Persona Perempuan di Hari Bumi
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
27 April 2019 10:00
Watyutink.com - Pemilihan Umum 2019 hampir menenggelamkan hari peringatan penting bagi banyak orang, yakni Hari Kartini 21 April dan Hari Bumi 22 April. Senyampang masih di bulan yang sama, ada dua buku karya dua tokoh yang layak direnungkan kembali karena berhasil memicu pergerakan ke arah yang konstruktif.

Buku bestseller Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), kumpulan isi hati dan pemikiran R.A. Kartini diterbitkan di Den Haag Belanda pada tahun 1911, tujuh tahun setelah ia berpulang di usia 25 tahun selepas melahirkan anak pertamanya.

Kartini sang pahlawan nasional adalah tokoh panutan yang memperjuangkan kesetaraan perempuan Indonesia. Salah satu pemikirannya yang banyak dikutip berbunyi: “Perempuan yang telah diberi pendidikan tinggi, sudah mengetahui dunia di luar lingkungan tempat tinggalnya dan memiliki wawasan luas, Ia akan tumbuh dan terus berkembang dengan pikiran-pikiran yang semakin maju.”

Setengah abad setelah buku Door Duisternis tot Licht, terbit buku karya Rachel Carson berjudul Silent Spring (Musim Semi yang Sunyi) di Boston, Amerika Serikat,. Silent Spring yang juga best seller mengingatkan masyarakat tentang ancaman pestisida bagi populasi tanaman dan hewan, serta melalui rantai makanan dan pasokan air, juga berbahaya bagi manusia. Bukti bahwa pencemaran lingkungan sangat berdampak bagi  kesehatan manusia.

Rachel Carson juga menulis beberapa buku dan artikel tentang keindahan kehidupan di dunia dengan penekanan bahwa manusia hanyalah satu bagian dari alam namun memiliki kekuatan untuk mengubahnya. Penulis dan ahli ekologi ini, wafat di usia 56 tahun karena kanker, tanpa mengetahui bahwa di kemudian hari bukunya menjadi pembangkit gerakan lingkungan hidup yang masif di seluruh dunia, yaitu peringatan Hari Bumi yang dimulai pada 22 April 1970.

Kini satu miliar penduduk dunia aktif memperingati Hari Bumi setiap tahunnya dengan kegiatan seperti kampanye lingkungan, menanam pohon, bersih-bersih kota, dan menetapkan komitmen untuk menjaga bumi. Para pencinta lingkungan sepakat bahwa “Setiap Hari adalah Hari Bumi.”

Tahun ini Hari Bumi bertema “Protect Our Species” atau Lindungi Spesies Kita. Semua makhluk hidup memiliki nilai intrinsik dengan peran unik dalam jaringan kehidupan yang rumit. Manusia harus bekerjasama untuk melindungi spesies baik flora maupun fauna yang terancam punah akibat perubahan iklim, penebangan hutan, perburuan, pertanian yang tidak berkelanjutan, dan pencemaran.

Sebuah studi dari Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (ESCAP) menyatakan bahwa di wilayah ini, kehidupan perempuan terkait erat dengan pemanfaatan lingkungan hidupnya. Hampir 58 persen perempuan yang aktif secara ekonomi bekerja di sektor pertanian. Perempuan merupakan 54 persen dari angkatan kerja dalam perikanan darat skala kecil. Sedangkan lebih dari 80 persen rumah tangga perdesaan bergantung pada biomassa untuk bahan bakar.

Memberdayakan perempuan dan menciptakan ranah bagi partisipasi dan kepemimpinan perempuan secara positif memengaruhi pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Karenanya faktor sosial budaya yang menghambat kemampuan mereka untuk memimpin harus dipahami.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menampilkan sebuah fakta mencerahkan. Minat perempuan Indonesia untuk menjadi peneliti terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun ini jumlah perempuan mungkin sudah mendekati 50 persen dari total 1.500 peneliti LIPI. Dengan semangat RA Kartini mereka konsisten berprestasi, sebagai  inspirasi bagi para perempuan Indonesia untuk berkiprah dalam ilmu pengetahuan.

RA Kartini dan Rachel Carson membuktikan bahwa persona perempuan tidak lekang oleh waktu. Kepiawaian menuangkan perasaan dalam bentuk tulisan menyebabkan pemikiran mereka dikenang selama ini. Bagi Kartini dan Rachel tidak ada tekanan untuk secara cepat dan terus-menerus menerbitkan karya karena mereka berbuat untuk masyarakat tanpa adagepublish or perish.”

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!