Bukan untuk Wanita, Pada Awalnya Pembalut Dibuat untuk Kaum Pria
berita
Istimewa
17 June 2019 16:05
Watyutink.com – Salah satu benda yang paling penting bagi para wanita adalah pembalut. Kemanapun perginya, para wanita tak akan pernah terlupa membawanya. Pasalnya setiap wanita normal pasti mengalami datang bulan. Beberapa wanita bisa memperkirakan kapan mereka kedatangan ‘tamu rutin’ itu. Namun terkadang datang bulan datang tidak tepat waktu. Itulah sebabnya pembalut harus selalu dibawa. Sehingga bila tiba-tiba ‘sang tamu’ datang, para wanita sudah siap sedia.

Tapi tahukah Anda, pada mulanya pembalut bukan dibuat untuk kaum wanita melainkan untuk pria?  

Pembalut modern pertama dibuat pada abad ke-19. Saat itu pembalut dibuat untuk kepentingan perang. Fungsinya sama sekali  bukan untuk menampung darah menstruasi melainkan untuk menghentikan pendarahan para prajurit yang sedang berperang.

Saat itu para perawat Perancis  membuat pembalut dari perban berbahan bubur kayu. Hal ini lantaran persediaan kapas sangat terbatas. Para perawat juga menbuat pembalut dari spahagnum moos, yakin sejenis tanaman yang mudah menyerap dan memiliki sifat antimikroba.

Sejak saat itu sejumlah perusahaan pun mulai memproduksi pembalut dalam jumlah banyak. Produk pembalut pun dikenal dengan nama Cellucotton. Saat perang berakhir pada 1918 produsen Cellucotton pun kebingungan. Pasalnya produksi pembalut masih berlangsung meski perang sudah usai. Akibatnya Cellucotton pun dijual dengan harga sangat murah bahkan banyak yang dibuang begitu saja. Saat itulah beberapa perawat wanita menggunakan Cellucotton untuk menampung darah menstruasi mereka.

Akhirnya produsen pun memodifikasi produk Cellucotton dari semula untuk pria menjadi untuk wanita. Pembalut pun dibuat dengan bentuk yang lebih layak untuk wanita. Pada 1920, nama Cellucotton pun berganti menjadi Kotex dan langsung menjadi pilihan para wanita.

Sebelumnya, untuk mengatasi menstruasi para wanita menggunakan kain flanel. Selain itu ada pula yang menggunakan sabuk menstruasi, yakni pita perekat yang ditempelkan di bagian bawah batalan yang menempel pada celana. Namun penggunaan sabuk menstruasi dirasa sangat menyulitkan. Hal ini membuat popularitas pembalut atau Kotex semakin meningkat.

Sebenarnya penggunaan pembalut untuk menampung darah menstruasi sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno di abad keempat. Saat itu para wanita menggunakan kapas atau wol untuk membendung aliran darah saat menstruasi.

Sedangkan di China, para wanita menggunakan kain yang diisi pasir sebagai pembalut menstruasi. Ketika kain itu sudah sangat basah, mereka akan membuang pasir dan mencuci kainnya. Di Mesir Kuno, para perempuan menggunakan papirus sebagai alas saat menstruasi. Sebelum digunakan, papirus direndam dalam air terlebih dahulu.

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Salamudin Daeng

Anggota Institute Sukarno for Leadership Universitas Bung Karno (UBK)

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir