Apa Yang Terjadi Pada Otak Saat Anda Patah Hati
berita
pixabay.com
21 July 2019 09:00

--Jika jatuh cinta adalah candu, maka patah hati bagaikan pecandu yang berhenti mengkonsumsi zat adiktif apapun.--

Watyutink.com - Jatuh cinta merupakan kegiatan rutin bagi manusia, bahkan sampai ada judul lagu ‘jatuh cinta biasa saja’. Kendati demikian, jatuh cinta tidak boleh diremehkan sebab cinta yang berbunga menjadikan dunia lebih indah dan berwarna. Meski indah, jatuh cinta juga bisa berakhir dengan patah hati, seakan seluruh duniamu runtuh, menjadi hitam putih saja. Meski tak semua orang akan mengekspresikan rasa patah hati yang begitu dalam namun otak anda merespon patahnya hati melalui sel-sel saraf yang bertugas.

Tahukah Anda, banyak hal ini bisa terjadi pada otak anda saat patah hati?

Stress-induced cardiomyopathy nama ilmiah dari patah hati. Semua orang pernah patah hati entah karena putus cinta, ditplak lingkungan atau dikecewakan orang terdekat. Patah hati menimbulkan rasa sesak dan nyeri yang menumpuk pada dada. Hal ini terjadi karena otak tidak memproduksi hormon bahagia seperti dopamine dan oksitosin dan dilarikan ke dada yang membuat perasaan sakit dan patah hati yang memilukan.

Ketika kehilangan cinta maka tubuh kehilangan neurotransmitter, sebagai pengantar rasa bahagia yang membanjiri seluruh tubuh anda. Hasil penelitian, Edward seorang ahli neurologi dari Culombia University menungkapkan bahwa bagian aktif dari otak saat jatuh hati dan patah hati adalah sama. Paa saat patah hati bagian otak yang sama aktif ketika jatuh cinta kemudian merespon rasa sakit yang terjadi saat terluka pada fisik. Bagi otak manusia, patah hati sangatlah nyata, sehingga otak tidak hormon dopamine yang hilang atau berkurang diartikan sebagai kesakitan fisik dan kelehahan.

Saat patah hati juga menyebabkan bagian prefrontal cortex pada otak anda tidak berfungsi. Bagian ini berfungsi untuk mengolah dan menganalisis informasi secara objektif. Ketika berada pada kondisi ini otak akan memasuki kondisi panic, otomatis tubuh juga akan dibanjiri hormon stress seperti kortisol dan epinephrine yang mengakibatkan kram, sakit kepala, nyeri dada, dan kelelahan. Pada kondisi tertentu dapat menyebabkan gangguan tidur dan hilangnya selera makan anda, tergantung seberapa lama anda bisa segera move on.

Kebalikan saat jatuh cinta, tubuh akan mengeluarkan hormon cortisol dan epinephrine saat patah hati. Jika hormon dopamin dan oksitosin hormon cortisol dan epinephrine ini menyebabkan otot membengkak, sakit kepala, leher kaku dan dada terasa sesak. Selain itu, masalah lain dapat terjadi, seperti kram perut, diare, masalah tidur hingga kehilangan nafsu makan.

Maka patah hati bukanlah kondisi yang menguntungkan jika anda tidak segera mensiasatinya dengan kegiatan yang menyenangkan dan lebih berguna. Namun jangan kuatir, patah hati tidaklah menyebabkan dunia anda benar-benar runtuh. Sama seperti tubuh, maka otak juga memerlukan waktu untuk menyesuaikan dan menyembuhkan dirinya sendiri. Keajaiban otak anda mempengaruhi kondisi tubuh dan menjadi penentu seberapa lama akan move on. Jika anda sedang patah hati, maka hal itupun baik untuk segera memperbaiki diri dan hidup.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar