Ramadan, Sedekah, dan Kesejahteraan Bangsa
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
07 May 2019 16:00
Watyutink.com - Dunia bisnis perlu berterima kasih dengan datangnya bulan Ramadan. Nyaris tidak ada sektor usaha yang tidak mengalami kenaikan selama bulan puasa. Beberapa industri yang tercatat paling tinggi tingkat kenaikan penjualannya adalah makanan dan minuman sebesar 30 persen, produk tekstil sekitar 30 persen, sektor ritel seperti minimarket 15 persen, dan kendaraan hingga 10 persen.

Berbagai produk dijejalkan kepada konsumen lewat iklan di media sosial, televisi, dan media cetak. Kenaikan belanja iklan bahkan ada yang mencapai 100 persen. Pemirsa televisi yang masih setia menikmati tayangan layar kaca harus bersabar acara kegemarannya diselingi iklan berkali-kali.

Tidak sia-sia produsen bermacam-macam barang itu beriklan jauh sebelum hingga bulan puasa karena kenaikan penjualan yang naik cukup signifikan. Tanpa iklan pun sebenarnya akan terjadi kenaikan penjualan, hanya produsen harus yakin bahwa produk mereka yang dibeli, bukan punya pesaing.

Kenaikan penjualan selama Ramadan memverifikasi apa yang selama ini menjadi klaim para penceramah bahwa bulan puasa mendatangkan keberkahan-- karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia—spiritual dan material.

Jika ada keluhan bahwa selama bulan puasa terjadi kenaikan harga, yang sebagian disebabkan oleh peningkatan harga  barang kebutuhan pokok, sehingga mendorong terjadinya inflasi, secara teori ekonomi hal itu terjadi akibat meningkatnya suplai uang di pasar.

Dari mana kenaikan jumlah uang beredar itu berasal? Dari pundi-pundi umat Muslim yang berlomba bersedekah untuk mendapatkan balasan berlipat ganda selama bulan yang penuh berkah ini. Sebagian memotong gajinya, sebagian yang lain mencairkan tabungan, deposito, surat berharga, bahkan melepas logam mulianya untuk diberikan atau dibelanjakan membantu saudara-saudaranya.

Uang itu berpindah ke toko-toko sembako, ke tempat-tempat catering, ke pasar-pasar klontong, dan ke mal  menjadi paket sembako gratis, makanan untuk berbuka dan sahur, hadiah lebaran untuk kerabat di desa-desa, atau tetap utuh sebagai uang untuk persenan.

Inflasi seperti ini tidak memberatkan  kaum tidak mampu. Beban kenaikan harga barang ditransfer kepada orang-orang yang berkomitmen menyedekahkan hartanya kepada saudara-saudaranya.  Mereka yang miskin tidak perlu membeli barang kebutuhan pokok karena  bisa mendapatkannya secara gratis.

Kebaikan yang ditebarkan melalui sedekah atau kegiatan lain yang bernilai luhur selama Ramadan membuat ekonomi bergeliat. Suntikan likuiditas mengalir ke urat nadi perekonomian, membantu meningkatkan pertumbuhan.

Pertumbuhan ekonomi selama kuartal I 2019 yakni Januari-April hanya sebesar 5,07 persen, dibawah ekspektasi pemerintah 5,2 persen. Dengan kehadiran bulan puasa diharapkan pertumbuhan ekonomi pada periode berikutnya akan lebih tinggi, terutama disumbang oleh konsumsi rumah tangga yang meningkat.

Kelebihan likuiditas yang terjadi selama Ramadan hingga Idulfitri tidak perlu dikhawatirkan. Ia akan kembali normal lagi usai Lebaran. Bagi  Bank Indonesia peningkatan uang beredar selama periode tersebut sudah menjadi ritual tahunan. Bank sentral sudah memiliki kebijakan moneter tersendiri. Tambahan likuiditas itu akan disedot balik ke dalam sistem perbankan.

Peran sedekah selama Ramadan yang menimbulkan efek berganda ini seperti kisah kebaikan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Beliau memberikan jubahnya -- karena hanya itu yang tersisa di rumahnya-- kepada orang miskin yang menemuinya. Orang itu lalu menjualnya ke pasar. Mendengar yang dijual jubah Nabi, seorang yang kaya dan buta menyuruh budaknya untuk membeli dengan harga berapapun.

Dengan izin Tuhan pembeli buta tadi bisa melihat kembali setelah mengusapkan jubah itu ke matanya, sekaligus dia memerdekakan budak yang membantunya membeli. Jubah itu kemudian dia kembalikan lagi kepada Nabi. Berkat sedekah jubah itu beberapa orang tertolong; orang papa terbebas dari kemiskinan, budak menjadi orang merdeka, dan yang buta sembuh.

Hakikat sedekah adalah menumbuhkan kebaikan. Dalam skala makro, ia membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan yang berkesimbungan akan membawa  bangsa Indonesia  menjadi lebih sejahtera, semoga.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar