Terorisme dan Sel Kanker
Lukas Luwarso
Hubert Humphrey Fellow, University of Maryland, 2005 - 2006. Kolumnis
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 29 March 2021 15:52
Watyutink.com - Setiap kali terjadi aksi terorisme, khususnya modus bom bunuh diri, wacana publik selalu terpecah dalam dua kubu paradigma: “kubu negara” dan “kubu agama”. Dua kubu ini saling tuding. Kubu pertama menyebut fundamentalisme agama; kubu kedua menuduh ada “konspirasi politik” menyudutkan agama.

Tentu, kedua kubu, sembari saling tuding, sama-sama melontarkan pernyataan simpati pada korban (jika ada). Namun 23 tahun terakhir di era Reformasi, silang pandangan tentang aksi terorisme bermotif agama, selalu berkelindan dengan teori konspirasi “inside job” kerja aparat. Sering dibumbui dengan analisis “untuk mengalihkan perhatian publik” dari isu sosial politik yang sedang sensitif. 

Kata kunci suporter kubu pertama adalah “kekerasan agama”. Kata kunci suporter kubu kedua bersikukuh pada “agama kedamaian”. Yang pertama memastikan stereotip kekerasan yang kerap dilakukan penganut agama tersebut. Yang kedua memustahilkan kekerasan dilakukan oleh penganut agama yang mengajarkan kedamaian.

Aksi terbaru bom bunuh diri di Makassar, 28 Maret, memicu perdebatan dan pertanyaan yang terus berulang 20 tahun terakhir. Setelah peristiwa Bom Bali, mengapa teror bom masih terus terjadi di Indonesia? Mengapa negara gagal mengantisipasi atau memberantasnya? Mengapa fundamentalisme agama, yang membenarkan kekerasan, terus berkembang?

Mengapa terorisme begitu sulit ditumpas? Apakah negara dan aparatnya memang tidak kompeten menangani? Meskipun aparat dilengkapi segala prasarana teknologi dan didukung anggaran yang besar. Atau, jangan-jangan, ada simpatisan fundamentalisme di dalam tubuh aparat, yang terus menggunakan terorisme sebagai modus politik? Jangan-jangan terorisme sekadar permainan politik elite negara.

Alih-alih berwacana teori konspirasi, yang penuh dengan prasangka, nir-fakta, plus defisiensi logika. Mengupas terorisme bisa didekati dengan memakai logika saintifik. Alih-alih bertanya “mengapa”, pertanyaan yang lebih pas adalah “bagaimana”. 

Dengan memakai analogi penyakit kanker, terorisme mustinya bisa diidentifikasi dan diterapi dengan lebih akurat. Aksi terorisme mirip aksi sel kanker. Kanker beraksi pada level seluler pada tubuh manusia, terorisme beraksi pada level sosial-politik negara.

Kanker adalah sel yang “memberontak’, menolak patuh mereplikasi secara harmonis dalam jaringan sel sejenis. Ia bermutasi, tidak mau mengikuti mekanisme dan sistem sel yang sudah terprogram. Ia membelah diri tanpa bisa kontrol dan menjadi tumor. 

Penanganan kuratif pada sel kanker, melalui pengobatan atau kemoterapi, hanya akan mengurangi gejala sakit dan membunuh sejumlah sel kanker. Namun tidak akan memberantas kanker secara menyeluruh. Karena sel kanker mampu ber-metastasis, menyebar dari satu organ atau jaringan tubuh ke jaringan tubuh lainnya.

Terorisme, sebagaimana kanker stadium akut, memang sulit diberantas. Cara-cara kuratif hanya bisa menurunkan gejala. Memberantas terorisme, perlu pendekatan holistik terkait ekosistem sosial-politik negara. Sebagaimana memberantas kanker terkait ekosistem holistik kesehatan tubuh dan psikis individu manusia. Memakai analogi kanker, ada dua faktor penyebab mengapa terorisme sulit diberantas: 

Pertama, Genetis. Penyebab kanker, pada umumnya, adalah faktor genetis, penyakit yang diturunkan atau diwarisi dari generasi sebelumnya. Dalam konteks terorisme di Indonesia, benih-benih kanker terorisme memang sudah ada. Hasrat kelompok fundamentalis agama untuk menegakkan keyakinan, bahkan mengubah haluan negara, dengan cara-cara ekstrem memang ada (upaya menegakkan negara Islam Indonesia, dan aksi turunannya).

Kedua, Penanganan Medis. Aparat negara menangani terorisme cenderung secara “asimptomatik”. Tergerak melakukan pengobatan atau terapi secara drastis, ketika rasa sakit akibat kanker muncul. Aksi teror bukan diantisipasi atau dicegah melalui upaya treatment yang komprehensif. Terorisme ditangani seperti aksi kriminal biasa, sebagaimana kanker dianggap penyakit ringan (semacam masuk angin atau diare). Ketika kanker tidak menyerang, seolah diangggap tidak ada, hidup dijalani secara biasa, cenderung sembarangan.

Selain itu, kecenderungan penanganan politik ala era Orde Baru, sering masih terbawa sampai saat ini. Dulu di era otoriter, negara kerap menggunakan teror untuk menyemai rasa takut dan memastikan warga taklid pada opresi aparat. Negara sengaja menanam benih “kanker terorisme” sebagai modus operandi politik. Pendekatan politik yang diwarisi dari era Orba ini (sebagai sel kanker) tidak sepenuhnya lenyap dari mental aparat saat ini. Ini problem genetis yang terus diturunkan.

Perkubuan pandangan pro-kontra selalu mengiringi tragedi aksi teror di Indonesia. Alih-alih bersatu padu melawan terorisme, yang muncul justru prasangka bernuansa takhayul, “ada apa dibaliknya”. Ini akibat ketiadaan sikap saling percaya antara fundamentalis kubu negara dengan kubu agama (distrust society). Ketidakpercayaan pada kinerja aparat negara berkelindan dengan kepercayaan penuh (haqul yakin) pada motivasi keagamaan. 

Dan logika konspiratif menemukan dalih hiperbolis-nya. Ketika dalam skala global ada analisa “benturan peradaban” (clash of civilization) ala Samuel P. Huntington. Indonesia dianggap sebagai wilayah eksperimentasi “perang melawan terorisme”. Menjadikan Indonesia potensial sebagai Suriah atau Afghanistan baru. Analisa yang mengada-ada. Teori konspirasi pasti bukan penjelasan yang memadai untuk mengurai problematik terorisme. 

Seperti sel kanker, terorisme hanya bisa berkembang dalam ekosistem yang mendukung. Setiap manusia berpotensi memiliki benih kanker, sebagaimana setiap bangsa berpotensi terkena serangan teroris. Terorisme dan sel kanker punya kesamaan dalam hal sulit diberantas. Dan kesulitan itu berlipat ganda ketika warga bangsa itu terus berseteru dalam perkubuan pro-kontra, memupuk cara pikir konspiratif, getol mempersoalkan “siapa pelaku” dibalik aksi teroris. 

Memberantas terorisme, perlu dimulai dari memberantas cara berpikir fundamentalis dan perkubuan politis. Terorisme, seperti sel kanker, adalah problem yang kerap terpicu secara psikosomatis. Sikap obsesif merasa berada di pihak yang pasti benar adalah simptomnya. Berdisiplin menjaga kesehatan nalar dan berpikir kritis, adalah upaya awal. 

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI