Pendidikan Lingkungan Dimulai dari Hati
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
14 September 2019 10:00
Watyutink.com - Nelson Mandela, negarawan ulung Afrika Selatan dan pemenang hadiah Nobel Perdamaian pernah berkata: “pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.”

Merujuk pada kata-kata Mandela itu, sebanyak 650 orang yang meliputi tokoh, pakar, dan praktisi dari seluruh benua, awal minggu ini berkumpul di New Delhi, India untuk mengikuti International Conference on Sustainability Education/ICSE – Konferensi Internasional tentang Pendidikan Keberlanjutan.

Di tahun 2015 negara-negara di dunia telah menetapkan Sustainable Development Goals/SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yatu agenda global untuk memberantas kemiskinan, ketimpangan sosial dan perubahan iklim dengan prinsip utama no one left behind, atau tidak meninggalkan satu orang pun.

Pembangunan berkelanjutan sendiri adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kebutuhan untuk generasi mendatang.

SDGs untuk perioda 2015-2030 memiliki 17 tujuan, dengan Pendidikan Bermutu sebagai tujuan keempat, yaitu “memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara, juga mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua.”

Dengan makin besarnya tantangan terhadap lingkungan hidup, yang sebagian besar karena ulah manusia, maka dibutuhkan perubahan dalam gagasan dan sikap terhadap planet bumi yang hanya dapat dilaksanakan melalui pendidikan.

Peserta ICSE membahas masalah dan kemajuan terkini dalam pendidikan lingkungan hidup dan perubahan iklim. Mereka mencatat adanya transisi dari hanya pendidikan tentang lingkungan (Environmental Education), menjadi pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (Education for Sustainable Development) dan bergerak menuju pendidikan perubahan iklim (Climate Change Education) yang lebih terfokus ke tantangan global saat ini.

Pada pertemuan tersebut, Dr. Sadhvi Bhagawati Saraswati, Sekretaris Jenderal Aliansi Global Antaragama untuk Air, Kesehatan dan Kebersihan, berpesan: "Sekarang adalah saatnya kita menyatukan tangan dan hati, untuk menanamkan kesadaran pada generasi berikut dan generasi masa kini tentang kesatuan mereka dengan semua ciptaan. Ini adalah kekuatan yang menghubungkan pendidikan berbasis nilai dengan sistem berbasis pengetahuan untuk inovasi dalam perubahan iklim dan perlindungan lingkungan. Pertama mereka harus ingin menciptakan dunia yang adil dan berkelanjutan dan kemudian memiliki alat membangunnya.”
 
Contoh alat di atas dipaparkan Foundation for Environmental Education (FEE), sebuah Yayasan Pendidikan Lingkungan yang berkedudukan di Kopenhagen, Denmark. Organisasi ini membantu masyarakat menyadari manfaat dari kehidupan berkelanjutan melalui solusi dan pendekatan berbasis aksi positif. FEE percaya pada kekuatan perubahan melalui kader berpendidikan. Tiga programnya fokus pada kaum muda, yaitu Sekolah Ramah Lingkungan, Pembelajaran tentang Hutan, dan Reporter Muda untuk Lingkungan. Semuanya menggunakan pendekatan pedagogis berbasis solusi untuk memberdayakan generasi muda agar dapat menciptakan dunia yang lebih sadar lingkungan.

Melibatkan kaum muda kini menjadi fokus utama pemerintah, masyarakat sipil, dan lembaga pendidikan. Para pemuda sudah menjadi konsumen untuk berbagai barang dan jasa yang akan meningkat ketika mereka bekerja dan menikmati pendapatan yang lebih tinggi. Dengan demikian sangatlah penting untuk membuat generasi muda peka terhadap tindakan mereka dan menjadi konsumen yang bertanggung jawab terhadap lingkungannya.

Salah satu cara untuk meningkatkan kepekaan generasi muda terhadap alam dan lingkungan hidup adalah memanfaatkan taman nasional sebagai situs pembelajaran untuk pendidikan keberlanjutan.
 
Selanjutnya, bagaimana pemuda bereaksi terhadap berbagai tantangan lingkungan ditentukan oleh latar belakang budaya dan kecerdikan organisasi yang memengaruhi mereka. Guna memahami hal ini, konferensi menggagas sebuah sesi yang membahas kisah sukses keterlibatan pemuda di berbagai negara seperti Australia, Brazil, Negara-negara Eropa, India, dan Indonesia.
 
Menyimak hasil dua hari konferensi, Pradip Burman, Ketua Mobius Foundation yang bersama UNESCO dan Climate Reality India menyelenggarakan ICSE, menutup acara dengan menyimpulkan: "Sekelompok warga intelektual yang bijaksana dan memiliki komitmen melestarikan lingkungan akan dapat mengubah cara dunia ini berpikir."

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

FOLLOW US

Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja