Maju Bisa Mundur Bisa Ekonomi Tahun Depan
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid watyutink 13 December 2019 19:30
Watyutink.com - Rakyat Indonesia sebentar lagi akan merayakan pergantian tahun baru. Tidak berlebihan jika masyarakat berharap kondisi yang akan datang lebih baik dari tahun ini; keamanan terjamin, ekonomi tumbuh tinggi, pesta demokrasi pilkada berjalan lancar, dan tidak ada gesekan sosial politik yang keras.

Wajar jika rakyat berharap tahun depan lebih baik, terutama bidang ekonomi, karena sekarang adalah periode kedua Presiden Joko Widodo, waktunya untuk memetik hasil pembangunan yang sudah dilakukannya pada periode lima tahun pertama pemerintahannya.

Dengan pembangunan infrastruktur yang masif dan hampir merata di seluruh Indonesia, masyarakat tidak perlu menyangsikan ekonomi bisa tumbuh tinggi. Nyaris semua tersedia bagi ekonomi untuk bergerak cepat.

Daerah yang semula terisolasi menjadi terbuka dengan adanya jalan baru, pergerakan barang dan orang makin cepat, mudah, dan lancar dengan adanya jalan tol. Di luar itu, ada tol laut yang meningkatkan keterhubungan antarkawasan.

Bantuan sosial kepada masyarakat miskin juga naik sehingga tingkat kemiskinan menurun. Sejumlah indikator ekonomi yang lain seperti pengangguran terbuka, rasio Gini, dan tingkat inflasi menunjukkan perbaikan yang cukup berarti.

Namun ada juga yang masih kurang menggembirakan. Realisasi pertumbuhan ekonomi masih jauh di bawah target 7 persen dan defisit transaksi berjalan justru semakin melebar. Melihat fakta seperti itu pemerintah hanya berani menargetkan pertumbuhan menjadi sekitar 6 persen dalam 5 tahun ke depan. Padahal untuk masuk ke dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas yang ditargetkan dicapai pada 2045, Indonesia butuh pertumbuhan sedikitnya 6,5 persen per tahun.

Pemerintah menyadari Indonesia tidak terletak di satu bejana yang steril dari pengaruh dunia luar. Ia menjadi bagian dari masyarakat global yang saling berinteraksi. Meskipun secara internal Indonesia sudah membangun fondasi yang kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tidak berarti semuanya bisa dicapai dengan mudah.

Sejak adanya perang dagang antara AS dan China, dan berlanjut ke kawasan lain, dinamika global semakin sulit diprediksi, memicu ketidakpastian ekonomi. Hal ini yang menjadi alasan mengapa ekonomi Indonesia tidak juga mau tumbuh tinggi. Ekspor yang diharapkan menjadi komponen penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi belum siuman dari pukulan perang dagang.

Korban dari perang dagang adalah neraca perdagangan Indonesia yang mengalami defisit cukup parah. Kondisi ini masih akan berlanjut pada tahun depan lantaran perang dagang yang menimbulkan ketidakpastian global belum akan mereda. Dalam kondisi seperti ini ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh sekitar 5,03 persen pada 2020.

Beruntung ekonomi Indonesia masih didominasi konsumsi rumah tangga yang diprediksi dapat menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan baik pada tahun depan. Di samping itu ada investasi, tetapi masih menunggu kebijakan pemerintah terkait omnibus law yang akan mensinkrokan dan menyederhanakan 72 undang-undang yang selama ini dinilai menghambat investasi. Apakah kebijakan ini kelak mendorong laju penanaman modal atau justru menghambatnya.

Dasar-dasar untuk mendorong investasi sudah disiapkan pemerintah antara lain melalui kebijakan pengurangan pajak secara besar-besaran. Insentif ini diberikan kepada perusahaan yang melakukan riset dan pemagangan. Pemotongan terhadap pendapatan bruto hingga mencapai maksimal 200-300 persen dari biaya yang dikeluarkan untuk kedua kegiatan tersebut.

Pendekatan lain yang bisa digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar lebih tinggi lagi adalah dengan menaikan kelas usaha UMKM dari mikro ke kecil, kecil ke menengah, dan menengah ke besar. Berdasarkan hitungan SigmaPhi, jika pemerintah mampu mendorong tujuh persen UMKM naik kelas, maka potensi pertumbuhan ekonomi mencapai 5,6 persen. Bahkan, jika mampu mendorong 10 persen UMKM untuk naik kelas, maka potensi pertumbuhan ekonomi dapat mencapai sembilan persen. Tentu semua ini masih simulasi.

Yang pasti dan riil dirasakan masyarakat saat ini adalah sulitnya mencari pekerjaan, omzet usaha menurun, dan tingkat kepercayaan terhadap iklim usaha melemah. Ditambah lagi kebijakan pemerintah menaikkan iuran BPJS Kesehatan dan tarif cukai rokok ikut menurunkan daya beli masyarakat.

Dengan melihat catatan di atas, masyarakat tidak perlu berharap banyak pada pertumbuhan ekonomi tahun depan. Tidak ada lampu Aladin untuk menjadi lebih sejahtera, kecuali kerja keras dan cerdas menghadapi ketidakpastian yang semakin tidak pasti.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)