Taper Tantrum Ancam Pemulihan Ekonomi, Waspadalah!
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 15 June 2021 12:00
Watyutink.com – Gempuran pandemi Covid-19 di Tanah Air kembali meningkat akhir-akhir ini pasca Lebaran dan liburan. Sejumlah daerah kembali kepada zona merah, bahkan ada yang hitam karena melonjaknya jumlah orang yang terpapar virus corona.

Berita buruk tersebut membayangi kegembiraan bahwa ekonomi Indonesia akan pulih lebih cepat pascaresesi yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Beberapa indikator menunjukkan geliat ekonomi yang sangat kuat belakangan ini.

Sebagai contoh Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Indeks ini terus menguat yang menunjukkan konsumen semakin percaya diri melihat perekonomian saat ini dan beberapa bulan ke depan. Bank Indonesia mengungkapkan IKK periode Mei 2021 sebesar 104,4, meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 101,5. IKK berada di atas 100 bermakna konsumen optimistis memandang perekonomian.

Bank Indonesia menyebutkan keyakinan konsumen terpantau membaik pada sebagian besar kategori seperti tingkat pengeluaran, tingkat pendidikan, dan kelompok usia responden. Secara spasial, keyakinan konsumen membaik di enam kota yang disurvei, tertinggi di kota Medan, diikuti oleh Surabaya dan Manado.

Kenaikan IKK menjadi indikasi meningkatnya konsumsi dan semakin menguatkan ekspektasi Indonesia lepas dari resesi mulai kuartal kedua tahun ini.

Membaiknya IKK berbarengan dengan menguatnya Purchasing Managers’ Index Indonesia. IHS Markit merilis data aktivitas sektor manufaktur yang memperlihatkan PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2021 sebesar 55,3, naik dibandingkan April yang berada di posisi 54,6. PMI manufaktur pada April sudah yang tertinggi, namun masih naik lagi pada Mei sehingga memecahkan rekor angka PMI yang ada sebelumnya.

Terus meningkatnya ekspansi sektor manufaktur menjadi kabar bagus bagi Indonesia, dan memperkuat optimisme akan lepas dari resesi. Sektor manufaktur berkontribusi sekitar 20 persen terhadap produk domestik bruto Indonesia.

Kabar baik lain adalah lapangan kerja mulai tercipta. Dunia usaha melakukan rekrutmen tenaga kerja untuk kali pertama dalam 15 bulan terakhir untuk mengimbangi peningkatan produksi. Kenaikan permintaan membuat perusahaan meningkatkan kapasitas.

Membaiknya sejumlah indikator ekonomi tersebut diharapkan terus bertahan, tidak terganggu oleh lonjakan penularan Covid-19. Belajar dari pengalaman sebelumnya, diharapkan pemerintah dan masyarakat dapat mengatasinya dengan baik, sehingga pandemi tidak menjadi bencana bagi pemulihan ekonomi.

Ancaman terhadap pemulihan ekonomi Indonesia justru datang dari luar negeri berlabel taper tantrum, seiring dengan rencana kebijakan pengetatan uang melalui instrumen suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed.

Taper tantrum pernah terjadi pada pertengahan 2013. Saat itu The Fed mengeluarkan kebijakan tapering untuk menyedot kembali likuiditas yang banjir pascapenanganan krisis finansial global pada 2008.

Krisis finansial global 2008 memaksa The Fed menerapkan pelonggaran likuiditas (quantitative easing/QE) dalam tiga tahap mulai 2008 hingga 2012. Namun kebijakan suku bunga rendah dan QE membuat perekonomian Negeri Paman Sam banjir likuiditas, sehingga dolar AS loyo. Ketika itulah muncul tapering yang membuat dolar AS kembali perkasa hingga 2015.

Rupiah menjadi salah satu korban keganasan taper tantrum kala itu. Sejak The Fed mengumumkan tapering Juni 2013 nilai tukar rupiah terus melorot hingga puncak pelemahannya pada September 2015.

Kurs rupiah yang berada di level Rp 9.790 per dolar AS pada akhir Mei 2013, jeblok ke level Rp 14.730 per dolar AS pada 29 September 2015 atau merosot lebih dari 50 persen. Begitu juga indeks harga saham gabungan (IHSG) yang mengalami aksi jual sehingga anjlok 23 persen pada periode Mei-September 2013.

Jika tapering ini muncul kembali dan kemungkinan dolar AS akan ‘mengamuk’ (tantrum) seperti pada kejadian 2013, maka dikhawatirkan rupiah dan IHSG akan terkena dampaknya. Penurunan nilai tukar rupiah akan berdampak luas terhadap perekonomian Indonesia.

Pemerintah dan otoritas moneter tampak kalem menghadapi potensi ancaman taper tantrum kali ini. Mereka cukup optimistis bahwa dampaknya tidak akan sebesar seperti pada 2013 - 2015.

Semoga Indonesia bisa mengatasi dampak taper tantrum dengan baik. Jangan sampai sikap ‘pede’ membuat kita lengah seperti yang terjadi pada awal merebaknya Covid-19. Di saat semestinya mengambil sikap waspada dan antisipatif, justru menganggap tak terlalu berbahaya dan tidak menulari masyarakat. Akhirnya kita merasakan akibatnya hingga hari ini.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF