Negeri Surganya Delusi
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 20 January 2020 10:00
Watyutink.com - Ini baru berita! Di kota Purworejo, Jawa Tengah, telah berdiri sebuah Keraton Agung Sejagat. Ada Raja dan permaisurinya. Juga para petinggi ‘kerajaaan’, plus para punggawa keraton yang tampil lengkap berseragam layaknya laskar sebuah kerajaan. 

Aparat keamanan bereaksi. ‘Teater rakyat’ dengan lakon ‘Kerajaan Agung Sejagat’, dinyatakan sebagai suatu gelaran pertunjukan yang ‘berbahaya’. Seakan lebih berbahaya ketimbang organisasi berbasis agama yang jelas-jelas anti Pancasila. Maupun para koruptor, pejabat pelaku korupsi yang gentayangan malang melintang selama ini, hampir di setiap kementerian maupun institusi negara yang ada di negeri ini.

Raja dan ratu Kerajaan Agung Sejagat pun segera diciduk. Alasan penangkapan sangat klise walau cukup alasan, ada unsur penipuan! Para petinggi eks Keraton Agung Sejagat dan ratusan punggawa pun, seketika kembali menjadi rakyat biasa. Mereka kehilangan mimpi indah yang beberapa bulan terakhir sempat membuat mereka merasakan hidup sebagai manusia yang bermartabat di bumi Nusantara ini.

Belum lagi ketercengangan masyarakat seputar pentas ‘teater rakyat’ Keraton Agung Sejagat ini pudar, masyarakat kembali dikejutkan oleh berita yang tak kalah sensasionalnya. Di Jawa Barat, Kecamatan Parung Ponteng, Tasikmalaya, juga telah berdiri sebuah Kasultanan baru. Kerajaan yang satu ini bernama Kasultanan Selaco alias Selacau Tunggal Rahayu. Sebutan lain yang mereka sengaja canangkan adalah The Earth Empire.

Menyaksikan ulah para petinggi dan punggawa Kasultanan Selaco maupun Keraton Agung Sejagat, kehadiran mereka sangat kental mewakili masyarakat di negeri ini yang selama ini telah terperangkap dalam delusi yang sempurna. Hal mana hanya mungkin terjadi dalam kehidupan di sebuah negeri yang kaya akan delusi. Di mana para pemimpinnya cenderung sangat akrab dengan perilaku delusional.

Sehingga bagi saya sangat aneh bila ada reaksi berlebihan. Bukankah kita tengah melihat wajah kita sesungguhnya di sebuah kaca besar yang selama ini sengaja diburamkan. Masyarakat dibiarkan lama hidup di sebuah negeri di mana kaca untuk melihat diri sendiri sulit didapat dan nyaris punah. Hanya kaca buram yang memantulkan delusi tersedia di mana-mana.

Bila memang tersedia kaca yang normal dan berfungsi sebagai kaca yang memantulkan gambar wajah asli kita, silahkan coba. Minta saja sejumlah pejabat sipil maupun militer di negeri ini berdiri di depan kaca. Suruh mereka bertanya pada tampilan diri sendiri di dalam kaca..; bagaimana saya sebagai pejabat tinggi yang penghasilan resminya per bulan tak lebih dari 40 juta, dapat memiliki rumah mewah, kendaraan mewah, menyekolahkan anak di universitas mewah di luar negeri...??? dan seterusnya. 

Hal yang sama coba mintakan seluruh pegawai negeri di negeri ini yang mampu dan bisa hidup mewah. Hidup berlebih dari ukuran penghasilan perbulan yang mereka terima. Karena berdasarkan hitungan matematika tanpa manipulasi, untuk bertahan hidup sebulan dalam batas kewajaran saja, sudah sangat sulit. Hanya mereka yang beriman taqwa tinggi yang berhasil lolos dari jebakan maut yang selama ini terpelihara dan dihadirkan untuk memproduksi dosa struktural. 

Kehidupan yang koruptif pun menjadi tak terelakan. Terutama justru di hampir seluruh institusi negara. Sehingga kehidupan dan praktik hidup yang koruptif dianggap sebagai hal biasa. Pejabat tinggi negara atau seorang Jenderal dengan rumah megah harta berlimpah, tak menjadi masalah yang ditabukan. Bahkan dianggap wajar dan sepantasnya. Dari mana harta mereka dapat, tak menjadi persoalan penting! Pembuktian terbalik sengaja dipeti-es kan.

Yah memang, di negeri yang kaya delusi, antara das Sollen (yang seharusnya) dan das Sein (yang nyata terjadi sekarang) selalu dalam posisi bertolak belakang. Oleh karenanya para petinggi negara sangat mudah membius rakyatnya. Dengan mengumbar janji bahwa esok kehidupan akan indah dan penuh kebahagiaan, rakyat menerima dengan ilusi yang mereka miliki. Ketika secara masif hadir dan berkembang, maka ia berhasil menghadirkan kumpulan masyarakat yang delusional.

Misalnya, cukup dengan menyuguhkan angka-angka keberhasilan di bidang ekonomi, mayoritas rakyat langsung yes and amen mempercayainya. Kelak kita, dalam 3 dekade mendatang, akan menjadi negara lima besar terkuat ekonominya di dunia. Mayoritas rakyat pun tersenyum bangga penuh harap. Padahal kehidupan sehari-hari yang mereka jalankan, penuh luka dan duri ekonomi yang sakitnya sangat terasakan saat mereka berjalan dalam kehidupan nyata. 

Juga ketika rakyat diberi dolanan ilusi dengan memompa masalah Bonus Demografi yang bakal membuat kita lebih berpeluang menjadi negara digdaya. Pekerja dengan kriteria umur produktif akan melimpah ruah. Tidak seperti Jepang dan negara barat yang pertumbuhan demografinya stagnan, sehingga tiga dekade mendatang dipenuhi kelompok masyarakat nonproduktif. Banyak kaum tuwek dan miskin tenaga muda produktif. 

Mendengar uraian ini, kembali mayoritas masyarakat pun tersenyum lebar penuh harap. Tanpa mempersoalkan, dalam realita hari ini, melimpah ruahnya kaum muda yang mayoritas minim pendidikan, nonskill, dengan mental koruptif, reaktif, destruktif, bukannya malah menjadi beban negara ke depan (liabelity)?

Juga dalam hal perpindahan ibu kota yang konon sudah dirancang dengan baik. Sehingga  dipastikan nilai positif dan berkahnya kelak akan dirasakan oleh anak cucu bangsa ini ke depan. Sebuah harapan dan mimpi rakyat yang digelar di atas tanah gambut dan bersarangnya jutaan ton batubara di dalam hamparan tanah calon ibu kota negeri. 

Hal ini saya ketahui berdasarkan hasil riset dari lembaga resmi negara di bawah Kementrian ESDM. Begitu ujar pemimpin institusi yang saat itu menjabat sebagai petingginya. Jadi bukan hal yang mengada-ada (hoax) dan dalam upaya menyalahkan penguasa, apalagi Presiden.

Saya resah karena masyarakat yang terbutakan akan kenyataan ini, kompak mengamini para petinggi negeri yang kebanyakan terjangkit wabah delusioner. Rakyat menjadi tak berani secara kritis menanyakan nilai pembangunan yang bakal berlipatganda harganya dalam hitungan ekonomi. Menjadi sangat mahal ketika bangunan dipaksakan tegak berdiri di atas tanah gambut dan yang memendam miliaran ton kandungan batubara di dalamnya.

Tentunya banyak lagi hal yang bisa diajukan sebagai bukti bahwa negeri kita ini telah lama menjadi surganya dilusi. Kalo tidak begitu, tak akan terjadi peristiwa sejenis skandal Jiwasraya, Century, BLBI dan lain-lain; heboh OTT kasus suap KPU oleh kader partai penguasa yang masih menyimpan misteri; permusuhan berkelanjutan antara pendukung 1 dan 2, serta lain-lainnya yang masih banyak lagi!

Jadi terhadap kasus Kerajaan Agung Sejagat dan Kesultanan Selaco, seperti pitutur pinisepuh tanah Jawa, kita sebaiknya...,Ora usah gumunan lan kagetan, nek mlaku wudho ning ratan wes dianggep bioso, ora saru lan keliru! Terjemahan bebasnya.., Kita gak perlu lagi kaget dan terheran-heran karena  dalam keseharian sudah terlalu banyak orang telanjang berjalan di jalan raya; dan itu dianggap hal biasa, bukan hal yang memalukan dan tdak salah!

Nah, bagi yang percaya pada hukum alam; terhadap para petinggi  yang menjadikan negeri ini surganya delusi, biarkan nanti alam yang akan menelanjangi mereka, satu persatu! Dan masih ada satu lagi; hukum illahi!

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Krisis APBN Kian Mendekat

24 February 2020

Indonesia Bubar

21 February 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF