Restorasi Ekosistem untuk Kehidupan
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 05 June 2021 10:00
Watyutink.com - Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni, tahun ini bertema Restorasi Ekosistem, karena kelangsungan hidup manusia sangat bergantung pada ekosistem global yang kini sudah semakin memburuk akibat ulah manusia itu sendiri.

Ekosistem yang alami maupun buatan manusia, adalah tempat di mana tumbuhan, hewan, dan organisme lain, bersama dengan lanskap di sekitarnya, menyatu untuk membentuk jaring kehidupan. Di antaranya adalah lahan pertanian, hutan, danau dan sungai, padang rumput, gunung, samudra dan pantai, lahan gambut, dan daerah perkotaan.

Berbagai jenis ekosistem dapat tumpang tindih. Misalnya, ada padang rumput atau hutan yang juga merupakan lahan gambut, dan ketiga ekosistem ini pun dapat ditemukan di pegunungan.

Baik kecil maupun besar, peran ekosistem sangatlah esensial karena menyediakan sandang, pangan, papan dan manfaat lainnya seperti perlindungan iklim dan konservasi keanekaragaman hayati. Ekosistem alami juga merupakan unsur penting untuk kesehatan fisik, mental, dan identitas manusia.

UNEP dan FAO, Organisasi Lingkungan Hidup serta Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, baru saja meluncurkan laporan berjudul Becoming #GenerationRestoration: Ecosystem Restoration for People, Nature and Climate berisi fakta yang memiriskan namun disertai juga dengan solusinya.

Sepertiga lahan pertanian dunia telah terdegradasi, dan sekitar 87 persen lahan basah pedalaman di seluruh dunia telah lenyap. Selain itu, sebanyak sepertiga spesies ikan komersial dieksploitasi secara berlebihan. Degradasi atau kemerosotan ini memengaruhi kesejahteraan sekitar 3,2 miliar orang – yaitu 40 persen dari populasi dunia. Setiap tahunnya, jasa ekosistem yang hilang bernilai lebih dari 10 persen angka ekonomi global.

Pandemi COVID-19 merupakan bukti betapa dahsyatnya konsekuensi hilangnya ekosistem. Dengan jauh berkurangnya area habitat alami hewan karena aktivitas manusia, maka terciptalah kondisi ideal bagi patogen – termasuk virus corona – untuk menyebar.

Restorasi ekosistem, yang dimaksudkan dalam laporan di atas,  adalah proses untuk menghentikan dan membalikkan degradasi, sehingga jasa ekosistem, dan manfaatnya, dapat membaik dan keanekaragaman hayati pulih kembali. Contohnya adalah membawa kembali tumbuhan dan hewan dari ambang kepunahan, baik yang berada di puncak gunung maupun di laut dalam.

Sebagai upaya global dalam skala besar, restorasi mencakup rangkaian kegiatan yang luas, mulai dari reboisasi hingga membasahi kembali lahan gambut dan rehabilitasi karang.

Tetapi, restorasi ekosistem juga mencakup banyak tindakan sederhana yang dapat dilakukan setiap orang sehari-harinya, seperti menanam pohon, menghijaukan kota, membangun kebun di rumah atau membersihkan sampah di sepanjang sungai dan pantai.

Penduduk dunia memeriahkan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan berbagai acara. Di Gorontalo, Jaring Advokasi Pengelolaan Sumberdaya Alam mengadakan webinar tentang “Milenial, Restorasi Ekosistem Mangrove dan Masa Depan Lingkungan Kita.  Selain itu ada juga kegiatan aksi bersih-bersih sampah plastik di kawasan Wisata Hiu Paus Botubarani dan penanaman mangrove di beberapa desa di Gorontalo dan Sulawesi Tengah.

Sementara itu kelompok pemuda di Indonesia dan Filipina  menjadikan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021 sebagai momentum untuk mengantar aksi iklim masyarakat,  terutama generasi muda, ke tingkat yang lebih nyata dan terukur untuk mendukung restorasi ekosistem.

Melalui skema Adopsi Bibit, kelompok pemuda Climate Reality Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Alam Sehat Lestari mengundang masyarakat melakukan aksi nyata bagi Bumi dengan mengadopsi bibit pohon buah atau kayu keras yang nantinya akan menjadi bagian dari upaya restorasi sebuah kawasan hutan di Kalimantan Barat.

Pada dasarnya, restorasi ekosistem harus melibatkan semua pemangku kepentingan termasuk individu, bisnis, asosiasi, dan pemerintah. Kegiatan itu juga harus menghormati kebutuhan dan hak-hak Masyarakat Adat dan komunitas lokal, serta menggabungkan pengetahuan, pengalaman dan kapasitas mereka untuk memastikan rencana restorasi dilaksanakan dan berkelanjutan.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF