Mungkinkah Gerakan Lingkungan dari Rumah?
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 04 April 2020 10:00
Watyutink.com - Hari Bumi yang dirayakan setiap 22 April secara global, diikuti oleh sekitar satu miliar penduduk dunia melalui kegiatan kampanye lingkungan, demo terhadap pencemaran, menanam pohon, bersih-bersih kota, dan menetapkan komitmen untuk menjaga bumi.

Karena adanya  pandemi COVID-19, maka peringatan setengah abad Hari Bumi tahun ini, dengan tema “Climate Action,” akan dirayakan secara digital. Jutaan orang di seluruh dunia siap online selama tiga hari untuk ikut dalam berbagai kegiatan seperti mengajar, menonton pagelaran musik, dan banyak lagi.

Mungkinkah Gerakan Lingkungan baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional dilaksanakan dari rumah dengan platform yang ada?

Dalam memperingati Hari Hutan Internasional, misalnya, 8 organisasi mengadakan 3 sesi webinar digital melalui @america, Pusat Kebudayaan Amerika di Jakarta. Dengan sejumlah narasumber muda piawai, acara dengan ratusan pemirsa dari berbagai daerah di Indonesia ini membicarakan “Jobs for Nature,” bagaimana membangun karier yang ideal sekaligus melindungi alam dan lingkungannya. Beragam topik diulas, termasuk ilmu data dan komunikasi melalui web portal dan film, serta suka duka bekerja di organisasi lingkungan, kantor pemerintah dan swasta.

The Climate Reality Project, sebuah organisasi global dengan 20.000 relawan di 155 negara, termasuk Indonesia, berpendapat bahwa meskipun warga berdiam di rumah untuk mencegah penyebaran virus, masih banyak yang dapat dilakukan untuk advokasi  bagi masa depan yang lebih baik, lebih sehat, dan berkelanjutan.

Kegiatan online dapat dilakukan dengan menandatangani petisi, berpartisipasi dalam acara digital, atau menyatakan dukungan di media sosial. Selanjutnya, mendukung bisnis hijau dengan membeli produk ramah lingkungan ataupun menyumbang proyek yang ramah iklim. Hal paling utama adalah menerapkan gaya hidup ramah lingkungan seperti hemat air dan energi, atau berkebun sayur tanpa pestisida.

Aktivitas lainnya dilaksanakan oleh GreenFaith, koalisi global lintas agama untuk lingkungan hidup. Kini, setiap minggunya mereka mengadakan pertemuan komunitas lintas agama secara online. Peserta saling memberi perhatian dan kiat bertahan dalam pandemi sambil tetap menjaga lingkungan, diiringi jeda spiritual dari keadaan yang memang mencemaskan.

Apa saja tantangan maupun kiat menyelenggarakan pertemuan online? Gita Syahrani, Direktur Eksekutif Lingkar Temu Kabupaten Lestari, sebuah Forum Kolaborasi Kabupaten untuk Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia, mengatakan kunci sukses adalah koordinasi, mobilisasi dan persistensi.

Menurut Gita, yang kerap menjadi narasumber acara digital, pertemuan dengan cara seperti itu belum lazim diadakan, dan banyak yang meragukan efektivitasnya. Ditambah lagi dengan banyaknya acara digital pada waktu yang bersamaan.

Karenanya, disamping promosi acara dengan penyebaran luas, diskusi yang dilaksanakan harus atraktif dan interaktif dengan pembagian waktu dan peran antara moderator, narasumber dan para pemirsanya agar tidak ada yang mendominasi acara.

Bagaimana untuk mereka yang gagap teknologi atau bahkan tidak memiliki akses internet namun ingin juga melestarikan lingkungannya?

Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, mengirimkan  selebaran kepada seluruh jaringannya di Indonesia.

Selebaran dengan judul “Keluarga Tangguh Cegah Covid-19 ” itu berisikan beberapa petunjuk. Pertama, gerakan keluarga sehat, yaitu melakukan hidup sehat dengan selalu mencuci tangan, menjaga jarak fisik, menggunakan masker dan hal penting lainnya. Kedua, gerakan keluarga hijau, dengan mengurangi sampah, mendaur ulang, serta menanam sayuran di rumah. Ketiga, keluarga cerdas logistik, dengan menyimpan dan mengawetkan bahan pokok seperti ubi, jagung, dan beras maupun lauk seperti kering tempe dan abon. Keempat, keluarga peduli dan berbagi, dengan memperkuat hubungan dan kepedulian kepada sesama, dan memberikan bantuan kepada warga yang terdampak.

Gerakan Lingkungan dari Rumah sangatlah mungkin untuk diwujudkan, namun pegiat harus meningkatkan kreativitas guna identifikasi ragam aktivitas yang dapat dilakukan tanpa internet, dengan tetap menjaga jarak dalam kebersamaan.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF