Daging Babi Vegan, Tidak Mengandung Unsur Babi tapi Tetap Bukan Makanan Halal
berita
Sumber Foto : iStockphoto/Aamulya
03 November 2021 15:45
Watyutink.com  - Beberapa saat terakhir dunia kuliner Indonesia diramaikan dengan produk daging babi vegan. Olahan makanan ini disebut-sebut bisa menjadi alternatif bagi mereka yang ingin menikmati daging babi namun terkendala oleh berbagai hal, salah satunya terkait aturan agama.

Seperti diketahui, ajaran Islam melarang penganutnya mengonsumsi daging babi. Itulah sebabnya daging babi vegan atau daging vegetarian ini disebut-sebut bisa menjadi alternatif jika ada yang ingin mencoba daging babi.

Ternyata hal itu tetap tidak bisa dilakukan. Pasalnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) tetap tidak memberika sertifikat halal untuk produk daging babi vegan. Artinya meski tidak mengandung unsur babi, daging babi vegang tetaplah makanan haram dan tidak boleh dikonsumsi umat Islam.

Tahukah Anda apakah daging babi vegan itu dan mengtapa tidak bisa mendapat sertifikat halal?

Meski kerap disebut ‘daging’, produk ini sejatinya bukan daging. Pasalnya daging vegan terbuat dari bahan nabati. Daging vegan dibuat menggunakan bahan dasar kacang kedelai atau gandum. Selanjutnya bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan ini diolah sedemikian rupa agar mempunyai tekstur dan aroma yang mirip daging.

Sejatinya daging vegan tidak hanya dibuat menyerupai daging babi, tetapi juga hewan lain, seperti ayam, sapi, dan hewan ternak lainnya. Biasanya daging vegan dikonsumsi oleh orang-orang yang menganut pola makan vegetarian atau menghindari makan daging.

Bagi umat Islam, daging vegan yang mempunyai tekstur mirip daging ayam atau sapi tentu tidak masalah. Pasalnya pada dasarnya daging ayam dan sapi halal dikonsumsi umat Islam. Namun lain halnya dengan daging babi vegan. Dikutip dari laman resmi Lembaga Pengakajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), daging babi vegan tetap haram dimakan umat Islam.

Dalam keteragannya, seperti dikutip pada Rabu 3 November 2021, LPPOM MUI mendasarkan pada aturan dalam Al Qur’an, Surat Al An’am ayat 145 yang artinya “"Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi -- karena sesungguhnya semua itu kotor -- atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Ayat tersebut secara jelas menyatakan daging babi haram dimakan.

LPPOM MUI menyatakan daging babi vegan diolah dan diproses dengan teknologi modern sehingga menghasilkan produk dengan kadar protein sangat tinggi, layaknya daging pada umumnya. Aroma, rasa dan tekstur yang dibuat menyerupai daging babi asli. MUI dalam Fatwa Nomor 4 Tahun 2003 tentang Standardisasi Fatwa Halal, salah satu poinnya menetapkan masalah penggunaan nama dan bahan, yang terdiri dari empat hal. Pertama, produk tidak boleh menggunakan nama dan/atau simbol-simbol makanan/minuman yang mengarah kepada kekufuran dan kebatilan.

Kedua, produk tidak boleh menggunakan nama dan/atau simbol-simbol makanan/minuman yang mengarah kepada nama-nama benda/binatang yang diharamkan terutama babi dan khamr, kecuali yang telah mentradisi dan dipastikan tidak mengandung unsur-unsur yang diharamkan seperti nama bakso, bakmi, bakwan, bakpia dan bakpao.

Ketiga adalah produk tidak boleh menggunakan bahan campuran bagi komponen makanan atau minuman yang menimbukan rasa atau aroma benda-benda atau binatang yang diharamkan, seperti mie instan rasa babi, bacon flavour. Keempat, produk tidak boleh mengkonsumsi makanan/minuman yang menggunakan nama-nama makanan/minuman yang diharamkan seperti whisky, brandy, beer, dan lain-lain.

Atas dasar itulah MUI menetapkan daging babi vegan tidak bisa mendapatkan sertifikat halal. Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Ir. Muti Arintawati, M.Si mengatakan semua auditor halal LPPOM MUI menjadikan Kriteria Sistem Jaminan Halal (SJH) sebagai panduan kerja saat menentapkan apakah sebuah produk layak mendapatkan sertifikat halal atau tidak.

Muti menuturkan dalam SJH tertulis aturan bahwa karakteristik sensori produk tidak boleh memiliki kecenderungan bau atau rasa produk makanan haram. Nama produk yang mengandung nama babi dan anjing serta turunannya, seperti babi panggang, babi goreng, beef bacon, hamburger, hotdog tidak akan mendapatkan sertifikat halal.

Muti menyatakan meskipun tidak menggunakan bahan yang berasal dari babi dan turunannya, penamaan produk seperti daging babi vegan, juga tak bisa dilakukan sertifikasi halal. Sehingga MUI menganjutkan umat Islam tidak mengonsumsi, bahkan menjauhi daging babi vegan dan produk sejenisnya.

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF