Selamat JKW-Ma’ruf...Sampai 2024
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
01 July 2019 14:00
Watyutink.com - Dok...dok..dok! Dengan tegar dan rasa lega, Ketua KPU menutup sidang penetapan Presiden dan Wakil Presiden hasil Pemilu Pilpres 2019-2024. Peristiwa ini digelar pada 30 Juni, hari Minggu Legi warig agung, di gedung KPU, Jl. Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Ketukan palu Ketua KPU ini disambut oleh para fungsionaris partai pendukung kubu 01 dengan wajah sumringah. Sebagian ada yang bertepuk tangan malu-malu, karena sadar menjaga perasaan kolega mereka fungsionaris partai pendukung kubu 02. Jokowi dan Ma’ruf Amin pun, walau menahan sukacita, dari raut wajahnya tampak kegembiraan sengaja disembunyikan. 

Dalam sambutannya Jokowi mengajak Prabowo dan Sandiaga Uno yang dikatakannya sebagai para patriot, untuk bersamanya membangun bangsa ke depan. Ajakan ini disambut tepuk tangan meriah. Terasa semarak karena kedua orang yang disebut dan diajak bekerjasama tidak hadir dalam perhelatan tersebut. Selanjutnya acara ditutup dengan berselfie ria sebagaimana tradisi Jokowi Fans Club.

Banyak yang mengatakan bahwa masalah sengketa Pemilu Pilpres usai sudah. Sementara menurut saya justru inilah saat awal dari power play yang sesungguhnya akan digelar. Tarik menarik kepentingan para elite partai pendukung dan para fungsionaris partai oposisi yang menyeberang, baru saja mendengar pluit tanda permainan segera dimulai. Bahkan Ma’ruf Amin dipastikan tengah bertanya-tanya; portfolio dan ruang gerak yang mana dan sebesar apa yang akan dilimpahkan Jokowi kepadanya. Dalam hal ini, dipastikan tidak akan hanya duduk manis sebagai ‘ban serep’ dari kendaraan kekuasaan yang ditunggangi Jokowi.

Seabrek partai pendukung kubu 01 pun mulai ancang-ancang, kasak-kusuk toleh kiri kanan untyuk berebut jatah kue kekuasaan. Sejumlah kursi menteri dalam kabinet jilid dua pun sudah diincar untuk dimenangkan kader partainya. Di samping sejumlah menteri yang sekarang masih menjabat, turut pula berlomba adu kesetiaan dan tampilan kedekatan dengan sang Boss agar tidak dicoret dari daftar anggota kabinet. 

Belum lagi konon sebagian partai oposisi (warga kubu 02) yang bergegas berpasrah diri untuk mengabdi kepada kekuasaan di bawah komando pak Jokowi. Mereka yang ringan langkah untuk menyeberang, telah dicatat publik sebagai mental pecundang yang luar-biasa memiliki kesanggupan bertebal muka. Walau publik sangat paham bahwa politik adalah seni yang membuat sesuatu yang impossible menjadi possible. Atau yang kurang enak didengar bahwa dalam politik tak mengenal kata malu, yang dikenal hanyalah kata ‘mau dan mau lagi’.

Menanggapi sejumlah partai (oposisi) yang berniat menyeberang ke kubu yang selama Pemilu Pilpres berlangsung melakukan gempuran habis-habisan, mengundang sejumlah reaksi. Hal menyeberangnya partai lawan ini pernah terjadi di masa lalu, pada gelaran Pilpres 2014-2019. Dari catatan politik empirik, bergabung dan menggerogoti dari dalam adalah sebuah kenyataan pahit yang harus dijadikan pelajaran berharga oleh Jokowi ke depan. Selain langkah menyeberang ini  telah memberi andil besar dalam mengacaukan pendidikan politik kepada publik. Selain tentunya turut merusak tatanan berdemokrasi yang sehat dan elegan.

Sementara langkah meninggalkan kapal tempur 02 dan menyeberang ke kapal musuh (01), akan membuat para prajurit  partai pendukung yang berdarah-darah berjuang di kapal tempur 01, merasa tak dihargai dan dilihat sebelah mata perjuangannya. Sementara bila dalam rangka menjaga gempuran ombak di lautan DPR, kubu kapal politik 01 yang menguasai 349 kursi atau sekitar 62 persen kursi di DPR tak terlalu memerlukan tambahan dukunganyang sangat (urgen) dibutuhkan. Apalagi dengan pertimbangan; semudah mereka menyeberang, semudah itu pula mereka meninggalkan kapal tempur dalam pertempuran yang lain. Kecuali pendidikan politik publik dianggap tak penting oleh Jokowi.

Hal yang mungkin dapat ditoleransi dan bahkan didukung bila menerima penyeberangan didasari pertimbangan dan desain politik yang lebih berorientasi pada pendekatan ideologis. Maka bukan hanya partai pendukung yang akan menerima, tapi mayoritas publik akan menyambut baik. Penguatan kubu partai berbasis Nasionalis-Pancasilais dalam desain koalisi permanen, merupakan jawaban strategis dalam menjawab kekisruhan politik yang mencampuradukan agama dan politik dalam satu gerak tanpa kejelasan garis pemisah. 

Sebenarnya bangsa ini telah mendapat pendidikan politik yang sangat baik akan garis pemisahan ini sebagaimana diperagakan oleh Nahdlatul Ulama yang dalam penerjemahan praktik kegiatan politik praktisnya dimanifestasikan oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Di mana Islam dan Nasionalisme merupakan perpaduan saling menguatkan yang justru harus dibangun sebagai fondasi bangunan kebangsaan Indonesia yang menempatan Islam yang rahmatan lil alamin sebagai sebagai pijakan bangunan perpaduan ini. Sementara Bung Karno menempatkan Kemanusiaan  sebagai pijakan bangunan Nasionalisme Indonesia (Nasionalisme yang humanis).

Dari aspek politik praktis sehubungan hajatan politik 2024, nama-nama seperti AHY dan Sandi bisa jadi merupakan nama yang bila Jokowi memberi ruang kekuasaan di pemerintahan, akan mengganggu kader-kader partai seperti PDIP dan PKB misalnya, yang telah mengelus-elus kadernya untuk maju dalam pergulatan Pilpres 2024. Dari kedua nama ini yang mungkin lebih bisa diadopsi dan sekaligus menjadi perwakilan kubu 02 adalah Sandiaga Uno. Di samping  posisinya tidak lagi menjadi anggota partai Gerindra, ia tak mempunyai dukungan nyata dari pemilik partai sekaligus figur kharismatik yang berada di belakangnya. Sangat berbeda dengan AHY yang selalu saja melibatkan Cikeas sebagai personal back-up nya.

Sementara mereka para kader Partai Amanat Nasional dipastikan bukan merupakan ancaman serius. Apalagi bila yang diadopsi sebagai perwakilan adalah kader dengan latar belakang politik dan budaya seperti terlembaga dalam diri seorang Bara Hasibuan. Dengan pertimbangan melalui pendekatan ideologis dengan tanpa mengenyampingkan pertimbangan politik praktis ini, rasanya Jokowi akan memenangkan dukungan penuh, baik dari partai maupun publik.

Jadi, bila banyak komentar yang mengatakan bahwa masalah pemilu dan turunannya selesai di hari Minggu Legi warig agung, mengapa saya lebih memaknai sebagai ‘the beginning of the real power game’. Di sinilah penilaian kualitas, kejelian, kapabilitas, dan kecerdasan intelektual-spiritual para politisi maupun Jokowi-A.Ma’ruf diuji. Akankah Jokowi naik kelas atau tinggal kelas? Sehingga ucapan selamat disertai embel-embel ‘sampai 2024’ hendaknya dimaknai sebagai doa sekaligus peringatan dini. Peringatan untuk menangkal ‘tsunami politik’ yang ditimbulkan oleh gempa buatan --yang oleh dukungan kecanggihan teknologi menjadi berkekuatan yang memiliki daya untuk menggoyang dan merontokkan.

Sebaiknya bagi para pendukung Indonesia Adil Makmur lewat pembangunan demokrasi yang sehat dan kuat serta mengakar lewat kultur dan natur bangsanya sendiri, mengawal pemerintahan Jokowi menjadi keharusan. Paling utama membantunya dan minimal memberi masukan maupun kritik sehat yang membangun dan menyegarkan. Anti Hoax dan anti fitnah!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol             Dehumanisasi di Hari Kemanusiaan Internasional terhadap Masyarakat Papua