Sains, Misteri, Teka-teki
Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 22 September 2021 11:30
(Catatan kaki dari diskusi “Percakapan Sains dan Filsafat” Urban Sufism. Bagian pertama dari dua tulisan)

Watyutink.com - Kesalahan asumsi yang membuat banyak kalangan tidak berkhidmat pada sains adalah, sains berpretensi melenyapkan misteri. Cara pandang ini bukan cuma diyakini kaum penghayat takhyul atau penganut agama, namun juga dianut sebagian intelektual yang bersikap romantik, atau agnostik, dengan misteri.

Mereka menganggap eksistensi kehidupan dan alam semesta, muasal dan esensinya, adalah misteri. Esensi misteri itu berada di luar (beyond) realitas fisik, dunia paralel yang tak terjangkau inderawi, sempurna, dan abadi. Dunia ethereal, tempat segala ramuan keajaiban diolah, dan sesekali dipamerkan ke dunia untuk memukau manusia (di masa lalu, atau di masa kini, berupa penampakan hantu).

Dunia phantasm (surgawi) itu mustahil bisa diobservasi atau dideteksi oleh sains. Karena misterinya dijaga ketat agar tidak terungkap. Hanya orang-orang “terpilih”, mereka yang memiliki kemampuan intuitif tinggi atau melalui olah mistik, bisa mendeteksi atau sekelebat memasuki lorong rahasia dunia gaib dan ajaib. 

Miisteri dunia ajaib itu mirip plot kisah fantastik Harry Potter, yang membagi dunia dalam dua realm: Wizarding World dan Muggle world. Dua dunia ini tidak bisa berinteraksi, karena adanya ketentuan “International Statute of Wizarding Secrecy.” Sains dan teknologi yang murni ingenuitas manusia hanya berlaku untuk dunia Muggle. Segala pencapaian keajaiban teknologinya dianggap sepele, dibanding keajaiban sesungguhnya dunia Wizard.

Itu sebabnya, keyakinan pada alam gaib dan misteri tidak mungkin bisa dilenyapkan. Meskipun sains telah menunjukkan dan membuktikan, hukum alamlah yang menggerakkan dunia. Keyakinan pada adanya dunia alternatif, yang tidak tunduk pada hukum alam, masih kuat diamini mayoritas manusia penghayat misteri atau obskuriti. Dunia gaib yang didiami hantu, iblis, jin, mahluk astral; atau segala konsep mental-metafisik yang obskur, seperti jiwa, kesadaran-murni, roh absolut, Forms, dasein, das ding an sich, dan sejenisnya.

Berbagai temuan sains telah mampu menjelaskan banyak hal yang bersifat material, dari atom, tubuh manusia, hingga galaksi. Namun dunia mental (yang terkait dengan kinerja otak manusia) memang belum sepenuhnya bisa dipahami, seperti emosi, perasaan, kesadaran atau pemaknaan. Ini tantangan neurosains yang terkait erat dengan studi complex system sains fisika, kimia, dan biologi. 

Teka-teki dunia mental memang masih perlu waktu untuk bisa dijelaskan oleh sains. Namun teka-teki bukan misteri yang tidak dapat dipecahkan. Teka-teki adalah soal belum adanya data yang diperoleh untuk menyusun hipotesis dan konklusi. Sementara misteri adalah konklusi tanpa basis data valid. Teka-teki bisa dipecahkan dan dijelaskan, misteri adalah rahasia yang mustahil dibuka. Misteri cuma bisa diyakini, atau dirayakan, sebagai ekspresi keterpanaan dan keterpukauan.

Misteri dunia spiritual sepertinya tidak akan lenyap, meski sains semakin rinci mengungkap banyak hal “misterius” yang semula dianggap supranatural atau spiritual. Kaum penghayat misteri tidak perlu khawatir, karena soal keyakinan, apapun temuan sains tidak akan melenyapkan misteri.

Misteri Menyelimuti

Manusia terlahir—ada yang menyebut terbuang—ke dunia dengan selimut misteri. Tidak ada “buku panduan” yang menyertai kemunculan manusia untuk hidup di bumi. Apa alam semesta, dari mana asalnya, apa tujuannya, kenapa manusia ada, sejumlah pertanyaan solilokui yang tidak ada jawabannya.

Manusia mencoba menyusun panduan atau penjelasan (berupa kisah mitologis, kitab agama dan pemikiran filsafat) belakangan ketika mampu berbahasa dan menulis. Agama dan filsafat muncul hampir bersamaan sekitar 2600 tahun lalu. Agama oriental (non-Abrahamik) seperti Hindu-Vedanta, Budha dan Taoisme lebih berkarakter filsafat, ketimbang agama.

Dalam artikel “Sains, Filsafat, dan Storytelling” (Juni 2020) saya uraikan upaya manusia mendapatkan penjelasan dan pemaknaan hidup dengan cara menyusun cerita. “Alam semesta terbuat dari cerita, bukan dari atom,” kata Muriel Rukeyser, penyair Amerika. 

Umberto Eco dalam novel “Focault Pendulum” menganggap manusia perlu berkisah, mengarang cerita, agar absurditas kehidupan yang diselimuti misteri menjadi kisah menarik. Manusia tidak bisa menerima penjelasan (saintifik) bahwa alam semesta muncul dari kebetulan, momentum, atau mekanisme hukum fisika. Karena empat partikel atom, proton, neuron, elektron, dan photon saling bertumbukan dan berinteraksi. 

Kisah konspirasi kosmik perlu disusun: tentang Tuhan, malaikat, setan, surga dan neraka. “Jika tidak ada rancangan kosmik, sungguh menjengkelkan, hidup dalam pembuangan, tanpa tahu siapa yang membuang. Terbuang dari tempat yang tidak pernah ada,” kata Umberto Eco.

Pada awal peradaban, mitologi, agama, filsafat dan sastra adalah upaya awal manusia untuk mengungkap misteri. Hikayat semacam The Epic of Gilgamesh, Enuma Elish, Iliad, Oddisey, Mahabarata, Ramayana, dan kisah folklore berbagai bangsa yang diceritakan turun temurun adalah cara manusia menjawab dan memaknai eksistensinya. Agar misteri tidak terlalu misterius.

Manusia menyusun cerita tentang adanya kekuatan tersembunyi, yang lebih kuat dan berkuasa dari manusia. Kuasa kekuatan yang mengatur serta mengontrol peristiwa. Muncullah kisah-kisah dewa-dewa sebagai tafsir dan penjelasan. Apa saja yang tidak dimengerti manusia, dilimpahkan ke dewa. Manusia memanusiawikan (anthropomorphize) kekuatan dan fenomena alam sebagai ulah para dewa. Ini cara termudah untuk menjelaskan misteri yang tak dipahami. Menciptakan “agen” berkekuatan besar yang bisa melakukan berbagai hal melebihi manusia.

Saat level kognitif manusia lebih maju, sejumlah pemikir di Yunani (juga di India, Persia, dan China), sekitar 2400 tahun, lalu mencoba memikirkan misteri secara lebih sistematis.  Para filsuf mengajukan konsep filosofis, sebagai spekulasi, untuk menjawab misteri. Memperdebatkan, apa esensi dibalik alam semesta, apa elemen penyusunnya. 

Thales menyebut air sebagai elemen utama; Anaximenes menganggap udara; Empedokles menggabungkan api-udara-air-tanah; Democritus memastikan atom; Anaxagoras meyakini pikiran; dan Phytagoras memilih angka (matematika) sebagai esensi dunia. Begitulah filsafat, masing-masing filsuf bersikukuh dengan kebenaran spekulatifnya. Tradisi yang terus terbawa hingga saat ini.

Salah satu konsep filsafat yang kemudian menjadi paradigma penting, menjadi “weltanschauung” untuk memahami dunia, dirumuskan oleh Plato. Ia mengajukan konsep “Theory of Forms” (theory of ideas). Satu paradigma bahwa dunia fisik adalah ilusi, tidak nyata. Dunia sebenarnya, yang abadi, absolut, tidak berubah, dan sempurna adalah dunia Forms, dunia ide.

Dunia Forms, bagi Plato, adalah esensi non-fisik dari segala sesuatu. Dunia fisik hanyalah imitasi dari Forms—sebagai esensi sumber pengetahuan. Plato mempertanyakan ada apa di balik obyek, seperti wujud, bentuk atau warna. Ini terkait perspektif (keterbatasan) indera manusia dalam mengamati. Apakah properti obyek eksis secara terpisah? Jika terpisah, apa esensi eksistensi?

Plato menganalogikan konsep dua realitas dunia, fisik dan non-fisik, dengan parabel “kisah manusia gua.” Manusia cuma bisa melihat bayangan obyek yang dipantulkan dari nyala api, tidak melihat obyek itu sendiri. Plato menilai dunia fisik sebagai subyektif dan Forms sebagai dunia obyektif. Forms, ada yang menilai, menjadi “inspirasi” bagi konsep surga (kesempurnaan) dalam teologi agama Abrahamik. Dunia spiritual yang berada di luar ruang dan waktu.

Sejak Plato, metafisika menjadi filsafat esoterik yang gemar berspekulasi, menebak “ada apa di balik yang ada”. Filsafat metafisika bermain kata-kata untuk mengurai misteri ontologi. Namun alih-alih mengurai kejelasan, metafisika seringkali justru membuat misteri menjadi kabur, gelap dan semakin misterius (meskipun, tentu, sebagai retorika konseptual menarik secara filosofis, seperti laiknya puisi).

Sains Menerangi

Beda dengan metafisika yang kental bergelap-gelap dengan konsep, sains modern yang muncul di Era Pencerahan (enlightenmen) berupaya menerangi. Sains bisa merumuskan hal yang kompleks, kabur, dan rumit menjadi sederhana dan mudah dipahami. Ini dikenal sebagai prinsip Occam’s Razor. Fisikawan Ernest Rutherford mengatakan: “Jika anda tidak bisa menjelaskan temuan atau teori fisika kepada pelayan restoran, maka besar kemungkinan anda bukan fisikawan yang pintar.”

Sains ingin menyibak misteri, sebagai teka-teki. Pertanyaan “mengapa langit biru,” jika dianggap sebagai misteri akan berhenti sebagai proposisi: memang begitulah (takdir) langit. Namun kebiruan langit bisa diurai menjadi ratusan pertanyaan lain sebagai bagian teka-teki sains fisika. Dan bisa ada penjelasannya.

Sains bukan cuma soal metode, melainkan lebih pada upaya manusia mendapatkan penjelasan. Upaya mendapatkannya selain dengan kerja sama, seringkali dilakukan dengan berkompetisi, untuk memastikan penjelasan siapa yang paling  akurat. Saat penjelasan sains terbukti akurat, komunitas saintis sepakat. Sains tidak berpolemik atau beretorika, berkomplot, mendirikan mazhab atau aliran, untuk menolak validitas temuan sains. Karena tolok ukurnya jelas, harus sesuai dengan realitas “obyektif”. Dalam arti pihak lain bisa menguji, mengukur, dan mengulang hasil temuan, sebagai fakta saintifik.

Dunia sains mudah menerima adanya penjelasan yang lebih baik dan lebih baru. Dan lazimnya teori sains yang valid akan terus digunakan dan dilengkapi semakin terinci dengan temuan-temuan baru. Teori Relativitas terus terbukti validitasnya, bahkan jauh melampaui pemikiran Einstein saat merumuskannya. Gravitasi, ruang dan waktu melengkung, energi nuklir, GPS, dan foto lubang hitam adalah sejumlah bukti empiris validitas teorinya.

Temuan-temuan terbaru biologi molekuler juga semakin mengukuhkan Teori Evolusi Darwin. Teori yang saat dirumuskan (pada 1859) belum mengenal konsep genetik, DNA, epigenetik atau meme, semakin diperkuat dengan berbagai temuan baru. Seleksi alam dan mutasi acak, sejauh ini, terbukti adalah penyebab munculnya keragaman spesies dan perubahan fisiologis mahluk hidup.

Sains juga sabar menunggu otentisitas satu prediksi, sampai tervalidasi oleh bukti. Partikel Higgs boson, yang diprediksi keberadaannya oleh fisikawan Peter Higgs pada 1964, akhirnya terbukti pada 2012. Saintis memerlukan mesin raksasa berdiameter 27 kilometer, Large Hadron Collider, dan kolaborasi ribuan saintis dari berbagai negara, untuk membuktikan adanya partikel subatomik boson yang memiliki massa. Partikel yang, dalam hipotesis Peter Higgs, menjadi faktor penting munculnya dunia materi. Partikel yang kemudian dijuluki, secara misnomer, sebagai “Partikel Tuhan”.

Proses “penciptaan” alam semesta, sebagaimana dikisahkan oleh Kitab Kejadian, di awali dengan firman Tuhan: “Jadilah terang” (Let there be light). Secara saintifik, astrofisikawan Michio Kaku membahasakan menjadi: “In the beginning, God said that the four dimensional divergence of an antisymmetric second rank tensor equals zero, and there was light” Karena cahaya tunduk pada persamaan  elektromagnetisme James Clerk Maxwell. 

Sejak 1882 cahaya  (nur-Illahi) bukan lagi sebuah misteri yang sumbernya supranatural. Cahaya adalah paket energi kuantum, berupa partikel photon, yang dapat dibuat, diatur dan dikontrol. Listrik, salah satu fenomena kekuatan alam yang mencengangkan bisa dipahami dan ditundukkan.  Melalui rangkaian proses penelitian saintifik selama lebih dari 200 tahun. Melibatkan puluhan saintis dari beragam era dan wilayah, dari Benjamin Franklin, Michael Faraday, Alessandro Volta, hingga Thomas Alva Edison dan Tesla.

Penemuan listrik dan cahaya adalah kisah ketekunan penelitian dan eksperimen saintifik manusia yang penuh imajinasi. Contoh keberhasilan manusia mengungkap, dan mendayagunakan, “misteri cahaya”. Listrik menerangi rumah dan kota, menjadi medium  komunikasi, melahirkan industri dan peralatan modern, serta menyemai revolusi teknologi digital. Mewujudkan “keajaiban” yang dulu cuma bisa dibayangkan para mistikus dan filsuf pra-era pencerahan.

Bukan satu koinsidensi jika proses penemuan listrik dan cahaya beriringan dengan lahirnya Era Enlightenment. Sejumlah pemikir yang tercerahkan (enlightened) mengedepankan nalar, reason, dan kemudian memakai metode sains untuk mengungkap rahasia kekuatan alam. Alih-alih bergelap-gelap meyakini bahwa alam semesta diselimuti misteri.

(Bersambung ke bagian kedua: “Mengurai Misteri Sebagai Teka-teki”) 

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF