Brutu atau Tunggir, Bagian Tubuh Ayam yang Kaya Nutrisi tapi Justru Sering Dibuang
berita

15 July 2019 16:50
Watyutink.com – Daging ayam adalah bahan makanan yang sangat digemari, terlebih di Indonesia. Jika dinegara lain bagian tubuh ayam yang dikonsumsi hanya daging, di Indonesia semua bagian tubuh ayam bisa dimakan. Mungkin hanya bulu ayam yang tidak bisa dimakan.

Namun dari semua bagian tubuh ayam ada satu yang kerap tidak dimakan, yakni pantat. Sebagian orang masih merasa risih bahkan jijik jika akan mengonsumsi pantat ayam. Padahal sebenarnya pantat ayam mengandung banyak nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan.

Tahukah Anda, apa saja manfaat mengonsumsi pantat ayam?

Pantat atau juga disebut pygostyle adalah bagian ayam yang terletak paling belakang. Bagian tubuh yang juga disebut brutu atau tunggir ini adalah tempat berkumpulnya bulu ekor ayam. Pada bagian ini diketahui terdapat kelenjar yang memproduksi minyak.    

Penelitian yang dilakukan oleh Nutrition and Dietary Studies of America menyebutkan pantat ayam mengandung banyak nutrisi, seperti  protein, zat besi, dan kalsium. Bahkan kandungan zat besi dan kalsium dalam pantat ayam lebih tinggi dibandingkan dada ayam.

Seperti diketahui, protein adalah komponen yang sangat penting bagi kebugaran tubuh. Pasalnya protein adalah komponen utama atau sumber energi. Bersama karbohidrat dan lemak, protein akan diolah tubuh menjadi tenaga yang digunakan untuk ativitas sebari-hari.

Selain itu protein juga penting untuk perkembangan sel dalam tubuh. Protein bermanfaat bagi pembentukan tulang, otot, kulit, dan darah. Protein juga bermanfaat untuk memproduksi antibodi yang berguna bagi sistem kekebalan tubuh. Sedangkan kalsium dikenal sebagai zat yang sangat bermanfaat untuk kesehatan tulang dan gigi.

Di sisi lain, pantat ayam juga memiliki kandungan lemak yang sangat tinggi. Hal ini lantaran pada pantat ayam terdapat kelenjar penghasil minyak.

Namun Hutftington Post, media yang terbit di New York, Amerika Serikat mengatakan hingga saat ini masih terjadi kontroversi terkait kandungan gizi pada pantat ayam. Itulah sebabnya cara penyajian pantat ayam menjadi penting agar manfaatnya benar-benar bisa dirasakan.

Juru masak kenamaan asal Ingris, Heston Blumenthal, menyarankan agar pantat ayam diolah dengan cara dibakar atau dipanggang. Selain lebih sehat, cara ini juga menghindarkan rasa pahit yang mungkin muncul.

Namun, seperti halnya jenis makanan lainnya, pantat ayam pun sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah wajar dan tidak berlebihan. Terlebih pantat ayam diketahui mengandung lemak yang cukup banyak. Selain itu pantat ayam adalah bagian tubuh yang menjadi tempat berkumpulnya kelenjar getah bening.

Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, dikhawatirkan pantat ayam bisa menimbulkan akibat yang tidak baik. Bahkan sebagian ahli kesehatan menyebutnya pantat ayam adalah tempat berkumpulnya virus dan bakteri yang tidak baik bagi kesehatan.

Itulah sebabnya, bagi Anda yang gemar makan pantat ayam atau brutu, sebaiknya batasi jumlahnya. Jangan makan terlalu banyak!

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar