Nicholas Saputra, Bintang Pandai Paviliun Indonesia
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com) 14 December 2019 10:45
Watyutink.com - Paviliun Indonesia di COP 25, Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim, di Madrid telah berakhir dengan sukses, menyelenggarakan 43 sesi acara dengan 207 pembicara dari dalam dan luar negeri.

Tokoh terkemuka dunia yang tampil di Paviliun Indonesia adalah Lord Nicholas Stern, Profesor dari London School of
Economics; Profesor Jeffrey Sachs, dari Columbia University; dan Al Gore, Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat dan Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian. 

Sebagai bentuk soft diplomacy, menurut Dr. Agus Justianto dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai Ketua Penyelenggara Paviliun Indonesia, berbagai diskusi panel dilaksanakan meliputi segala aspek, mulai dari pegunungan hingga lautan, dari Timur ke Barat, apapun gender dan berapapun usianya,serta dari manapun komunitasnya. Semua berbagi informasi tentang aksi yang dilakukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab krisis iklim. 

Perbincangan yang tidak terlalu teknis namun esensial meliputi kekuatan gerakan keagamaan untuk lingkungan hidup dengan Yenny Wahid sebagai pemakalah utama. Selain itu juga ada sesi, peran perempuan dan generasi muda dalam aksi iklim, dan sesi bercerita untuk komunikasi krisis iklim.

Storytelling to Communicate Climate Crisis diangkat sebagai tema karena bercerita kini dianggap sebagai bagian dari solusi untuk krisis iklim. Alasannya adalah fakta dan data saja tidak cukup sehingga untuk mendapatkan perhatian penuh dan membuat orang mengerti, diperlukan cerita yang menarik dan menggugah.

Guna lebih memahami storytelling, maka penyelenggara mengundang nara sumber dari lingkaran akademisi dan praktisi yang berpengalaman luas.

Nicholas Saputra, aktor ternama Indonesia yang juga aktivis lingkungan, memukau pengunjung dari mancanegara yang memadati Paviliun Indonesia dengan suka dukanya menjadi produser film dokumenter berjudul SEMESTA.

Nico mempertontonkan trailer film produksi Tanakhir Films yang menggambarkan perubahan yang telah terjadi di alam ini melalui perspektif berbagai kepercayaan dan agama di Indonesia. Sutradara Chairun Nissa mengungkapkan tujuh suara dari tujuh komunitas pada tujuh provinsi Indonesia, yang bergiat dalam menyikapi perubahan lingkungan yang mereka hadapi.

Dalam film ini Indonesia diwakili oleh Bali, Kalimantan, Flores, Papua, Aceh, Yogyakarta, dan Jakarta melalui rangkaian praktik  berlandaskan agama dan kepercayaan yang membantu memerangi dampak perubahan iklim.

Nico yang telah berkecimpung selama 18 tahun dalam industri film menjawab pertanyaan mengapa ia tertarik membuat film tentang krisis iklim. Sinema, jelasnya, merupakan alat yang sangat ampuh untuk membawa penontonnya menuju perubahan. Hanya film yang dapat memaku perhatian masyarakat selama lebih dari satu jam melalui permainan emosi.

Dalam beberapa tahun terakhir, tutur arsitek lulusan Universitas Indonesia ini, krisis iklim telah menjadi perhatian utamanya. Tetapi krisis iklim umumnya hanya disuarakan oleh ilmuwan, birokrat, aktivis dan politisi, karenanya ia mencoba mengangkat masalah yang sepertinya abstrak bagi sebagian orang ini dari sisi lain yang menyentuh hati masyarakat Indonesia, yaitu kepercayaan, agama, dan budaya.
 
Pendapat Nicholas Saputra diperkuat oleh Greg Walker, salah satu panelis yang merupakan Profesor di bidang komunikasi dari Oregon State University. Ia mengatakan kisah-kisah tentang lingkungan, termasuk perubahan iklim, dapat sangat menggugah karena berbagai hal. Mereka menggambarkan ikatan yang kuat ke dunia alami serta menawarkan optimisme.

Cerita lingkungan hidup dalam berbagai bentuk menyoroti komunitas, kolaborasi, dan tindakan konstruktif sehingga dapat membuat audiens peduli pada tantangan, dan konsekuensi yang tidak diinginkan.

Pertanyaan dan dukungan silih berganti ditujukan kepada Nicholas Saputra, yang dengan fasih dan pandai menanggapi keingintahuan peserta mancanegara. Nico menutup sesi dengan mengutip salah satu protagonist di film Semesta: ”if you want to make a goodness do not start with financial gain, because that would be the start of disaster.” Jika Anda ingin membuat kebaikan jangan mulai dengan keuntungan finansial, karena itu akan menjadi awal dari bencana.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)