Pandemi, Spekulasi, dan Konspirasi
Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 16 July 2021 15:30
Watyutink.com - Pandemi Covid-19 sudah berlangsung satu setengah tahun. Sampai 16 Juli 2021, di seluruh dunia 189.738.910 orang terinfeksi, dan merenggut 4.083.149 nyawa. Di Indonesia 2.726.803 terinfeksi, dan meninggal 70.192.

Dengan korban jiwa yang begitu besar dan seluruh penjuru dunia ikut terkena, masih ada sejumlah manusia bebal yang mempertanyakan faktualitasnya. Menganggap virus Corona cuma kebohongan dan konspirasi jahat. Pandemi juga dipelesetkan menjadi “plandemi” (wabah yang dirancang).

Salah satu orang yang mengigau tentang “kebohongan” Covid-19, dan menjadi populer, adalah dr. Lois Owien. Sosok dokter yang mendadak tenar karena mengungkap opini konspiratifnya tentang wabah Covid. Ia secara naif membongkar “kepalsuan” pandemi Covid-19 versi yang ia pahami. 

Lois Owien mendadak terkenal, dan sepertinya menikmati popularitas sensasionalnya. Merasakan apa yang kerap dinamai “fiften minutes of fame”, ngetop selama lima belas menit. Cuma bermodal nekad, berani lantang beropini kontroversial, tanpa memakai logika nalar.

Saat pandemi mulai bergolak, saya sudah menulis kekonyolan teori konspirasi terkait pandemi Covid-19, di watyutink.com ini pada 24 Maret 2020 (https://www.watyutink.com/topik/berpikir-merdeka/Konspirasi-Virus-Corona). Saat itu masih bisa dipahami jika sebagian orang meyakini teori konspirasi yang aneh dan ajaib. Saat itu korban belum banyak, fakta lapangan belum sepenuhnya terakumulasi, dan belum ada penjelasan yang valid. Spekulasi masih terbuka terkait penyebab dan muasal virus. 

Berikut kutipan beberapa paragraf tulisan saya berjudul “Konspirasi Virus Corona”: Sekadar untuk menunjukkan betapa konyol dan bodohnya cara berpikir spekulatif dan konspiratif:

Virus Corona bukan cuma memicu pandemi yang mengerikan, namun juga menyebarkan “infodemi” yang membingungkan, kalau bukan menjengkelkan. Selain hoax, dan info ngawur, Infodemi yang paling menjengkelkan adalah maraknya teori konspirasi menyangkut asal muasal virus.

Teori konspirasi yang paling populer, virus Corona  adalah “senjata biologis” yang dikembangkan di sebuah laboratorium biologi di Wuhan, China. Teori lainnya menyebut virus itu “dibuat’ di Amerika, dan diam-diam disebarkan oleh militer Amerika di Wuhan untuk memfitnah, atau memerangi, China. 

Kesamaan dua versi konspirasi itu adalah, virus Corona sengaja dibuat di laboratorium sebagai senjata perang (dagang) antara Amerika vs China. Perbedaannya cuma soal siapa yang membuat? Pilihan negara mana yang membuat virus tergantung kecenderungan pemihakan si penyusun atau penyebar konspirasi itu.

Keyakinan penganut teori konspirasi pada narasi virus Corona sebagai medium perang antara Amerika vs China, seolah memiliki dasar “bukti yang kuat”. Antara lain, karena memang sedang ada perseteruan (dagang) antara dua negara adi daya ini. 

“Bukti’ lainnya, insiden pandemi ini sudah “diramalkan” dalam buku novel karya Dean Koontz “The Eyes of Darkness” (TEOD). Situasi yang dikisahkan dalam novel ini, dikesankan begitu “mirip” dengan pandemi yang terjadi saat ini, termasuk yang ajaib virus yang bernama “Wuhan-400”. Novel ini terbit pada 1981, hampir 40 tahun sebelum pandemi Covid-19 mewabah. 

Pertanyaan yang bernuansa haqul-yakin, bagaimana Dean Koontz bisa tahu atau dapat meramalkan sedetil itu? Jangan-jangan virus Corona yang menyerang sejak December 2019 adalah faktual, satu konspirasi yang bocor? Sebuah kemiripan yang "mencengangkan", yang sulit dianggap sebagai kebetulan. Atau jangan-jangan Dean Koonts adalah Nostradamus modern? (Bagi Lois Owien, Ini “membuktikan” bahwa yang terjadi adalah “Plandemi”, wabah yang sudah lama direncanakan).

Penganut teori konspirasi selalu mudah percaya apa saja, enggan menggunakan nalar atau mencari kejelasan untuk menguji keyakinan itu. Padahal, jika sedikit mau “bersusah-susah” membaca novel TEOD sebenarnya ada kejelasan yang gamblang, kemiripan TEOD dengan pandemi Covid-19 cuma dalam satu hal saja: nama Wuhan. Alur kisah lainnya sangat berbeda dengan fakta pandemi Covid-19.

TEOD adalah fiksi populer generik, berbasis pengetahuan generik, yang menjadi semakin menarik, karena kegemaran orang (pembaca novel populer) berkonspirasi, berotak-atik gatuk, untuk memuaskan rasa penasaran bahwa: "tidak ada yang kebetulan di dunia ini." Semua hal harus bisa dijelaskan, dan pasti ada penjelasannya. Tak soal penjelasan itu “ngarang bebas” dan murni karena dorongan atau gangguan hormonal, kalau bukan kejiwaan, akibat gemar berkonspirasi. Atau karena kegagalan menggunakan nalar dan neuron otak secara benar.

Selain novel TEOD, film “Contagion” (produksi 2011) juga diotak-atik-gatukkan dengan Covid-19, sebagai indikasi dan “bukti” bahwa pandemi saat ini memang ulah konspirasi (Amerika). Bagi penggemar film cum penganut konspirasi, sedikit riset bisa menunjukkan terdapat puluhan fim berjudul “Contagion” atau “Contagious” pernah dibuat, dan kurang lebih plot kisahnya sama: pandemi virus atau mikroba.

Pandemi virus memang berbahaya, namun kegetolan ber-otak-atik-gatuk, berkonspirasi, boleh jadi adalah virus pikiran yang tak kalah berbahaya. Virus Corona menyerang paru-paru, virus konspirasi menyerang otak dan cara berpikir. Keengganan menggunakan nalar untuk mencari penjelasan yang lebih valid, lebih ilmiah, dan masuk akal kerap mengalahkan kegetolan mengkonsumsi konspirasi. 

Pada tingkat akut, virus konspirasi menyebabkan manusia gagal membedakan realitas dengan ilusi, fakta dengan fiksi. Dalam situasi krisis saat ini, ketika fakta pandemi virus sedang mewabah di seluruh dunia, cara berpikir konspiratif hanya akan memperburuk situasi. Sikap saling curiga, was-was, dan syak wasangka, bukan cuma menurunkan daya imun kesehatan individu, melainkan juga ketahanan sosial masyarakat. 

Terinfeksi virus Corona jelas buruk, namun yang makin menambah situasi buruk adalah terinfeksi virus konspirasi. Virus Corona cepat atau lambat akan ada obat atau vaksinnya, virus konspirasi tidak ada obatnya. 

Teori konspirasi, seperti yang dimuntahkan oleh Lois Owen, memang hanya menyerang orang yang berpikiran sama. Problemnya bukan pada sosok seperti Lois Owen, selalu ada orang yang mempunyai problem hormonal dan gangguan kejiwaan. Yang lebih penting adalah memastikan daya tahan (imun) nalar publik harus diselamatkan dari spekulasi dan konspirasi.

Saat ini sedang ramai spekulasi ivermectin dan nikotin bisa melawan virus Covid-19. Bagi yang terinfeksi, mungkin masih bisa dimengerti, untuk mencoba apa saja asal sembuh. Untuk upaya penyembuhan, ilmu kedokteran memang bukan sejenis sains yang kepastiannya mutlak. 

Banyak faktor dan variabel, yang bersifat serendipities, terkait upaya penyembuhan, saat obat yang benar-benar terbukti manjur ditemukan. Boleh jadi ivermectin dan nikotin memang memiliki manfaat plasebo untuk sebagaian orang. Spekulasi sebagai upaya penyembuhan masih ditolerir, sebagai wilayah abu-abu tentang valid atau tidaknya.

Namun berkonspirasi adalah soal paradigma berpikir, yang simplistik, berprasangka, menghakimi dan meyakini sesuatu tanpa berupaya menguji. Apakah asumsi atau prasangka itu ada bukti? Adakah data yang mendukung, atau referensi yang valid, serta memiliki basis faktual. Sekarang-kurangnya, apakah teori konspirasi itu: logis. “Stop making stupid people famous” adalah upaya yang bisa dilakukan publik, untuk mencegah kebodohan konspirasi menginfeksi.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF