Salah Kaprah Pembumian Pancasila
Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Arts Cetre UI Jakarta
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 09 March 2020 10:00
Watyutink.com - Akhir-akhir ini muncul istilah “pembumian” Pancasila yang dilakukan oleh BPIP. Beberapa media massa menyebut, roadshow Kepala BPIP ke berbagai instansi dan daerah adalah dalam upaya “membumikan” Pancasila. Sebagaimana disebutkan oleh media Antara (Medan): “Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menginginkan pembumian Pancasila hadir di tengah masyarakat dalam bentuk prestasi dan inovasi”. Dalam kegiatan tersebut Plt. Kepala BPIP, Prof Hariyono menyatakan: “Di dalam materi-materi Pancasila kita ingin pembumian Pancasila tidak hanya dalam wacana toleransi, tetapi juga ada inovasi dan prestasi”

Istilah pembumian Pancasila juga disebutkan oleh Ketua BPIP saat memberikan sambutan dalam acara deklarasi membumikan Pancasila di Stadion Patriot Candrabhaga Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (3/2/2020). Dalam Sambutannya Yudian menyatakan: "Lebih 129 juta jiwa penduduk Indonesia adalah generasi milenial. Salah satu cara membumikan Pancasila adalah melalui media komunikasi yang anak-anak muda gunakan (generasi milenial), misalnya dengan pendekatan menggunakan olahraga, musik dan film,". 

Karena sering disebut oleh para pejabat BPIP dalam berbagai kesempatan saat memberikan sambutan maupun menyampaikan arahan, maka timbul asumsi bahwa istilah pembumian Pancaila ini menjadi acuan dalam langkah dan program BPIP.

Jika dicermati, penggunaan istilah pembumian Pancasila itu tidak tepat atau salah kaprah. Karena istilah “pembumian” itu dilakukan untuk sesuatu yang tidak membumi atau yang datang dari langit. Oleh karena itu istilah tersebut tidak cocok untuk Pancasila. Karena secara historis filosofis Pancasila merupakan konsep yang digali dari laku hidup, tradisi dan nilai-nilai yang hidup di bumi Nusantara. Penggalian ini  jauh sebelum nilai-nilai agama-agama masuk ke Nusantara. Sebagaimana dinyatakan oleh Bung Karno: “Penggalian saya tentang Pancasila, sampai zaman sebelum agama Islam. Saya gali sampai zaman Hindu dan pra-Hindu.” Pada kesempatan lain saat memberikan sambutan hari lahir Pancasila di Yogya tahun 1964 Bung Karno juga menyatakan: “Pancasila lahir digali dari bumi Nusantara,” (Harian KR, 2 Juni 1964).

Ini artinya Pancasila sebagai pondasi filosofis (philosophische grondslag) yang menjadi jiwa bangsa Indonesia bukan datang dari langit, dan bukan datang dari ideologi-ideologi tertentu. Tetapi dia adalah pondasi pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, dan hasrat yang sedalam-dalamnya yang lahir dari kearifan lokal masyarakat Nusantara. Karena Pancasila berasal dari bumi, maka dengan sendirinya Pancasila itu sudah membumi. Dengan demikian penggunaan isitlah “Pembumian Pancasila” menjadi tidak tepat.

Kerancuan berikutnya penggunaan istilah “Pembumian Pancasila” adalah mengasumsikan bahwa Pancasila itu sesuatu yang datang dari langit, abstrak dan mengawang-awang. Seperti halnya Agama atau wahyu. Padahahal Pancasila bukan wahyu atau agama yang datang dari langit sehingga perlu dibumikan. Karena istilah membumikan itu tepatnya untuk sesuatu yang datang dari langit, padahal Pancasila digali dari bumi. Dalam konteks ini, istilah “pembumian Pancasila” justru akan bermakna penguburan terhadap Pancasila. Karena mengembalikan ke bumi atas sesuatu yang berasal dari bumi.

Jika yang dimaksudkan oleh para pejabat BPIP dengan istilah “Pembumian Pancasila” itu adalah pelaksanaan (pengamalan dan perwujudan (pengejawantahan) nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka akan lebih tepat jika digunakan istilah “Pembudayaan Pancasila”. Istilah ini bermakna suatu upaya agar Pancasila menjadi laku hidup bangsa Indonesia. Artinya menjadikan Pancasila sebagai budaya bangsa, yaitu suatu sikap, tindakan, pola pikir yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian Pancasila akan menjadi nyata, riil, bukan sekadar jargon, konsep atau retorika. Penggunaan “Pembudayaan Pancasila” juga berarti bahwa Pancasila itu manusiawi, bisa dijalankan oleh manusia biasa bukan sesuatu yang hanya bisa dijakankan oleh malaikat. 

Pembudayaan Pancasila ini juga bisa dimaksudkan sebagai strategi untuk memperkuat dan menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila yang sekarang dirasa mulai lemah dan redup tergerus zaman. Jika budaya Pancasila sudah terbentuk dengan sendirinya Pancasila akan hidup dan tumbuh kembali dalam jiwa bangsa Indonesia.

Dengan demikian jelas bahwa berbagai macam bentuk prestasi, inovasi dan kegiatan yang dilaksanakan BPIP adalah untuk membangun kebudayaan. Karena dengan terbentuknya budaya Pancasila berarti terjadi pengamalan Pancasila dalam laku hidup hidup bangsa. Sebaliknya jika semua program itu dimaksudkan untuk pembumian Pancasila, maka berarti terjadi penguburan Pancasila. Ada baiknya BPIP meluruskan salah kaprah istilah “Pembumian Pancasila".  
   

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)