Prihatin di Hari Maritim
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 24 September 2021 11:00
Watyutink.com - Di bawah moto Jalesveva Jayamahe yang bermakna ‘Justru di Laut Kita Jaya’, nelayan di Kepulauan Natura justru ketakutan akhir-akhir ini.  Kegiatan menangkap ikan di rumah mereka sendiri, laut Indonesia, dibayang-bayangi kapal-kapal China yang berada di zona ekonomi eksklusif (ZEE) RI.

Di bawah panji kebesaran Jalesveva Jayamahe juga, KRI Nanggala 402 tenggelam di perairan utara Bali, mengakibatkan gugurnya 53 awak kapal.

Inilah sekelumit potret dunia maritim Indonesia yang merayakan hari jadinya pada 23 September.  Harapan menjadi bangsa yang jaya di bidang maritim masih jauh dari kenyataan. Padahal Tuhan memberikan anugerah kemaritiman terbesar kepada Indonesia.

Indonesia menjadi negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, sejauh 99.083 kilometer. Keragaman pantainya menjadi yang terbanyak dengan tipe dan karakteristik garis pantai yang berbeda-beda.

Di sejumlah daerah kita menemukan pantai dengan pasir putih nan indah seperti di Pantai Kuta Bali dan Lombok, Pantai Savanna di Malang, Pantai Remen di Tuban, Pantai Parbaba di Samosir, Pantai Lhok Mee Aceh. Di pesisir yang lain, kita dapat menemukan hutan bakau yang menjadi surga bagi biota laut.

Selain indah, lingkungan laut Indonesia memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Kekayaan laut Indonesia ditaksir mencapai 1.338 miliar dolar atau setara Rp 19.133 triliun (kurs Rp 14.300 per dolar AS) per tahun.

Sumber daya laut Indonesia tidak hanya ikan. Di dalamnya ada bahan tambang dan mineral, hutan bakau, perikanan budi daya, wisata bahari, terumbu karang, padang lamun (rumput laut), dan lain-lain.

Sumber daya perikanan merupakan potensi sumber daya laut terbesar. Laut Indonesia memiliki angka potensi lestari yang besar yang berarti memungkinkan ikan untuk ditangkap tanpa mengurangi populasinya karena kemampuan regenerasi yang tinggi. Di luar perikanan tangkap, ada budi daya ikan terutama di daerah pesisir. Jenis yang biasa dikembangbiakkan antara lain ikan bandeng dan udang.

Keindahan dan keanekaragaman flora dan fauna laut menjadi potensi tersendiri yang dapat dikembangkan menjadi objek wisata seperti wisata pantai, wisata pesiar, wisata budaya, wisata alam, wisata olahraga, dan wisata bisnis. Sangat banyak untuk disebutkan satu per satu kekayaan laut Indonesia yang dapat dijual untuk menambah devisa.

Jika dirinci, dari total nilai ekonomi sektor kelautan sebesar 1.338 miliar dolar AS, tersebar ke dalam sejumlah sektor seperti perikanan tangkap dengan potensi 20 miliar dolar AS, perikanan budidaya 210 miliar dolar AS, industri pengolahan 100 miliar dolar AS, industri bioteknologi 180 miliar dolar AS, energi dan sumber daya mineral termasuk garam 210 miliar dolar AS.

Berikutnya, pariwisata bahari 60 miliar dolar AS, transportasi laut 30 miliar dolar AS, industri dan jasa maritim 200 miliar dolar AS, coastal forestry 8 miliar dolar AS, sumber daya wilayah pulau-pulau kecil 120 miliar dolar AS, dan sumber daya non konvensional 200 miliar dolar AS.

Selama ini sebagian besar bangsa Indonesia memunggungi laut sehingga tidak menyadari betapa besar kekayaan laut Indonesia. Potensi yang begitu besar tidak tergarap secara maksimal. Hanya beberapa tempat saja yang sudah maju pengembangannya.

Sudah dipunggungi, laut Indonesia juga kurang dijaga keamanannya sehingga perahu asing leluasa mencuri kekayaan yang ada di dalamnya. Badan Keamanan Laut (Bakamla) sebagai penjaga teritorial dan yurisdiksi laut Indonesia mencatat ratusan bahkan ribuan kapal China dan Vietnam memasuki kawasan perairan Laut Natuna melalui perairan Laut China Selatan. Mereka tidak terbaca di radar, melainkan hanya terlihat dengan pandangan mata.

Menghadapi situasi tersebut, Bakamla tidak dapat berbuat banyak karena terbentur sejumlah kendala sarana dan prasarana. Badan tersebut hanya memiliki 10 unit kapal. Bakamla bahkan tidak mempunyai armada untuk pemantauan udara.

Sebaliknya, kapal nelayan Indonesia justru tidak bebas mencari ikan di lautnya sendiri. Mereka ketakutan saat menangkap ikan dengan hadirnya kapal-kapal China di perairan Natuna. Kekhawatiran akan berkonflik dengan armada China membuat tangkapan ikan mereka merosot tajam.

Melihat nasib nelayan dan lemahnya penjagaan kedaulatan laut Indonesia, rasanya malu meneriakkan moto Jalesveva Jayamahe, karena tidak sesuai dengan faktanya. Muka kita tercoreng oleh ulah kapal-kapal asing di laut Nusantara pada saat kita memperingati Hari Maritim Nasional.

Indonesia harus dapat menegakkan kedaulatan di laut seperti pesan Presiden Pertama RI Soekarno saat meresmikan Insitut Angkatan Laut pada 1953. Dia berpidato: “Usahakan agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Ya, bangsa pelaut dalam arti seluas-seluasnya. Bukan sekadar menjadi jongos-jongos di kapal. Tetapi bangsa pelaut dalam arti kata cakrawala samudera. Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada militer. Bangsa pelaut yang kesibukannya di laut, menandingi irama gelombang lautan itu sendiri.” 

Pidato Soekarno sangat relevan dikaitkan dengan kekayaan laut Indonesia. Laut adalah masa depan Indonesia sehingga moto Jalesveva Jayamahe yang dimiliki Angkatan Laut RI harus menjadi cita-cita bersama bangsa Indonesia untuk jaya di laut, seperti kejayaan pada zaman Majapahit yang melahirkan moto tersebut.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF