Meramaikan Hari Hutan Indonesia
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 08 August 2020 10:00
Watyutink.com - Swary Utami Dewi merasa sebagai seseorang yang disayang oleh alam semesta. Dalam kapasitasnya sebagai penggiat perhutanan sosial, perempuan Dayak Ngaju ini sudah mengunjungi kawasan hutan seluruh Provinsi di Indonesia dan bertukar pikiran di hampir 500 Kabupaten dan Kota.

Di Provinsi Gorontalo, Zainal Monoarfa, seorang pendamping komunitas pedesaan, fokus bergiat di Dulamayo, sebuah kawasan hutan di atas awan. Ketinggiannya sampai 1300 meter dari permukaan laut, bersuasana sangat sejuk dengan kicau burung yang acap bersahut-sahutan.

Pengalaman Swary dan Zainal dalam berkunjung ke kawasan hutan dan berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya seharusnya tidak sulit dirasakan oleh siapapun yang berminat, karena sebagian besar hutan di Indonesia merupakan hutan hujan tropis, dengan keadaan lembab, tanah kering di daratan, dan selalu hijau.

Indonesia menetapkan 63 persen dari seluruh wilayah daratannya, seluas 120,6 juta hektar, sebagai Kawasan Hutan. Sebagian besar wilayah daratan yang tersisa merupakan lahan publik non-hutan, yang dikenal sebagai Areal Penggunaan Lain.

Hukum Indonesia mendefinisikan hutan sebagai  suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya. Sedangkan “Status Hutan dan Kehutanan Indonesia 2018” menggunakan pengertian hutan sesuai dengan definisi kerja, yaitu suatu areal lahan lebih dari 6,25 hektar dengan pohon-pohon lebih tinggi dari 5 meter pada waktu dewasa dan tutupan kanopi lebih dari 30 persen.

Hutan memberikan manfaat yang berlimpah ruah bagi manusia, karenanya dimulai tahun 2020, setiap tanggal 7 Agustus diperingati sebagai Hari Hutan Indonesia. Ini untuk mengingatkan masyarakat pada keindahan dan kekayaan hutan Indonesia, serta manfaatnya seperti, air dan udara bersih, sumber pangan dan obat-obatan, akar budaya berbagai suku bangsa Indonesia, hingga fungsi hutan sebagai penyerap karbon.

Di minggu pertama bulan Agustus ini, sekitar 150 organisasi masyarakat sipil/komunitas anak muda, atau disebut Kolaborator, dan ratusan sukarelawan digital meramaikan platform media sosial untuk mengajak publik luas merayakan Hari Hutan Indonesia sehingga dapat  menumbuhkan dan meningkatkan rasa cinta pada hutan.

Harta alam Indonesia, termasuk hutannya, dapat dipelajari dari “Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan 2015-2020,” yang mencatat bahwa negara ini memiliki 1.605 jenis burung, 723 jenis reptil, 385 jenis amphibi, 720 jenis mamalia, 1.248 jenis ikan air tawar, 197.964 jenis invertebrata, 5.137 jenis arthropoda, serta 181.847 jenis serangga.

Dalam dunia flora, Indonesia tercatat memiliki 91.251 jenis tumbuhan berspora, 120 jenis tumbuhan berbiji terbuka, serta sekitar 30.000-40.000 jenis tumbuhan berbunga.

Tema Hari Hutan Indonesia tahun ini adalah #HutanKitaJuara untuk mengingatkan bahwa Indonesia adalah bangsa juara. Salah satunya karena hutannya yang terluas ketiga di dunia.

Panitia Hari Hutan Indonesia menyarankan promosi hari tersebut melalui kegiatan berdasarkan minat dan kegemaran masyarakat. Paling mudah melalui posting di berbagai media sosial dengan konten terkait yang telah disediakan. Pesan untuk mengenal, menyayangi, dan menjaga hutan juga dapat disebar luaskan melalui karya seni seperti puisi, dongeng, lukisan, dan musik.

Pencinta kuliner melakukan kegiatan, seperti acara yang mengajak pelaku UMKM “Meracik Kuliner Gorontalo dari Hasil Hutan.” Masakan yang disajikan oleh Zahra Khan pemilik usaha kuliner Goronto menggunakan sagu, pakis, ubi hutan, kelapa, madu, pahangga (gula aren) serta daun-daunan dari kawasan hutan dengan berupaya mengurangi limbah makanan. Sedangkan Nurhikmah Biga, pemilik The Wave Roastery membuat ragam racikan kopi dari kawasan hutan di Gorontalo dengan berbagai campuran seperti jahe dan pahangga.

Bangsa yang baik pasti tanpa berpikir panjang akan selalu menjaga hutan dan keanekaragaman hayatinya. Hal ini dapat dimulai dari diri sendiri, maupun dilakukan secara gotong royong, agar lebih banyak lagi warga seperti  Zainal, Zahra, Nurhikmah, dan Swary yang sayang pada Hutan Indonesia.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF