Vaksin Nusantara dan Sains
Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/ watyutink. com 16 April 2021 18:00
Watyutink.com - “Vaksin Nusantara” (Vanus) menjadi topik polemik seru terkait upaya melawan pandemi Covid-16. Upaya membuat vaksin “produk dalam negeri” kebanggaan bangsa tentu perlu disambut baik. Khususnya terkait slogan yang dicanangkan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu, meminta warga untuk mencintai produk dalam negeri (sekaligus membenci produk asing).

Namun, karena memproduksi vaksin tidak semudah membuat ikan asin, banyak soal perlu mendapat perhatian. Vaksin adalah produk sains yang memerlukan proses penelitian dan pengujian ketat agar menjadi produk yang aman dan efektif. Memproduksi Vaksin bukan sejenis komoditi sembarangan, yang bisa dipermainkan untuk kepentingan politik atau bisnis sesaat. 

Vanus sebagai produk sains alih-alih mengikuti metode sains, kini diarahkan menjadi komoditi isu politis, dan boleh jadi kepentingan bisnis. Keterlibatan sejumlah politisi, yang bersedia menjadi “relawan” uji coba, dan menyampaikan dukungannya, mengaburkan persoalan dari metode sains menjadi sentimen nasionalisme.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum memberikan persetujuan fase penelitian lanjut Vanus karena menilai masih perlu perbaikan. Namun Tim Vanus bertekad tetap melanjutkan penelitian uji klinis fase dua sembari mengajak sejumlah figur politisi untuk mengampanyekan (mengendorse) produk ini. 

Berbeda dengan berbagai jenis vaksin Covid-19 yang sudah diproduksi dan diinjeksikan di berbagai negara, Vanus berbasis pada sel dendritik yang lazimnya untuk imunoterapi tumor. Penelitian ekstra-intensif masih perlu dilakukan untuk Vanus, mengingat efektivitas vaksin berbasis sel dendritik masih dalam uji coba sangat awal.

Vanus juga bersifat vaksin personal, disesuaikan dengan masing-masing penerima (customize). Metode Vanus, dengan demikian, sedikit lebih rumit ketimbang vaksin lainnya. Konsekuensinya harga Vanus berpotensi menjadi lebih mahal, selain soal kemujaraban yang sejauh ini belum sepenuhnya teruji. Vanus menjadi kurang efektif untuk masa pandemi, karena customize, kurang praktis dan memakan waktu.

Vanus belum memenuhi kaidah sebagai vaksin yang  diperlukan mendesak untuk pemberian vaksinasi massal. Jika efektivitasnya terbukti nanti, Vanus lebih cocok untuk vaksin inisiatif perseorangan. Itupun setelah melewati pengujian berbasis saintifik yang ketat (rigorous). BPOM menyebut Vanus “belum memenuhi pharmaceutical grade” (nilai uji pengobatan).

Jika hasil uji klinis belum meyakinkan, maka kampanye yang bertujuan politik, untuk mencari dukungan, jelas pendekatan yang salah. Bahkan berbahaya, karena bersifat kamuflase, untuk menutupi kelemahan substansi dan teknis. Jika dipaksakan Vanus bahkan bisa menimbulkan persoalan serius, terkait jaminan keamanan, khasiat dan kualitas produk.

Pemerintah dan publik perlu satu suara untuk persoalan yang sangat penting menyangkut kesehatan dan mati-hidup warga di masa Pandemi ini. Tidak semestinya produksi vaksin dikaitkan dengan semangat heroisme yang tidak relevan. Vaksin merah putih, produksi “anak bangsa”, hanya menjadi slogan tak bermakna. Apalagi adanya info bahwa riset Vanus sebenarnya tidak sepenuhnya “karya anak bangsa”, melainkan melibatkan produk bangsa Amerika.

Berbeda dengan dunia politik atau dinamika sosial yang boleh menolerir “wilayah abu-abu”, pro-kontra, dukung-mendukung opini. Dunia sains mustinya tidak perlu diwarnai sentimen emosional yang tidak bermanfaat. Sentimen kebangsaan atau kebanggaan pada produk dalam negeri, relevan untuk produk manufaktur, pangan, atau teknologi aplikatif yang memang sudah dikuasai. Yang sudah terbukti Indonesia mampu berinovasi dan memliki kompetensi.

Kampanye bernuansa politis terkait “Vaksin Nusantara” ini mengingatkan retorika kontroversial soal vaksin beberapa bulan lalu. Politisi PDIP, Ribka Tjiptaning menolak vaksinasi, dengan nada berkampanye. Ia menganggap vaksin berbahaya. Kampanye Vanus, adalah contoh ekstrem pendulum sebaliknya, “sangat percaya” vaksin produk dalam negeri.

Dunia sains tidak memerlukan ekstremitas pendapat seperti ayunan pendulum. Tidak  memerlukan sentimen emosional menolak seperti Ribka, atau mendukung ala Aburizal Bakrie yang begitu “hakul yakin” pada Vanus. Vaksin adalah produk riset sains yang kemanjuran dan efektivitasnya perlu diuji berbasis penelitian ang ketat. Vaksin tidak memerlukan opini atau dukungan politik agar berkhasiat.

Drama politik Vaksin Nusantara beberapa hari ini hanya menunjukkan tidak bermutunya kualitas politisi Indonesia. Untuk hal-hal yang mereka tidak pahami, politisi mustinya diam dan mengikuti proses metode saintifik yang perlu diterapkan dengan ketat. 

Cairan vaksin yang disuntikkan ke tubuh manusia adalah satu upaya terukur dari rangkaian proses panjang penelitian dan uji coba berbasis sains modern. Menjadi harapan bagi lenyapnya kepedihan yang menderita akibat Covid-19 lebih dari setahun terakhir. Tidak semustinya dipermainkan menjadi komodifikasi kepentingan politik, atau bisnis, untuk melawan pandemi Covid-19.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF