Pemilu 2019: Kekalahan Semua
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
01 May 2019 12:30
Watyutink.com - Siapa juara Pemilu-Pilpres 2019? Berdasarkan hitungan perolehan suara versi Quick Count, jelas sudah. Namun secara pasti dan resminya, kita masih harus sabar menanti hingga tanggal 22 Mei 2019. Pada hari itu, Real Count versi KPU, akan memberikan jawaban pastinya. Sekali pun sudah sangat mudah untuk diduga, paslon mana yang bakal diumumkan oleh KPU resmi sebagai pemenangnya. Dengan kata lain, siapa pasangan capres-cawapres yang secara resmi dinyatakan berhak dan sah untuk memimpin Indonesia 5 tahun ke depan, masih dalam penggodokan. Jadi, secara legal formal, sampai hari ini belum ada.

Di sisi lain, kemenangan itu sendiri masih dengan sengit diperdebatkan. Diduga keras oleh para ahli IT di Badan Pemenangan Nasional kubu Paslon 02, Prabowo-Sandi, kubu 01 bermain mata dengan KPU, Bawaslu, dan jajarannya. 
Ditengarai oleh kubu Prabowo, telah terjadi konspirasi jahat antara fihak petahana sebagai penguasa, dengan para pihak penyelenggara pemilu dalam rangka memunculkan ‘angka-angka siluman’ yang merugikan kubu Paslon 02. .

Ketegangan pun kian meninggi dan memuncak. Sebagai akibat, sementara kemenangan heboh diperebutkan oleh Paslon 01-02, tanpa disadari  kekalahan demi kekalahan telah dilalui masyarakat bangsa ini. Sebagai masyarakat bangsa yang telah bersepakat menempatkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai pandangan hidup, menjadi semacam tengah kerasukan roh jahat. 

Tanpa merasa salah dan berdosa, lewat arahan sistem, program, dan agenda Pemilu 2019, para elite dan para pemimpin negeri ini telah mengobrak-abrik tiang-tiang penyangga nilai-nilai Pancasila. Yang seharusnya dijaga, dirawat, dan dijadikan tempat bersandar dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, justru semakin dilemahkan secara sistemik.

Rakyat bangsa ini yang seharusnya bersatu dan hidup dalam kebersamaan sebagai keluarga bangsa, lewat Pemilu 2019 ini, malah terbelah menjadi dua kubu rakyat yang saling serang, saling hujat, dan saling bermusuhan. Persatuan rakyat Indonesia yang merupakan amanat penting dari Pancasila, diluluhlantakan. Budaya Gotong royong yang menjadi budaya dasar kehidupan rakyat Indonesia, digantikan dengan budaya memenangkan kepentingan kelompok dan diri sendiri. Dilakukan secara legal berbekal pemujaan terhadap individualisme sebagai ibu dari iliberalisme. 

Simbol dan segala ragam bendera mengatasnamakan agama, ramai bertebaran di atas panggung politik Pemilu. Tapi anehnya, semakin panggung dipenuhi kegiatan politik aliran ini, semakin saja Tuhan dan Ketuhanan tak terasa kehadirannya di panggung kehidupan belakangan ini. Keuangan Yang Maha Kuasa dan Kekuasaan Yang Maha Segalanya, menjadi sangat kuat hadir menggantikan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedaulatan rakyat digantikan oleh Kedaulatan (hegemoni) partai-partai yang bisa melakukan apa saja, termasuk mereduksi dan meniadakan Kedaulatan Rakyat itu sendiri.      

Pada perhelatan Pesta Demokrasi kali ini, pemilu telah menjadi segalanya. Semua hanyut dan larut sehingga melupakan tujuan utama dalam menjalankan  kehidupan berbangsa dan bernegara. Langkah mewujudkan cita-cita kemerdekaan pun semakin buram. Upaya membangun masyarakat Pancasila, dengan brutal lewat desain pemilu kali ini, sepenuhnya sempurna dikandaskan. Akal sehat ditenggelamkan, diganti oleh akal-akalan dan akal bulus. Sehingga sah merebut jabatan dan kekuasaan politik lewat kekuatan fulus dan akal bulus.  

Pertanyaan pentingnya; wajah, karakter, dan budaya bangsa seperti inikah yang kita cita-citakan? Bila jawabannya adalah TIDAK, akankah desain, program, agenda, dan pelaksanaan pemilu yang super destruktif ini dipertahankan? Haruskah nurani, mata hati dan mata kita, seakan tak melihat apa-apa dan seraya berteriak...We are already on the right track ! (Kita sudah berada di jalur dan jalan yang benar!). Pertanyaannya; benar untuk siapa, atau nyaman untuk siapa? 

Sayangnya, dengan kekacauan dan lemahnya bangunan kekuatan rakyat dan semakin lemahnya kekuatan negara, ada pihak-pihak yang justru menjadikannya sebagai ‘comfort zone’ (zona nyaman) mereka. Tentunya ‘Zona Nyaman’ bagi sukses bisnis dan kekuasan di tangan yang mereka kelola. Bukan nyaman dan bahkan tidak nyaman bagi Petani, Buruh, Nelayan, pegawai rendahan, prajurit bawahan, dan rakyat kebanyakan! 

Oleh karenanya, secara tegas kita wajib bersuara bahwa perjalanan bangsa ini ke depan...belum sepenuhnya ‘on the right track !’. Apalagi bila pemilu yang seperti kali ini tetap dipertahankan. Maka wajib kita serukan..No, No, No... we are on the wrong track...completely, Sir !!! 

Teriakan senyaring mungkin, sebelum semua kekalahan menjadi satu-satunya hasil dan pilihan rakyat Indonesia!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar