Bahaya Dibalik Penggunaan Piring dan Mangkok Styrofoam, Bisa Picu Kanker dan Gangguan Saraf
berita

18 September 2019 17:14
Watyutink.com – Saat ini banyak kita temui penggunaan wadah makanan, seperti piring atau mangkok yang terbuat dari styrofoam. Wadah tersebut kerap digunakan di acara-acara pernikahan, arisan, dan sebagainya. Biasanya tujuannya untuk mempermudah panitia acara. Tidak seperti penggunaan piring atau mangkok pada umumnya yang harus dicuci, wadah styrofoam bisa langsung dibuang.

Namun ternyata penggunaan wadah dari styrofoam tidak dianjurkan. Pasalnya styrofoam bisa merugikan kesehatan dan memicu berbagai penyakit.

Tahukah Anda, apa saja bahaya menggunakan wadah makanan dari styrofoam?

Styrofoam diketahui mengandung berbagai zat kimia seperti benzene dan styrene. Kedua bahan kimia tersebut dipercaya bisa berakibat buruk bagi kesehatan manusia. Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menyatakan benzene dan styrene adalah zat kimia bersifat karsinogenik yang bisa memicu penyakit kanker.

Para ahli menyebut, styrofoam bisa menimbulkan bahaya jika terkena makanan atau bahan bersuhu tinggi, seperti kuah atau makanan panas lainnya. Suhu panas tersebut dikhawatirkan membuat makanan terkontaminasi zat kimia benzene dan styrene. Itulah sebabnya penggunaan wadah styrofoam untuk makanan panas sangat tidak dianjurkan.

Selain itu durasi kontak styrofoam dengan makanan juga sangat berpengaruh.  Semakin lama terkena styrofoam, semakin besar pula kemungkinan makanan terkontaminasi zat kimia berbahaya.  

Tingginya lemak dalam makanan juga mempengaruhi tingkat bahaya yang ditimbulkan. Semakin lama makanan ditempatkan di wadah styrofoam, semakin besar pula kemungkinan makanan terkontaminasi zat kimia styrene. Meski hingga kini para ahli belum mengetahui secara pasti mengapa lemak bisa menjadi penyebab perpindahan styrene ke dalam makanan.

Sebenarnya WHO menyatakan styrene hanya akan menimbulkan bahaya bagi kesehatan jika jumlahnya melebihi 5000 part per milion (ppm). Sedangkan wadah makanan umumnya hanya mengandung kadar styrene sekitar 0,05 ppm.  

Meski demikian penggunaan wadah makanan styrofoam tetap saja mengkhawatirkan. Pasalnya beberapa gangguan kesehatan bisa muncul akibat penggunaan piring atau mangkok berwarna putih ini. Beberapa hal yang mungkin terjadi akibat penggunaan wadah styrofoam adalah gangguan pada sistem saraf. Selain itu kontaminasi  styrene bisa menyebabkan sakit kepala dan meningkatkan risiko leukimia dan limfoma, keduanya termasuk dalam penyakit kanker darah.

Bagi wanita hamil sangat disarankan tidak menggunakan wadah makanan dari styrofoam. Pasalnya penggunaan wadah makanan tersebut dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin. Dikhawatirkan bayi lahir cacat akibat kondisi tersebut.  

Kalau pun terpaksa menggunakan wadah makanan styrofoam, sebaiknya lakukan beberapa cara agar meminimalisir kemungkinan kontaminasi zat kimia berbahaya. Salah satunya dengan tidak menggunakan wadah styrofoam berulang kali. Gunakan wadah tersebut hanya sekali dan lalu buang.

Hindari penggunaan styrofoam untuk makanan panas. Hindari pula kontak langsung makanan dengan styrofoam. Bisa dengan menggunakan plastik atau kertas nasi sebagai alas makanan dalam wadah styrofoam. Jika makanan bersifat asam atau mengandung banyak lemak sebaiknya tidak menggunakan wadah styrofoam. (cp)

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

FOLLOW US

Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja