Ilmuan Cina Ciptakan Matahari Buatan
berita
Sumber Foto : youtube.com
28 November 2018 16:30
Matahari adalah pusat tata surya. Panas yang dipancarkan matahari adalah energi bagi kelangsungan bumi. Jika matahari berhenti bersinar, berhenti pula kehidupan di bumi. Itulah pernyataan yang dikemukakan para ahli. Rasanya tidak mungkin ada teknologi yang mempu menandingi matahri.

Tahukah Anda, saat ini sejumlah ahli dari Cina sedang membuat matahari buatan.

Tim ilmuwan dari Institut Fisika Plasma Cina mengumumkan sedang membuat proyek penelitian bernama Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) yang mampu menciptakan ‘matahari buatan’. Tidak tanggung-tanggung, suhu yang dihasilkan EAST mencapai 100 juta derajat celsius. Padahal menurut pada ahli astronomi, suhu di sekitar matahari sekitar 15 juta derajat Celsius. Artinya  suhu 'matahari buatan' ini enam kali lebih panas dari matahari sebenarnya.

Para ahli nuklir Cina itu menggunakan “tokamak”, sebuah alat yang memungkinkan terjadinya fusi nuklir, yaitu dua atau lebih atom  bergabung menjadi satu. Secara alamiah, fusi nuklir terjadi di matahari atau bintang untuk melepaskan energi.  

Sayangnya, ilmuan Cina tersebut hanya mampu mempertahankan suhu 100 juta derajat celsius selama 10 detik. Meski demikian Institut Fisika Plasma Cina, mengatakan apa yang mereka lakukan membuktikan pencapaian suhu 100 juta derajat Celsius adalah hal yang mungkin.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Enny Sri Hartati, Dr.

Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perlu Inventarisasi Perundangan dan Peraturan             Bukan Jumlah Peraturan Tapi Korupsinya Yang Penting             Sektor Pertanian Masih Gunakan Paradigma Lama             Gelombang Spekulasi Politik             Demokrasi Tanpa Jiwa Demokrat             Rekonsiliasi Sulit Terjadi Sebelum 22 Mei             Industri Manufaktur Memperkokoh Internal Perekonomian             Dibutuhkan Political Will, Bukan Regulasi             Kasus Makar Bernuansa Politis             Pasal Makar Ancam Demokrasi