Pandemi, Momentum Mereset Ekonomi Nasional
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 07 July 2020 19:00
Watyutink.com - Dunia usaha tengah mengambil ancang-ancang menyusun model bisnis baru pasca pandemi Covid-19. Langkah ini tidak mudah karena sulit mencari referensi sebagai pijakan karena yang dihadapi adalah keadaan yang benar-benar baru dan tidak pernah dialami sebelumnya.

Namun bagaimanapun dunia usaha harus bangkit, membangun kembali bisnisnya, berdiri di atas reruntuhan ekonomi yang hancur disapu badai pandemi covid-19. Kerusakan yang ditandai oleh penurunan di berbagai sektor ini bisa dilihat dari merosotnya produk domestik bruto (PDB), melemahnya daya, meningkatnya pengangguran, dan naiknya angka kemiskinan.

Kemerosotan ekonomi tergambar dalam deretan angka statistik yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini. PDB Indonesia pada kuartal pertama 2020 hanya tumbuh 2,97 persen, sementara  pada periode yang sama tahun sebelumnya mencapai 5,02 persen.

Bak timbangan ayun, turun di satu sisi pada catatan PDB, naik di sisi lain pada timbangan pengangguran dan kemiskinan. Pandemi Covid-19 telah melambungkan angka pengangguran dengan adanya tambahan 10 juta orang, ditemani kemiskinan yang naik hingga empat persen.

‘Mumpung’ terjadi koreksi terhadap ekonomi secara keseluruhan dengan adanya Covid-19, saatnya Indonesia melakukan transformasi dan me-reset besar-besaran ekonomi nasional. Jalan masuknya melalui agenda pemulihan, namun sesungguhnya merestrukturisasi kembali bangun ekonomi nasional yang tidak sehat, dimana aset nasional dikuasai oleh segelintir golongan saja.

Pilihan me-reset ekonomi menjadi satu keniscayaan, karena banyak sektor ekonomi sudah minus. Untuk memulihkannya kembali harus dibangkitkan dari minus ke titik nol, dan dari titik nol  ditransformasikan menjadi positif.

Ciri utama transformasi ekonomi pascapandemi adalah dominannya peran teknologi informasi. Kemajuan teknologi digital seperti kecerdasan buatan, blockchain, bigdata dimanfaatkan untuk menyederhanakan birokrasi, mempermudah perizinan, mereformasi aturan, dan social distancing.

Teknologi informasi juga membentuk banyak hal mulai dari pengembangan industri 4.0, layanan investasi, ekonomi ramah lingkungan dan berkelanjutan, transformasi digital, infrastruktur, hingga Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Sebagai contoh, lini bisnis Alibaba sukses mengantisipasi pandemi Covid-19 yang muncul mendadak. Perusahaan ini berinisiatif membantu mitra usaha dan konsumennya. Freshippo, jaringan supermarket Alibaba, membangun titik pengambilan dan pemesanan di banyak kompleks permukiman seperti apartemen dan perumahan, menyesuaikan dengan kebijakan penutupan wilayah (lockdown) oleh pemerintah setempat.

Alibaba juga menggunakan platform e-commerce-nya lewat saluran livestreaming. Teknologi ini membantu petani menjual hasil pertaniannya ke konsumen di perkotaan dalam kondisi segar. Dengan bantuan lini bisnis logistik Alibaba, Cainiao, hasil panen dikirim dengan instan ke pelanggan.

Melihat pengalaman Alibaba, pandemi Covid-19 justru menjadi momentum untuk mempercepat transformasi. Di Indonesia, proses perubahan ini sudah mulai nampak dengan semakin meningkatnya penggunaan internet.

Banyak pihak yang mau tidak mau melek internet dan belajar menggunakannya. Program Kartu Prakerja yang menawarkan pekerjaan di sektor-sektor alternatif, misalnya, banyak diminati hingga pelamarnya mencapai 10,4 juta orang. Antusiasme ini akan membantu meningkatkan kompetensi dan daya saing nasional.

Tranformasi yang lebih fundamental ditujukan untuk memajukan UMKM. Pemerintah harus menggunakan kemajuan teknologi informasi untuk memberdayakan UMKM. Usaha gurem ini perlu didorong dan dilibatkan dalam platform e-commerce yang dikembangkan secara independen oleh pemerintah. Digitalisasi UMKM disediakan bagi produsen maupun konsumen, untuk memutus mata rantai rente yang selama ini membonsai mereka.

Begitu juga para pedagang tradisional yang terdampak kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) karena ditutupnya pasar tempat mereka mencari nafkah perlu berdayakan agar mereka dapat bertahan dan bangkit melalui strategi perdagangan ritel baru (new retail) yang memadukan transaksi online dan offline.

Untuk itu perlu edukasi pemanfaatan teknologi digital bagi UMKM, tidak hanya untuk menghadapi  ketidakpastian iklim usaha yang disebabkan antara lain oleh pandemi Covid-19, tetapi sekaligus untuk menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan di masa depan. 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila