Menu Asian Games, Nasib Bumbu Rempah
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
12 August 2018 09:00
Dapatkah dibayangkan bagaimana menyediakan makanan dan minuman, dengan aneka ragam dan rasa, untuk ajang olah raga terbesar setelah Olimpiade? Asian Games 2018 yang digelar di Indonesia 18 Agustus sampai 2 September diikuti oleh 15.000 atlet dari 45 negara yang bertanding di 40 cabang olahraga. 
 
Selama Asian Games nanti, atas persetujuan Olympic Council of Asia, disediakan menu sarapan sebanyak 127 jenis serta menu makan siang dan makan malam sebilangan 142 jenis. Semua makanan harus tinggi protein agar para atlet dapat tetap menjaga kekuatan otot mereka selama bertanding.
 
Bagi sebagian besar makanan Asia, menurut Heni Pridia dari Akademi Kuliner Indonesia, bumbu dan rempah merupakan pencipta rasa. Bumbu dan rempah yang digunakan dalam makanan Asia cukup beragam, tetapi yang dominan adalah bawang putih dan jahe. Keduanya umum ditemui baik di dapur orang Asia Selatan (India, Pakistan, Sri Lanka), Asia Timur Laut (Jepang, Tiongkok, Korea), Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, Vietnam), Asia Barat (Uni Emirat Arab), dan Asia Utara (Tajikistan, Kyrgyzstan, Uzbekistan).  

Selain bawang putih dan jahe, cabai juga sering ditemui di banyak masakan Asia meskipun cabai sebetulnya bukan tanaman asli daerah ini. Pemakaian bumbu rempah di masakan Asia, jelas Heni, menciptakan adanya pertukaran budaya antar individu, antar komunitas, bahkan antar masyarakat. 
 
Para peneliti mendefinisikan bumbu sebagai bagian dari tanaman yang dapat digunakan baik basah maupun kering.  Sedangkan rempah merupakan produk nabati aromatik yang dikeringkan, termasuk kulit, rimpang, kuncup, bunga, buah dan biji.  
 
Masakan Indonesia yang disajikan di Asian Games nanti termasuk nasi rawon, nasi tongseng, empal gentong, bakwan Malang dan soto mie dari Pulau Jawa. Dari Pulau Sumatera ada empek-empek sedangkan dari Pulau Sulawesi ada kuah Bugis yang dimasak dengan 30 jenis bahan, bumbu dan rempah.
 
Ironisnya, produksi berbagai tanaman bumbu dan rempah kini terancam oleh perubahan iklim. Situasi seperti banjir, longsor dan hujan, menghancurkan tanaman dan mempengaruhi pasokan bumbu dan rempah.
 
Dr. Prihasto Setyanto, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat di Kementerian Pertanian, menjelaskan bahwa musim kemarau basah pada tahun 2016 berdampak terhadap produksi bawang merah dan aneka cabai di awal tahun 2017. Harga cabai saat itu melonjak sampai Rp150.000 per kg, dan bawang merah mencapai Rp50.000 per kg. Oleh karena itu, perlu dicari teknologi budidaya aneka cabai dan bawang merah yang adaptif terhadap perubahan iklim.
 
Peneliti dari India, Suddhasuchi Das dan Amit Baran Sharangi, menulis tentang Dampak Perubahan Iklim terhadap Tanaman Rempah. Suhu tinggi menyebabkan lonjakan pengelupasan lada hitam, dan musim kemarau yang berkepanjangan mengurangi penyerbukan bunga kapulaga. Curah hujan tinggi dan kelembaban mengundang hama di tanaman rempah biji seperti, ketumbar, jinten, dan klabet yaitu rempah untuk memasak kari. 
 
Menyikapi perubahan iklim, dengan melaksanakan pertanian cerdas iklim seperti pertanian organik, pengendalian erosi, penggunaan kalender tanam, dan irigasi berselang, dapat menyelamatkan nasib bumbu dan rempah dari kepunahan. 
 
Ketua Negeri Rempah Foundation, Kumoratih Kushardjanto, memastikan ada sekitar 500 jenis tanaman yang telah dikenal sebagai rempah. Di Asia Tenggara saja, jumlahnya mendekati 275 jenis. Asian Games, lanjutnya, merupakan gelanggang perekat persaudaraan melalui olahraga, namun para atlet juga serempak merayakan kemajemukan melalui common heritage mereka, yaitu kuliner dengan beragam bumbu dan rempah.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Polisi Tunduk Pada Hukum             Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?