Benarkah Penderita Penyakit Jantung Dilarang Naik Pesawat Terbang, Berikut Penjelasannya
berita
Sumber Foto : health.detik.com
07 October 2019 17:00
Watyutink.com – Pesawat Silk Air tujuan Singapura-Cairns, Australia terpaksa mendarat darurat di Bandara Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (6/10/2019). Hal ini setelah salah seorang penumpangnya diketahui mendapat serangan jantung saat berada di atas pesawat. Penumpang bernama Sally Ann, asal Inggris tersebut akhirnya mendapat perawatan di Cardiac Center, RS Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar.

Peristiwa serupa juga terjadi pada Rabu (18/9/2019). Saat itu pesawat Thai Airways TGA 465 rute Bangkok-Melbourne, Australia juga mendarat darurat di Bandara Hasanuddin lantaran seorang penumpangnya menderita serangan jantung.  

Kedua peristiwa itu menimbulkan pertanyaan mengapa sering terjadi kasus serangan jantung di atas pesawat terbang. Hal itu sekaligus memunculkan anggapan, penderita penyakit jantung sebaiknya tidak melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang.

Tahukah Anda, sebenarnya amankah bepergian mengguanakan pesawat terbang bagi penderita penyakit jantung?

Dr Vito A Damay, SpJP, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari RS Siloam Karawaci mengatakan sebenarnya perjalanan menggunakan pesawat terbang aman bagi seseorang yang memiliki riwayat penyakit jantung. Namun hal itu saat penerbangan sudah dalam keadaan stabil. Kondisi yang berbahaya dan bisa mempengaruhi jantung adalah saat take off dan landing. Pasalnya yang bisa meningkatkan risiko penyakit jantung adalah adanya tekanan udara dan oksigen di ketinggian.

Itulah sebabnya penumpang dengan riwayat penyakit jantung sebaiknya menginfokan kondisi kesehatannya kepda awak pesawat. Selain itu sebaiknya selalu sediakan stok obat-obatan dan letakkan di tempat yang mudah diraih.

Bagi penumpang yang dalam dua atau tiga minggu sebelumnya melakukan tindakan terhadap jantung, seperti pemasangan ring, dr Vito menyarankan sebaiknya menunda perjalanan. Pasalnya hal itu bisa berisiko menderita serangan jantung saat di dalam pesawat.

Risiko menjadi semakin tinggi jika penderita penyakit jantung juga mengidap fobia pesawat terbang. Dr Eka Ginanjar SpPD-KKV, ahli penyakit dalam kardiovaskuler dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta mengatakan penderita fobia pesawat terbang akan selalu merasa cemas dan deg-degan saat berada di dalam pesawat. Hal ini tentu sangat berpengaruh pada konsisi jantung.

Itulah sebabnya dr Eka menyarankan pasien selalu memeriksakan diri ke dokter jika merasa jantungnya belum stabil. Selalu bawa obat-obatan pribadi yang bisa dikonsumsi sewaktu-waktu. Tak lupa dr Eka menyarankan seseorang dengan riwayat penyakit jantung rutin berolah raga dan berpola hidup sehat.

Dr Eka juga menyarankan maskapai penerbangan memfasilitasi pesawat dengan alat deteksi serangan jantung. Deteksi bisa dilakukan dengan rekaman Elektrokardiogram (EKG) yang menunjukkan adanya serangan jantung serta kenaikan enzim jantung

Jika gejala yang ditunjukkan berat, misalnya sampai kejang atau tak sadarkan diri, mau tak mau pilot harus mendarat darurat. Pasalnya penumpuang yang mengalaminya sangat membutuhkan pertolongan segara dan dibawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

FOLLOW US

Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja