Meneropong Magiconomics Indonesia
Anthony Budiawan
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/ watyutink.com 17 January 2020 10:00
Watyutink.com - Magiconomics adalah istilah kebijakan ekonomi yang kadang dapat mematahkan teori ekonomi pada umumnya. Magiconomics Indonesia adalah kebijakan ekonomi abracadabra yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini.

Menurut teori ekonomi umumnya, kurs mata uang tergantung dari kinerja neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan. Kalau neraca perdagangan defisit, apalagi neraca transaksi berjalan juga defisit, maka kurs mata uang akan terdepresiasi, alias melemah. Melemahnya kurs ini sangat penting agar harga barang (dan jasa) dalam negeri menjadi lebih murah dan lebih kompetitif di pasar internasional. Yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan ekspor dan mengurangi impor, dan membuat neraca perdagangan membaik, dan defisit menjadi surplus.

Magiconomics Indonesia dapat mematahkan teori tersebut. Defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan tidak membuat rupiah tergelincir. Kondisi ekonomi 2019 dapat dikatakan stagnan. Pertumbuhan ekonomi berkutat di sekitar 5 persen. Lebih rendah dari 2018. Perdagangan internasional 2019 terkontraksi. Ekspor turun 6,94 persen, dari 180 miliar dolar AS (2018) menjadi 167,5 miliar dolar AS (2019). Impor turun lebih tajam, 9,5 persen, dari 188,7 miliar dolar AS (2018) menjadi 170,7 miliar dolar AS (2019). Neraca perdagangan 2019 masih defisit 3,2 miliar dolar AS.

Neraca transaksi berjalan 2019 juga defisit. Bahkan lebih besar dari 2018. Per akhir September 2019, neraca transaksi berjalan defisit Rp22,5 miliar dolar AS, sedikit meningkat dari periode sama 2018 dengan defisit Rp21,3 miliar dolar AS. Dalam kondisi seperti ini, rupiah seharusnya terdepresiasi. Agar harga barang (dan jasa) di Indonesia relatif menjadi lebih murah, dan neraca perdagangan dapat berbalik menjadi surplus.

Dan ini terjadi di 2018. Neraca perdagangan dan transaksi berjalan 2018 juga defisit. Dan, rupiah sepanjang 2018 terdepresiasi Rp933, dari Rp13.548 per dolar AS pada akhir 2017 menjadi Rp14.481 per dolar AS pada akhir 2018. Bahkan rupiah sempat terperosok ke Rp15.253 per dolar AS pada 11 Oktober 2018. Sejak itu, Magiconomics Indonesia mulai diterapkan lebih agresif. Hanya dalam waktu sekitar dua setengah bulan, rupiah berhasil menguat dari Rp15.253 menjadi Rp14.481 per dolar AS. Dan penguatan rupiah ini berlanjut di 2019, menjadi Rp13.901 per dolar AS.

Pencapaian ini berkat Magiconomics. Modusnya sangat sederhana. Hasilnya cukup membanggakan. Rupiah berhasil menguat tajam meskipun dalam kondisi triple defisit (defisit anggaran, defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan). Oleh karena itu, penemunya patut mendapat penghargaan dunia. Dan ternyata memang dapat penghargaan dunia berkali-kali.

Modus Magiconomics sangat sederhana. Pemerintah hanya perlu menyediakan surat utang negara (SUN) untuk membuat neraca pembayaran, atau Balance of Payment (BoP), menjadi surplus. Artinya, cadangan devisa naik.

BoP menjadi surplus kalau neraca finansial (yaitu, investasi langsung (PMA) dan investasi portfolio) mengalami surplus yang lebih besar dari defisit transaksi berjalan. Dalam hal ini, rupiah akan menguat. Kalau neraca finansial tidak cukup untuk menutupi defisit transaksi berjalan, artinya BoP masih defisit, maka Magiconomics segera diaplikasikan. Dalam hal ini, pemerintah menyediakan tambahan SUN, yang harus dibeli asing, untuk membuat BoP menjadi surplus dan cadangan devisa naik. Tambahan SUN ini dinamakan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran). Artinya, Instrumen kebijakan Magiconomics untuk membuat rupiah menguat dilakukan melalui kebijakan fiskal, dicapai melalui doping. SiLPA ini naik terus. Dari Rp22,2 triliun (2014) menjadi Rp36,2 triliun (2018), dan Rp52,1 triliun pada akhir November 2019.

Apa dampak Magiconomics bagi perekonomian nasional?

Pertama, rupiah yang menguat membuat harga barang dalam negeri menjadi kurung kompetitif. Dan harga barang luar negeri relatif menjadi lebih murah. Dampaknya, ekspor bisa semakin terpuruk, dan impor bisa naik. Untuk menjaga impor tidak naik, dilakukan berbagai upaya menghambat impor, yang mungkin saja bisa berdampak negatif. Yang paling umum, misalnya, larangan impor atau pembatasan impor melalui pemberian izin kuota impor.

Kedua, bagi eksportir, bagai jatuh tertimpa tangga. Terutama eksportir komoditas. Harga dalam dolar turun, dan penerimaan dalam rupiah juga turun akibat rupiah menguat.

Terakhir, sihir Magiconomics hanya bisa bertahan selama asing masih mau membeli SUN yang jumlahnya semakin lama semakin besar. Salah satu caranya dengan memberi bunga tinggi. Lebih tinggi dari negara tetangga. Kalau kekuatan sihir Magiconomics meredup, dampaknya bisa mengagetkan. Bisa lebih dahsyat dari ledakan gunung berapi atau tsunami. Pemicunya, gagal bayar korporasi, baik swasta maupun BUMN. Jiwasraya bisa menjadi salah satu pemicu. Mungkin Asabri? Atau BUMN Karya yang katanya sudah agak kelimpungan?

Lalu, siapa yang diuntungkan oleh Magiconomics? Tentu saja debitur dalam mata uang asing. Utangnya dalam rupiah menjadi lebih kecil. Sehingga mereka bisa utang lebih banyak lagi.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Krisis APBN Kian Mendekat

24 February 2020

Indonesia Bubar

21 February 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF