Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Situasi Global
YB. Suhartoko, Dr., SE., ME
Dosen Program Studi S1 Ekonomi Keuangan dan Perbankan dan Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya Jakarta
berita
Berpikir Merdeka
12 June 2019 11:30
Watyutink.com - Situasi perekonomian dunia pada awal tahun 2019 masih menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya ketidakpastian. Pada April 2019, World Bank dan IMF kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2019. World Bank menurunkan dari 2,9 persen menjadi 2,7 persen sedangkan IMF menurunkan dari 3,5 persen menjadi 3,3 persen. Selain itu, per Maret 2019 OECD juga mengoreksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2019 dari 3,6 persen menjadi 3,3 persen.

Dalam hal perdagangan, perang dagang AS – China semakin meningkatkan situasi ketidakpastian ekonomi dunia. Tensi perang dagang semakin meningkat, AS pada 10 Mei 2019  membuat kebijakan dagang baru dengan China  dengan menaikkan tarif dari 10 persen menjadi 25 persen untuk produk-produk ekspor China senilai 200 miliar dolar AS. Kebijakan ini akan berlaku pada tanggal 17 Mei 2019. Pemerintah AS saat ini masih menunggu masukan-masukan dari masyarakat dengan tetap melanjutkan perundingan dengan pemerintah China.

Langkah AS dibalas oleh China, pada 13 Mei 2019, melakukan retaliasi dengan  meningkatkan tarif bea masuk impor untuk produk AS dari 10 persen menjadi 20 persen - 25 persen dengan total nilai dagang 60 miliar dolar AS yang akan berlaku pada 1 Juni 2019. Dampaknya langsung terlihat, pasar finansial di AS menurun tajam pada jangka pendek dan selanjutnya berdampak pada pertumbuhan ekonomi global, turunnya permintaan global sehingga menyebabkan turunnya harga-harga komoditas global. WTO akhirnya  kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan perdagangan tahun 2019 dari 3,7 persen menjadi 2,6 persen.

Situasi Ekonomi Indonesia

Perekonomian Indonesia di tengah perlambatan ekonomi dunia masih menunjukkan kualitas pertumbuhan ekonomi dengan trend yang meningkat. Pertumbuhan ekonomi  dengan trend yang meningkat diiringi dengan penurunan jumlah penduduk miskin, pengangguran dan pemerataan yang semakin baik yang ditunjukkan oleh membaiknya indeks Gini dan inflasi yang stabil.

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sangat ditopang oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga  dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Konsumsi rumah tangga berkontribusi terhadap PDB di atas 50 persen dan PMTB di atas 50 persen, namun demikian kontribusi ekspor netto tidak menggembirakan, bahkan negatif. Dalam jangka pendek situasi ini tidak begitu bermasalah, karena sektor internal masih cukup kuat, namun demikian dalam jangka panjang struktur kontribusi PDB seharusnya diseimbangkan antara sektor internal dan eksternal.

Jika dilihat dari sektor industrinya, terdapat beberapa sektor yang berkontribusi di atas 10 persen. sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sekitar 20,07 persen, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor sebesar 13,20 persen, pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 12,65 persen dan kontruksi 10.76 persen pada kuartal 1 tahun 2019. Jika ditelusuri lebih lanjut, nampaknya ketergantungan industri pengolahan terhadap bahan baku impor relatif besar, sedangkan pertanian, kehutanan dan perikanan serta pertambangan dipengaruhi oleh harga komoditi di pasar Internasional.

Risiko sektor eksternal masih cukup tinggi, Defisit Neraca Transaksi Berjalan pada kuartal 1 tahun 2019 mencapai 2,6 persen dari PDB lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal 1 tahun tahun sebelumnya yang nilainya di atas 2 persen PDB, kecuali tahun 2017 nilainya 0,84 persen PDB.

Dilihat dari postur keseluruhan neraca pembayaran pada kuartal 1 2019 dapat diuraikan sebagai berikut. Neraca perdagangan barang  surplus 1,06 miliar dolar AS, sedangkan neraca perdagangan jasa defisit sebesar 1,79 miliar dolar AS. Sedangkan neraca pendapatan primer yang meliputi reinvested eaning dan dividen serta pembayaran kupon/diskonto/bunga obligasi defisit sebesar 5,20 miliar dolar AS sedangkan neraca pendapatan sekunder yang meliputi transfer penghasil TKI/TKA serta hibah barang surplus sebesar 1,57 miliar dolar AS. Secara umum neraca pembayaran surplus sebesar 2,42 miliar dolar AS.

Bertolak dari postur tersebut  pengelolaan neraca perdagangan jasa dan neraca pendapatan primer harus mendapat perhatian serius dalam jangka panjang, walaupun dalam jangka pendek tidak terlalu berdampak serius terhadap pelemahan rupiah, karena neraca transaksi finansial surplus sebesar 10.05 miliar dolar AS dan cadangan devisa masih cukup memadai untuk pembiayaan impor senilai 124,54 miliar dolar AS.

Rekomendasi

Perekonomian Indonesia di tengah situasi melambatnya perekonomian dunia dan situasi ketidakpastian masih menunjukkan kinerja yang cukup baik, namun demikian dalam jangka panjang harus dilakukan berbagai kebijakan untuk meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.

Dari sisi kontribusi terhadap PDB, perekonomian Indonesia perlu meningkatkan kontribusi ekspor netto dengan mengembangkan industri pengolahan berorientasi ekspor yang mengandalkan keunggulan komparatif seperti ketersediaan sumber daya alam dan sumber daya manusia sehingga akan mengurangi ketergantungan impor bahan baku. Pembukaan pasar baru ekspor harus diupayakan. Sistem imbal dagang sebagai awal pembukaan pasar perlu dilakukan.

Dari sisi konsumsi, upaya mengurangi impor dalam jangka panjang dapat diupayakan dengan berbagai kebijakan yang menggunakan barang-barang produksi dalam negeri dimulai dari pemerintah pusat sampai daerah dengan demikian secara simultan terbangun perilaku konsumsi dan industri yang memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Dari sisi postur neraca pembayaran, nampaknya neraca perdagangan jasa, terutama jasa transportasi, serta pendapatan primer harus mendapat perhatian yang serius. Memperkuat armada transportasi laut seiring dengan peningkatan ekspor mutlak untuk dilakukan. Dalam hal pendapatan primer sudah saatnya lebih gencar dilakukan sosialisasi dan edukasi  investasi di pasar modal untuk memperbaiki neraca pendapatan primer dalam jangka panjang, mengingat masih kurang dari 1 persen penduduk berinvestasi di pasar modal.

Catatan Redaksi: Tulisan ini menanggapi tulisan Berpikir Merdeka Anthony Budiawan berjudul: "Deindustrialisasi Makin Nyata, Ekonomi Memburuk".

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar