Sinergi Dunia Usaha Mewujudkan Ekonomi Gotong Royong
YB. Suhartoko, Dr., SE., ME
Dosen Program Studi S1 Ekonomi Keuangan dan Perbankan dan Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya Jakarta
berita
Berpikir Merdeka
12 July 2019 10:30
“The European Commission considers SMEs  and entrepreneurship as key to ensuring economic growth, innovation, job creation, and social integration in the EU”.

SMEs atau usaha mikro, kecil dan menengah di Uni Eropa menjadi tulang punggung ekonomi. Kiprah UMKM di Uni Eropa sangat signifikan, 99 dari 100 pengusaha adalah pengusaha UMKM, 2 dari 3 tenaga kerja di UMKM menghasilkan 57 sen per 1 Euro nilai tambah yang dihasilkan, 9 dari 10 UMKM adalah usaha mikro yang mempekerjakan kurang dari 10 tenaga kerja. Tenaga kerja mempunyai kontribusi terhadap output yang dihasilkan.Sumbangan tenaga kerja terhadap output berdasarkan skala usaha, usaha mikro, kecil dan menengah masing-masing  sebesar 29 persen, 20 persen dan 17 persen, sedangkan usaha besar sebesar 34 persen.

Potret UMKM Indonesia

Pernyataan  European Commission dan perkembangan UMKM di Uni Eropa yang seringkali diberi stempel kapitalis dan liberalis menunjukkan bahwa strategi pengembangan dunia usaha dan industri sangat memperhatikan UMKM. Bagaimana perkembangan dan kontribusi UMKM di Indonesia?  Perlu kiranya ditelusuri bagaimana perkembangan UMKM yang ditinjau dari jumlah pelaku usaha, penyerapan tenaga kerja, nilai tambah yang dihasilkan, serta produktivitas tenaga kerjanya.

                        KONDISI UMKM INDONESIA

Mengacu pada data tersebut, secara umum  UMKM mendominasi jumlah usaha dibandingkan usaha besar. Dari sisi penyerapan tenaga kerja juga menunjukkan bahwa UMKM, terutama usaha mikro menjadi tumpuan penyerapan tenaga kerja. UMKM mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 107,2 juta orang dibandingkan usaha besar yang hanya mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 3,6 juta pada tahun 2017.

Lebih khusus lagi potret UMKM dalam dunia industri di Indonesia tidak begitu menggembirakan. Berdasarkan data tahun Susenas 2015, jumlah pelaku industri usaha mikro dan kecil mencapai 99,35 persen (3.668.603), usaha menengah 0,46 persen dan usaha besar hanya 0,19 persen. Industri mikro dan kecil mampu menyerap 66,67 persen (9.878.905 0rang), Industri sedang atau menengah sebesar 29,0 persen dan industri besar hanya sebesar 4,73 persen. Kontribusi UMKM terhadap penyerapan tenaga kerja mencapai 96,5 persen, namun demikian kontribusinya terhadap PDB hanya 58,5 persen.

Namun demikian dari sisi nilai tambah yang dihasilkan, industri besar dengan pelaku industri dan penyerap tenaga kerja paling kecil bahkan menghasilkan nilai tambah terbesar, senilai Rp1.361.794 milyar atau 68,13 persen, industri menengah 5,16 persen dan industri mikro dan kecil 26,18 persen.

Hal yang sama juga terjadi dalam produktivitas. Industri mikro dan kecil produktivitas tenaga kerja paling kecil sebesar Rp52.977.000, sedangkan industri besar Rp315.611.000. Hal ini dapat terjadi, karena profil pendidikan pelaku usaha kecil dan menengah didominasi tingkat pendidikan SD dan tidak tamat SD sebanyak 1.881.609 pengusaha, sedangkan yang berpendidikan diploma sampai S3 hanya sebesar 2 persen. Gambaran tingkat pendidikan ini menunjukkan kapasitas dari usaha mikro dan kecil untuk menyerap pengetahuan, mengimplementasikan, dan membangun bisnis sangat terbatas. Kontribusi terhadap ekspor 16,5 persen dan terhadap investasi 56,5 persen.

Rekomendasi Kebijakan

Bangsa Indonesia sudah sejak lama mempunyai jargon “Ekonomi Gotong Royong” . Diskusi dan seminar bagaimana memberdayakan UMKM, koperasi  telah banyak dilakukan, namun demikian hasil nyatanya hampir tidak kelihatan. Potret mikro dan makro menunjukkan betapa UMKM berkontribusi sangat signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja dan jumlah pengusahanya relatif besar dibandingkan pengusaha besar, namun demikian penciptaan nilai tambah, produktivitas dan kontribusi terhadap PDB relatif rendah.

Kondisi ini menunjukkan ketimpangan yang harus dibenahi untuk menjamin pembangunan yang berkelanjutan. Keberpihakan pemerintah terhadap UMKM sudah saatnya direalisasi, dimonitor dan dievaluasi secara komprehensif. Saatnya mewujudkan ekonomi gotong royong dengan melakukan sinergi pengusaha besar dan UMKM. Sinergi dapat dilakukan dalam hal produksi, pemasaran, keuangan dan teknologi yang saling menguntungkan. Pemerintah berperan sebagai katalisator dan fasilitator agar sinergi yang kuat segera terealisasi. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah penegakan hukum persaingan usaha harus terlaksana dengan baik. Penguasaan pasar oleh segelintir pengusaha yang dapat mempermainkan harga dan distribusi barang harus segera dikikis untuk memujudkan perekonomian yang lebih adil.

Jika gotong royong dan keadilan  antara UMKM, pengusaha besar dan pemerintah terjadi dengan baik, maka keyakinan Indonesia mempercepat pembangunan yang berkualitas akan tercapai. (pso)

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Polisi Tunduk Pada Hukum             Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?