massa yang berlebihan. Sementara berkumpul dan bergerak menyuarakan gugatan secara tertib dan damai, merupakan hak konstitusi yang harus kita hormati. Apalagi gugatan disertai bukti-bukti yang menguatkan alasan mengapa gugatan diperlukan!

Hadirnya gugatan dan pernyataan politik Paslon 02 yang mengejutkan ini, bisa dimengerti dan dimungkinkan hadir oleh karena pasar politik Pemilu-Pilpres membuka peluang terjadinya semua ini. Mengingat jauh hari sebelum pemilu-pilpres digelar, sudah terjadi kehebohan di sosial media yang memperdebatkan kecurigaan sejumlah lembaga survei yang kental sikap kepartisannya. Sehingga tuduhan bahwa lembaga-lembaga survei tersebut, diduga keras sebagai institusi penyebar angka hasil survei yang dikatagorikan sebagai bagian dari politik hoax

Dengan kata lain, kredibilitas lembaga survei yang setiap hari aktif bekerja menggelar secara demonstratif hasil survei mereka, menguatkan penyangsian terhadap netralitas mereka sebagai institusi intelektual-akademisi yang menyuarakan kebenaran. Tuduhan bahwa mereka hanyalah kumpulan dari pengais laba dan rezeki mumpung, begitu santer menguak dalam pebincangan, perdebatan, dan kehebohan di dunia maya. 

Oleh sebab itu, melakukan reaksi-cemooh berlebihan maupun dukungan berlebihan atas sikap politik Prabowo dengan pernyataannya yang luar biasa mengejutkan ini, bukanlah jalan keluar yang menyelesaikan masalah. Sebaliknya malah menghadirkan masalah yang berdampak lebih jauh dari apa yang kita bisa bayangkan sementara ini. Sebaiknya protes keras dan pernyataan politik Prabowo ini, dimaknai sebagai bagian yang malah melahirkan transparansi, keterbukaan, keadilan, sebagaimana harapan kita semua. 

Dengan langkah ini kita berharap lembaga penyelenggara pemilu dan penyelenggaraan pemilu selanjutnya, akan lebih terpercaya, dihormati, dan berwibawa. Karena transparansi, keterbukaan, dan keadilan telah ditegakkan dengan baik dan benar. 

Salah satu cara untuk mendapatkan hasil positif sebagaimana harapan, sebaiknya semua pihak bersabar, dan memberi kesempatan kepada Komisi Pemilihan Umum untuk melaksanakan dan menyelesaikan tugasnya. Silahkan secara damai kubu Paslon 02 menyodorkan bukti-bukti nyata yang menguatkan perolehan angka 62 persen yang diyakininya. Seperti ajakan Prabowo yang melegakan, semua harus dilakukan melalui koridor dan jalur hukum yang berlaku. 

Pernyataan inilah yang harus kita pegang sebagai kunci dari penyelesai selisih angka yang menghebohkan dan mengejukan jantung bangsa ini.

Oleh karenanya, hasil akhir perhitungan suara secara manual oleh KPU perlu disepakati menjadi pegangan dan kunci jawaban pamungkas. Tentunya pihak terkait, kubu Paslon 02 maupun 02, dibenarkan dan wajib dilibatkan dalam perhitungan suara yang akan dilakukan dalam waktu beberapa minggu ke depan. 

Sementara itu, jangan sirami rakyat Indonesia yang begitu damai dengan bensin dan percikan api yang bertujuan membakar segalanya. Mereka telah dengan tertib juga bermartabat melaksanakan pemberian suara pada hari H dengan harapan terlaksana dan terwujudnya pemilu yang damai dan bermartabat.

Yang mau menggugat KPU, gugatlah lewat koridor hukum karena hukum menjamin setiap pihak yang merasa dirugikan, berhak melakukan tuntutan dan gugatan. Hukum juga memerintahkan agar KPU bekerja secara transparan, terbuka, jujur dan adil. Karena kebenaran dan keadilan akan teruji dari data yang disepakati para pihak yang sedang berlaga menentukan angka kemenangan yang berkepastian. Baik kepastian secara hukum, politik, maupun kepastian moral-intelektual! Sehingga kalah menang akan diterima dengan sikap hormat dan saling menghormati.

Kata kunci bagi para pemimpin untuk mengendalikan euforia atau sebaliknya emosi para pendukungnya, adalah Kesabaran. Seperti ujar Rendra dalam sajaknya…Kesabaran adalah Matahari!                                    

Nah, harap dicatat, tanpa hadirnya Matahari, niscaya kegelapan akan menguasai kehidupan! Indonesia tidak menginginkan hal itu! Rakyat Indonesia yang sejak dulu cinta damai, tidak pantas dijauhkan dari Matahari-Nya!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FX Sugiyanto, Prof.

Guru Besar Universitas Diponegoro

FOLLOW US

Pengusaha Harus Aktif Lobi AS             Kematian Petugas KPPS Tidak Ada Yang Aneh             Memerangi Narkoba Tanggung Jawab Semua Pihak             Pendekatan yang 'Teenager Friendly'             Pendampingan Tiga Tungku             Perda Dulu Baru IMB             Kelalaian Negara dalam Misi Kemanusiaan             Kematian Petugas Medis; Pemerintah Harus Berbenah             Daerah Terpencil Sebagai Indikator Keberhasilan             Resiko Petugas Sosial