Membangun Ekonomi Kerakyatan Bermartabat
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 04 August 2020 13:30
Watyutink.com – Idul Adha baru berlalu. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari perayaan hari besar yang menjadi legacy Nabi Ibrahiim AS itu. Berkurban merupakan ibadah ruhiyah untuk meningkatkan derajat ketaqwaan, tetapi di balik itu hari besar keagamaan ini sarat dengan makna sosial dan ekononi.

Ibadah kurban mempunyai makna sosial yang sangat tinggi dibandingkan dengan ibadah murni lain yang sulit diterjemahkan kemanfaatan sosialnya. Ia mencerminkan ibadah ruhiyah sekaligus ibadah sosial dalam satu kesatuan yang utuh.

Proses penyembelihan, pengulitan, pemotongan, pengemasan hingga pendistribusian daging kepada masyarakat yang berhak menjadi momen untuk saling berinteraksi, memperat ikatan sosial, dan meningkatkan kepedulian kepada sesama.

Sementara itu, makna ekonomi dari ibadah berkurban adalah berkembangnya ekonomi kerakyatan berbasis peternakan dan pertanian. Para petani dan peternak di daerah-daerah menjadikan domba, kambing, sapi, dan kerbau sebagai hewan ternak favorit yang menjadi sarana investasi dan sumber penghasilan. Idul adha merupakan momentum yang ditunggu-tunggu untuk menjual ternaknya.

Setiap tahun kebutuhan akan hewan kurban terus meningkat, kecuali tahun ini terjadi penurunan akibat pandemi Covid-19.  Jumlah ternak kurban pada tahun ini yang dipotong secara nasional diprediksi mencapai 1,8 juta ekor, dengan rincian domba 392.185 ekor, kambing 853.212 ekor, kerbau 15.653 ekor, dan sapi 541.568 ekor.

Jumlah hewan kurban yang dipotong tersebut berasal dari stok hewan kurban lokal yang diperkirakan sebanyak 2,163 juta ekor, terdiri dari domba sebanyak 470.622 ekor, kambing 1 juta ekor, kerbau 18.784 ekor, dan sapi 649.881 ekor.

Jumlah ini sebenarnya jauh dari kebutuhan. Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar dunia seharusnya memerlukan lebih banyak lagi hewan kurban. Penduduk Indonesia yang beragama Islam pada 2020 diperkirakan mencapai 229,62 juta jiwa. Jika 10 persen saja penduduk muslim berkurban maka dibutuhkan sedikitnya 23 juta hewan ternak atau 10 kali lipat dari stok hewan kurban nasional.

Potensi pasar yang besar ini merupakan peluang meningkatkan produksi hewan ternak. Rakyat bisa dilibatkan dalam pengembangannya sehingga kesejahteraan mereka ikut terangkat. Apalagi budidaya ternak memiliki efek berantai yang luas.

Di desa  selama ini dikenal istilah ngegaduh, suatu transaksi antara pemilik hewan ternak  dan pengangon –orang yang memelihara hewan ternak--berbagi manfaat. Pemilik sapi, misalnya, menyerahkan pemeliharaannya kepada pengangon. Selang beberapa waktu, misalnya tiga tahun, sapi tersebut dijual dan keuntungannya dibagi dua.

Pengangon yang tidak memiliki kapital mendapat penghasilan dari jasa pemeliharaan hewan ternak, sementara pemilik modal tidak perlu repot-repot menyediakan lahan, pakan, dan memeliharanya. Dia tinggal memetik hasil dalam beberapa waktu kemudian.

Kearifan lokal sepert ini bisa dikembangkan ke tingkat nasional.  Pemerintah harus menyusun kebijakan peningkatan produksi hewan ternak untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kerakyatan. Para petani dan peternak di daerah-daerah dimobilisasi untuk  membudidayakan hewan ternak.

Sebagaimana halnya zakat, infak, sedekah, dan wakaf, kurban memiliki kekuatan penggerak ekonomi, sepanjang dikelola dengan baik. Sayangnya belum ada badan resmi yang mengelola kurban. Berbeda dengan zakat dan infaq yang sudah memiliki lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Infaq & Sedekah (Bazis), dan waqaf yang dikelola Badan Wakaf Indonesia. Bahkan tidak ada koordinasi antarlembaga dalam melaksanakan kurban.

Jika ada lembaga yang khusus mengelola kurban maka akan dapat diperoleh data menyangkut daerah pemasok hewan kurban, daerah yang banyak melakukan kurban, distribusi daging, daerah yang belum tersentuh pembagian daging kurban, profil pengurban, berapa rata-rata orang berkurban, profil penerima kurban, dan data terkait lainnya. Informasi ini sangat berguna dalam mengukur sekaligus meningkatkan dampak ekonomi dan sosial berkurban.

Pengelolaan kurban melalui manajemen yang  baik akan dapat mengembangkan ekonomi kerakyatan. Jika diasumsikan seorang pengorbankan mengeluarkan dana Rp3 juta dikalikan dengan 10 persen saja dari jumlah umat Muslim Indonesia atau sekitar 23 juta orang maka dana yang berputar mencapai Rp69 triliun.

Sangat disayangkan jika ibadah kurban hanya berhenti pada pembelian, penyembelihan, dan distribusi, setelah itu selesai. Ia harus menjadi strategi dalam mengembangkan ekonomi kerakyatan yang bermartabat, yang berjalan di atas kekuatan ‘dari rakyat untuk rakyat oleh rakyat’. Dengan begitu, rakyat tidak hanya merasakan lezatnya daging tetapi juga merasakan gurihnya kue ekonomi ibadah kurban.  

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF