Pemerintah Bungkam, Conquistador Beraksi, Sunda Wiwitan jadi Korban
Gigin Praginanto
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 24 July 2020 13:40
Watyutink.com - Kekerasan terhadap para penganut agama leluhur terus saja terjadi. Kali ini yang menjadi korban adalah warga masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) Sundawiwitan Cigugur- Kuningan, Jawa Barat. Pada 20 Juli lalu, pembangunan makam sesepuh adatnya dihentikan secara paksa oleh pemerintah kabupaten Kuningan.

Penghentian paksa itu didukung oleh Ormas Islam bahkan MUI setempat. Mereka beranggapan bahwa Pancasila tidak berlaku bagi penganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Alasan mereka, makam tersebut bisa menghidupkan pemujaan terhadap berhala, dan mengakibatkan permurtadan orang Islam.

Alasan ini tentu saja ditolak oleh para penganut Sunda Wiwitan. Dalam kepercayaan mereka, tak ada batu dalam bentuk apapun atau benda mati lain yang layak disembah. Sama dengan agama atau kepercayaan lain, benda-benda ritual yang ada hanyalah simbol. Sedangkan ritualnya itu sendiri, sama dengan penganut agama lain, adalah ekspresi dari kecintaan kepada Yang Maha Kuasa.

Mereka juga menolak bahwa pembangunan makam tersebut bisa memicu pemurtadan orang Islam. Apalagi kebyataan membuktikan pemurtadan justeru banyak terjadi di antara agama- agama besar seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha. Sementara itu jumlah penganut agama lokal yang sudah ada jauh sebelum kehadiran agama-agama besar tersebut di bumi Nusantara, terus menyusut. Sunda Wiwitan pun bukan pengecualian.

Negara seolah tak ada bagi Sunda Wiwitan. Lihat saja, sampai sekarang pemerintah pusat bungkam menghadapi penindasan yang dialami Sunda Wiwitan. Maka tak mengherankan bila pemberangusan terhadap agama-agama lokal lainnya bakal makin menggila di masa mendatang.

Pancasila dan segala macam perundangan yang menjamin kebebasan beragama seolah hanya berlaku bagi agama-agama yang datang dari Timur Tengah, India, dan China. Makan penganut agama leluhur seperti Sunda Wiwitan, Kejawen, Kaharingan, Parmalim dan sebagainya harus selalu siap berjuang sendiri menghadapi penindasan.

Para antropolog sesungguhnya sudah lama melakukan studi tentang penindasan terhadap agama-agama asli di semua belahan dunia seperti di Amerika, Eropa, Afrika, Asia, dan Australia yang masih berlangsung sampai sekarang. Di antara korbannya adalah para penganut agama asli Indian di Amerika utara, penindasnya adalah orang Kristen dari Eropa. Kajian mengenai hal ini antara lain dilakukan oleh antropolog Lawrence Sullivan dalam bukunya Native Religions and Cultures of North America; dan John Rhodes dalam An American Tradition: The Religious Persecution of Native American (Montana Law Review edisi Januari 1991).

Di Asia, kini para penganut agama leluhur di wilayah pegunungan Chittagong di Bangladesh juga sedang mengalami penindasan. Sama dengan orang Palestina, tanah mereka setiap saat bisa dirampas oleh pemerintah, atau menghadapai serangan fisik oleh kaum mayoritas. Sekitar 91 persen penduduk Bangladesh beragama Islam.

Sebaliknya di China, orang Islam mengalami penindasan tiada henti. Kamp kerja paksa, pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan dan berbagai bentuk kekerasan lainnya bisa menimpa mereka kapan saja dan dimana saja. Orang Islam juga dilarang melakukan ibadah berpuasa di bulan Ramadhan.

Indonesia tentu jangan sampai meniru China. Melakukan penindasan terhadap kaum minoritas seperti Sunda Wiwitan karena alasan keyakinan, ekonomi dan politik. Indonesia juga jangan membiarkan munculnya kelompok-kelompok yang menganggap penindasan terhadap agama lain sebagai bagian dari tugas suci.

Hal itu mengingatkan pada para conquistador (prajurit dan penjelajah) dari Spanyol yang sukses menaklukkan sebagian besar benua Amerika dan berbagai wilayah lain di bumi. Ketika itu mereka memakai semboyan Emas, Gereja, dan Kejayaan. Korban terparah mereka adalah penganut agama leluhur, yang tak hanya kehilangan tanah dan peradaban yang telah dibangun turun-temurun, tapi juga juga pemusnahan etnik.

Para conquistador itu tentu saja tak merasa berdosa meski telah menebar maut di semua belahan bumi. Bagi mereka, kekerasan adalah bagian tugas suci, demikian pula dengan penindasan terhadap agama leluhur kaum pribumi.

Sama dengan conquistador, mereka yang yang ngotot menghentikan pembangunan makam sesepuh Sunda Wiwitan di Kuningan juga merasa sedang melaksanakan tugas suci. Mereka memakai sudut pandang agamanya sendiri untuk menghakimi agama lain.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF