Mau Belajar Apa Lagi dari Amerika?
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 13 January 2021 10:00
Watyutink.com - Membuka tahun baru 2021, Gedung Capitol Hill, Washington D.C, tempat para wakil rakyat Amerika berkantor, diserbu massa pendukung Presiden Donald Trump yang mencoba menggagalkan pengesahan Joe Biden menjadi Presiden AS ke-46. Suatu peristiwa yang sungguh tak terbayangkan bisa terjadi di negaranya Paman Sam. Sebuah negara super di segala bidang yang selama ini memposisikan diri sebagai maha Guru bagi negara-negara yang ingin berdemokrasi ria ala barat. 

Para akademisi pemuja demokrasi ala Amerika yang cukup banyak jumlahnya di negeri ini pun, pasti terperangah. Tak percaya bahwa negara idola yang dijadikan sebagai role model sebuah negara demokratis paling sempurna, pada setiap ceramah mereka di depan para mahasiswa, memunculkan potret perilaku demokrasi yang ‘barbarian’ dan rendah mutu. Atas peristiwa yang luar biasa mengejutkan ini, terbayang oleh saya bagaimana wajah para aktivis penjaja Demokrasi ala Amerika yang pada awal gerakan reformasi sangat getol menjajakan dagangannya. 

Bagi para aktivis yang aktif di lapangan pada fase awal gerakan Reformasi, pasti mengenal betul nama dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang sangat pro-aktif berperan sebagai agen demokrasi ala Amerika. Mereka sangat giat bermanuver hingga masuk ke wilayah kerja legislasi para wakil rakyat kita di MPR. Mereka sukses besar berhasil merubah UUD-45 hingga melahirkan UUD-45 (sintetis) alias UUD 2002. 

Mereka adalah kumpulan akademisi muda yang sangat anti Demokrasi ala Indonesia (Pancasila), maupun Demokrasi Terpimpin ala Bung Karno. Dengan Demokrasi liberal dijadikan pilihan, mereka begitu yakin rakyat Indonesia akan meraih kedaulatan dan kebebasan secara penuh. Rakyat akan berjaya, rakyat lah yang berkuasa, dan rakyat hidup bahagia karena mandiri menentukan pilihan. 

Tapi agaknya sejarah cukup jahil. Dipertontonkanlah peradaban dunia yang di sana-sini mulai memproduksi sejumlah produk demokrasi liberal yang salah satu bentuknya adalah peradaban demokrasi ala Amerika versi Trump. Di Indonesia dikenal sebagai Demokrasi ‘kebablasan’. Tidak cukup hanya liberal, tapi sudah pada tingkatan hiper liberal. Atas nama demokrasi Anda boleh melakukan apa saja. Termasuk ngotot paling benar sendiri, paling berhak dan paling harus selalu menang menguasai segalanya atas nama mayoritas. Sebuah peradaban demokrasi yang dibangun lewat perpaduan antara hukum dagang dan hukum rimba. 

Merenungkan peristiwa memalukan yang dilakukan olkeh para pendukung Trump, saya jadi tergoda untuk meluaskan perenungan saya dengan pengembaraan imajinasi yang lebih jauh. Benak saya justru lebih tertarik melakukan lompatan jauh dan menjadikan negeri Cina sebagai tempat yang menarik untuk dipertanyakan. Tiba-tiba saja saya menjadi sangat serius menyoal; mengapa, konon, Nabi Muhammad SAW sempat melontarkan seruan agar umatnya mau terus belajar hingga bila  perlu tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina. 

Persoalan yang sangat mengganggu pikiran saya adalah tentang pilihan negeri tujuan yang ditawarkan Nabi Muhammad kepada umatnya. Mengapa kok merekomendasi umat pengikutnya agar mau belajar sampai ke negeri tirai bambu, Cina? Mengapa tidak merekomendasi untuk mau belajar ke Nusantara, Australia, Afrika, Eropa, atau ke negara yang serba super segalanya, Amerika..? Padahal, dalam satu abad terakhir ini, Eropa dan Amerika merupakan tempat yang menjadi sumber dan rujukan dari hampir setiap temuan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu mengapa justru negeri Cina yang oleh Nabi Muhammad dijadikan rujukan?

Konon kutipan sabda Nabi Muhammad ini tidak kuat dijadikan rujukan karena terdapat dalam hadis dimana dalam rangkaian sanadnya terdapat nama Abu Atikah Tarif bin Sulaiman yang oleh para Ulama ahli hadis dinyatakan sebagai seorang yang gemar memalsukan hadis. Terlepas dari apa kah anjuran ini beredar di kitab hadis palsu atau sebaliknya, bukanlah domain saya untuk mempersoalkannya lebih jauh. Dalam ruang imaji terbatas, saya hanya membayangkan betapa dahsyatnya anjuran ini hingga perlu dibahas dan dikaji dengan serius oleh para ahli periwayat hadis. Kalau toh ternyata berasal dari kutipan sebuah hadis palsu, minimal ia pernah hadir sebagai wacana di zaman para sahabat maupun generasi penerus yang berada di lingkar kehidupan yang tak terlalu jauh dari kisaran zaman saat Nabi Muhammad masih aktif menjalankan tugasnya sebagai Rasul Allah.

Saya yang melakukan pendekatan terhadap ‘anjuran’ Nabi Muhammad ini lewat kacamata kekinian sebagai mahluk sosial budaya, lebih cenderung untuk menjadikannya sebagai sebuah misteri yang sangat menarik. Karena sempat pada zaman perang dingin masih berkecamuk, kehadiran anjuran ini yang oleh para ahli hadis dinyatakan sebagai sabda Nabi versi hadis palsu, langsung saya sepakati dan saya terima penuh dengan pikiran bulat. Mana mungkin negara Komunis dijadikan rujukan. Begitu tentunya pola pikir yang wajar dari seorang remaja seperti saya pada masa-masa perang dingin berkecamuk. 

Namun melihat perkembangan Cina belakangan ini, di satu sisi, dan realita Amerika hari ini, di sisi lain, benak saya mulai tergoda. Jangan-jangan ada benarnya anjuran Nabi Muhammad. Setidaknya anjuran untuk menuntut ilmu  terus menerus walau sampai harus belajar ke negeri Cina, bukanlah anjuran dari Nabi yang tanpa alasan.Tidak terbayangkan oleh saya akan betapa kacaunya pikiran, dan bahkan iman saya pasti terancam goyah bila negeri yang dijadikan rujukan oleh Nabi Muhammad adalah negerinya paman Sam, Amerika. Tentunya Amerika plus Donald Trump.

Pelajaran jenis apa yang saya bisa kita petik dari peradaban sosial politik ala Amerika hari ini? Kecuali memandangi dengan penuh keprihatinan potret dari sebuah peradaban (sosial politik) yang berjalan mundur ke belakang. Sehingga ketika wajah kita hadapkan ke depan menatap Amerika hari ini, yang tampak bermunculan adalah kejayaan masa lalu dan kumpulan orang-orang kalah yang masih saja menepuk dada seakan mereka lah harapan dan masa depan. Sebaliknya ketika wajah kita palingkan menatap negeri Cina, yang tampak menjulang adalah pancaran sinar aura positif. Sumbernya berasal dari wajah-wajah bercahaya para pemimpin dan rakyatnya yang bersukacita dalam kemenangan membangun peradaban manusia modern yang berkepribadian, sebagai masyarakat sebuah bangsa yang berkebudayaan. 

Itulah sebabnya, mengapa saya bercuriga bahwa Nabi Muhammad setidaknya pernah menyinggung negeri Cina dalam salah satu dakwah beliau. Asumsi ini berdasarkan keyakinan saya bahwa Nabi Muhammad pastilah seorang futurolog tanpa tandingan. Karena beliau adalah rasul Allah terkasih dan nabi terakhir yang diutus Allah untuk membuka mata hati, pikiran, batin, dan iman umat manusia sedunia. Pada dirinya yang ada hanya kebenaran! Salah satu kebenaran yang saya tangkap hari ini, adalah anjuran yang memilih negeri Cina untuk kita jadikan tempat menimba ilmu. Dan seluas apakah ilmu yang harus kita tuntut di negeri tirai bambu ini? Biarlah waktu yang menjawabnya.

Ketertarikan saya hanya untuk mempertegas pilihan bahwa ketika memilih role model dalam upaya mebangun masyarakat masa depan yang berpengharapan, belajar ke negeri Cina bukan lah pilihan yang salah. Akan sama sekali salah bila anjuran ini direduksi menjadi anjuran untuk belajar kepada para cukong-konglomerat (hitam) lokal yang tentunya justru hanya akan menularkan peradaban serba serakah dan serba eksklusif, serba hanya untuk kalangan sendiri!

Pertanyaan pengantar untuk direnungkan; mau belajar apalagi dari Amerika? Dari mereka, kita sudah belajar bagaimana membangun kemenangan semu dalam kekalahan substansial sepanjang sejarah Orde Baru berkuasa. Haruskah kita mengulanginya lagi? Untuk menjawab pertanyaan ini, tuntutlah ilmu bila perlu sampai ke negeri Cina!

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI