Perlidungan Manusia Lemah
Al-Zastrouw
Dosen Pasca Sarjana Unusia, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara
berita
Berpikir Merdeka
23 August 2019 17:30
Watyutink.com - Secara psikologis manusia membutuhkan sesuatu yang dianggap lebih sebagai tempat berlindung dan mempertahankan diri menghadapi berbagai macam tekanan dan ancaman. Dalam teori psikoanalisa, Sigmund Freud, misalnya, menyebut ada 14 cara mekanisme perlindungan diri. 

Seorang petarung yang gigih dan kreatif akan memanfaatkan seluruh potensi diri untuk menghadapi pertarungan dan kompetisi. Sehingga bisa tampil menjadi manusia unggul yang kokoh dan kuat. 

Sebaliknya manusia yang lemah dan tidak kreatif akan akan cenderung mencari cara menutupi kelemahan dan kekurangan diri dengan memanfaatkan kekuatan di luar dirinya agar bisa eksis dan memenangkan kompetisi.

Anak yang lemah, cengeng dan tidak kreatif biasanya selalu berlindung di balik nama besar orang tuanya saat menghadapi masalah atau kalah bermain dengan teman-temannya. Mereka menggunakan kekuatan dan nama besar orang tuanya untuk melumpuhkan kompetitornya. Orang seperti ini tidak berupaya meningkatkan kapasitas dan kualitas diri, tetapi justru bersembunyi di balik perlindungan orang tua ketika menghadapi kompetisi yang makin ketat dan terbuka

Orang atau pengusaha yang tidak berkualitas biasanya selalu berlindung di balik kekuatan kekuasaan dan menjual nama pejabat ketika berkompetisi. Mereka bisa mengatasnamakan pejabat untuk menggertak lawannya. 

Umat yang lemah dan tidak berkualitas biasanya selalu berlindung di balik simbol agama untuk mengalahkan lawan saat berkompetisi dan menutupi segala kelemahannya. Jika mereka kalah berkompetisi secara fair dan sportif maka tidak segan-segannya mencatut nama Tuhan untuk mencapai ambisinya mengalahkan lawan.

Di tangan politisi busuk dan agamawan brengsek, Tuhan dan agama sepertinya hanya menjadi topeng menyembunyikan kebusukan dan menakut-nakuti lawan untuk memenuhi ambisinya dengan memanfaatkan umat yang memiliki semangat keagamaan tinggi namun miskin pemahaman.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Revisi Aturan-aturan yang Tidak Pro Kepada Nelayan!             Kebijakan KKP yang Baru Harus Didukung             Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek