Semangat Gotong Royong Indonesia Itu Riil, Gaes
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 30 July 2021 18:35
Watyutink.com – Dibalik derita pandemi Covid-19, banyak cerita kedermawanan yang tersembunyi, senyap dari publikasi. Hanya diketahui terbatas, itu pun setelah penyintas Covid-19 bercerita kalau dirinya mendapatkan sejumlah bantuan.

Erna, seorang ibu tangga, misalnya, harus menjalani isolasi mandiri di rumah. Dia sempat dirawat 10 hari di rumah sakit lantaran terpapar Covid-19 hingga mengharuskannya terbaring di ruang isolasi dengan bantuan oksigen. Beruntung dia selamat, sementara teman sekamarnya harus meregang nyawa tak mendapatkan oksigen dari parunya yang rusak akibat virus corona.

Lepas dari rumah sakit tidak menghapus kekhawatiran Erna. Dia dan tiga anaknya yang juga terkena Covid-19 terancam tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup lantaran tak memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan siap saji. Dia juga tidak bisa keluar rumah untuk membeli bahan makanan yang lebih murah.

Beruntung dia memiliki saudara, tetangga, dan teman yang peduli. Bantuan pun berdatangan. Berganti-ganti barang yang tergantung di pagar rumahnya. Ada bahan makanan, masakan siap santap, camilan, bahkan ada juga barang kebutuhan khusus perempuan.

Cerita kedermawanan seperti ini tidak selalu terekspos dalam berita dan menjadi viral, tetapi ia hidup dalam kegiatan keseharian masyarakat. Jika sekarang masyarakat dihebohkan oleh berita donasi sebesar Rp2 triliun dari seorang pengusaha Akidi Tio untuk mengatasi pandemi Covid-19 di Sumatera Selatan, merupakan satu penegasan bahwa Indonesia belum kehilangan jatidirinya sebagai bangsa yang memiliki semangat gotong royong.

Maka pantas jika lembaga seperti The Charities Aid Foundation (CAF) dalam laporan Indeks Kedermawanan Dunia (World Giving Index) menobatkan Indonesia sebagai negara nomor satu dalam praktik gotong royong menolong sesama pada tahun ini.

Predikat ini kembali direbut Indonesia dan tetap berada di urutan pertama sebagai negara paling dermawan di dunia setelah pada waktu sebelumnya juga meraih prestasi yang sama. Indonesia dinilai dermawan dalam membantu sesama, membantu orang asing, dan mengeluarkan sumbangan materi.

Selama pandemi Covid-19, skor Indonesia justru meroket. Pada 2018, skor Wolrd Giving Index Indonesia berada di angka 59 persen, melonjak menjadi 69 persen pada tahun ini. Salah satu faktor pendorongnya adalah warisan kearifan sosial, yaitu agama dan budaya komunal yang dimiliki bangsa Indonesia.

Sekalipun pandemi membatasi aktivitas masyarakat secara fisik dengan adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), teknologi digital membantu kearifan komunal tetap berjalan sehingga sumbangan dan bantuan justru meningkat yang digalang melalui media sosial.

Semangat gotong royong yang diperkuat melalui penggunaan teknologi digital secara masif menyeret generasi milenial dan Gen Z dalam aksi kedermawanan ini, karena merekalah yang dominan menguasai jagat maya ini. Perangkat lunak ini menjadi media mereka untuk beramal.

Semangat gotong royong ini pada sisi lain efektif dalam menangkal Covid-19. Kedermawanan disebut-sebut dapat meningkatkan imun tubuh, dan menciptakan rasa bahagia karena alasan kebersamaan. Harvard Medical School menyebutkan bahwa ketika kita bahagia dan tidak stres, imun tubuh meningkat.

Pembatasan fisik selama pandemi berpotensi membuat masyarakat merasa terisolasi, tidak nyaman dan mengalami ketakukan karena sendirian menjalaninya. Namun praktik gotong royong mengembalikan manusia kepada hakikatnya sebagai makhluk sosial, memiliki komunitas, menumbuhkan kebahagiaan, membangun harapan dan pertolongan sehingga masyarakat tidak harus selalu diliputi oleh kecemasan.

Jika kemudian muncul lebih banyak penderma di Tanah Air selama masa pandemi tentu tidak  ditujukan untuk meraih predikat sebagai negara paling dermawan di dunia, tetapi untuk menunjukkan kepada dunia bahwa semangat gotong royong itu riil ada di Indonesia, gaes!

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF