Wacana Bioteknologi untuk Bumi Bersih
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
13 July 2019 10:45
Watyutink.com - Jurassic Park, film blockbuster mendebarkan karya Steven Spielberg (1993), berkisah tentang sekelompok ilmuwan di sebuah taman hiburan dengan penghuni dinosaurus yang diciptakan dari DNA prasejarah. Tempat yang dianggap aman itu kemudian mengalami gangguan listrik, sehingga dinosaurus yang ada tidak dapat dikendalikan, melepaskan diri dan mengamuk.

Suksesnya Jurassic Park terus berlanjut dengan film keempat, Jurassic World (2015), tentang taman hiburan baru di situs asli Jurassic Park. Isinya Indominus Rex, dinosaurus hibrida hasil modifikasi  genetik, yang kemudian  lepas dari kurungan dan membunuh beberapa orang. Film keenam, Jurassic World 3 direncanakan tahun 2021 dengan plot yang masih dirahasiakan.

Tenarnya Jurassic Park tidak lepas dari bioteknologi yang perkembangan ilmunya membuat film-film berikutnya semakin menarik dan menegangkan.

Menurut Biotechnology Innovation Organization, bioteknologi memanfaatkan proses seluler dan biomolekuler dalam mengembangkan teknologi dan produk untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan kesehatan planet Bumi.

Pada bioteknologi kesehatan, studi DNA dilakukan untuk manipulasi susunan genetik sel untuk pengembangan obat-obatan maupun perawatan kesehatan. Dalam bioteknologi pertanian, modifikasi secara genetik dapat meningkatkan hasil panen maupun menciptakan tanaman tahan hama. Sedangkan bioteknologi industri mengarah pada penciptaan produk seperti bahan kimia, bahan makanan, deterjen, kertas, tekstil, dan biofuel.

Karena berbagai keistimewaannya, bioteknologi berkembang pesat sebagai industri, dengan berbagai hasil menguntungkan secara finansial. Namun ini bukan tanpa risiko. Future of Life Institute, organisasi yang bergiat mengurangi risiko yang dihadapi umat manusia, dengan Elon Musk sebagai salah satu penasihatnya, memaparkan konsekuensi bioteknologi.

Bioteknologi yang dalam prosesnya menggunakan DNA (pembawa sifat) untuk rekayasa genetika dan kultur jaringan tanaman, mungkin membawa risiko lebih besar dibandingkan bidang ilmu lainnya. Hal ini karena kecilnya dan sulit terdeteksinya mikroba. Selain itu sel yang direkayasa dapat memperbanyak diri dan menyebar di alam. Risiko dapat terjadi melalui dampak yang tidak disengaja dari penelitian yang sebenarnya bertujuan baik ataupun dari manipulasi biologis yang memang dimaksudkan untuk menyebabkan kerusakan.

Dr. Kartika Adiwilaga, pemerhati bioteknologi yang berpengalaman di mancanegara menjelaskan, kemajuan bioteknologi memberikan peluang untuk mengurangi dampak perubahan iklim terhadap produksi dan distribusi pangan.

Misalnya, tanaman yang direkayasa secara genetika untuk meningkatkan toleransi kekeringan atau efisiensi fotosintesis, dapat membantu mempertahankan atau bahkan mempercepat hasil panen. Sementara untuk mengurangi karbon dioksida di atmosfer, tanaman dapat direkayasa secara genetika untuk dapat mengikat lebih banyak karbon dan menumbuhkan akar yang lebih dalam dan karenanya meminimalkan pengembalian karbon ke udara.

Bioteknologi juga dapat membantu mengurangi pencemaran maupun memulihkan sebuah lokasi yang tercemar, karena mikroba dapat menguraikan bahan kimia di lingkungan. Instalasi pengolahan air limbah, misalnya, memanfaatkan mikroba untuk membersihkan air limbah sebelum dialirkan kembali ke badan air seperti sungai dan danau.

Sesuai informasi Biotechnology Innovation Organization, manusia telah menggunakan proses biologis pada mikroorganisme selama lebih dari 6000 tahun, khususnya dalam membuat produk makanan yang bermanfaat, seperti roti dan keju, maupun mengawetkan produk susu. Maka, selayaknya, bioteknologi tidak harus melanggar etika, membahayakan ataupun mematikan.

Berjayanya rangkaian film Jurassic Park dan perkembangan bioteknologi membuat Greta Kaul, penulis untuk media San Francisco Chronicles mewawancarai beberapa ilmuwan. Mereka berbincang tentang kemungkinan menghidupkan kembali dinosaurus. Kendalanya, belum ada yang dapat menemukan DNA hewan raksasa yang sudah punah 65 juta tahun lalu itu.

Kembalinya dinosaurus untuk hidup di Bumi mungkin lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya, karena untuk memeliharanya diperlukan biaya yang luar biasa besar. Selain itu sumber daya alam yang terbatas lebih baik digunakan untuk memelihara makhluk hidup yang ada dan menjadikan Bumi lebih bersih.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar