Indonesia Miniatur Dunia
berita
Sumber Foto : google.com
28 June 2019 14:30
Watyutink.com - Bangsa Indonesia adalah cermin culture bahkan nature-nya dunia. Kita bisa melihat dari bangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Jika kita mengunjungi tempat ini, tentu akan melihat beragam kultur serta adat istiadat yang mencerminkan kekayaan budaya dalam masyarakat Indonesia. Mulai dari Rumah Adat, tari-tarian, upacara-upacara adat, bahasa, tulisan, pakaian serta ciri khas tersendiri lainnya yang mewakili daerah-daerah dari seluruh Indonesia yang terbentang dari Sabang-Merauke.

Sehari mungkin belum cukup untuk menjelajahi deretan Rumah Adat mulai dari Aceh, Batak, Minangkabau, Sunda, Jawa, Bali, Dayak, Bugis-Makassar, Flores, Maluku hingga Papua. Kalau dihitung seluruhnya ada ratusan suku dan etnis berbeda tersebar dan mendiami bumi Indonesia. Di satu provinsi saja seperti Sulawesi Selatan terdapat sedikitnya empat suku yaitu Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. TMII ini, kurang lebih telah menggambarkan wajah Indonesia yang begitu beragam. Belum lagi keragaman kultur di Indonesia dengan luas wilayah relative kecil dalam peta dunia saat ini yang seolah-olah memunculkan persepsi bahwa  Indonesia merupakan ‘miniatur dunia’. Beberapa fakta sejarah dapat memberikan kesan, sepantasnya bangsa ini adalah cermin masyarakat global.

Tahukah Anda, mengapa Indonesia layak disebut sebagai miniatur dunia?

Fakta Geografis

Jika diperhatikan permukaan bumi, komposisi permukaannya sebagian besar adalah lautan. Sekitar 80 persen permukaan bumi terdiri dari lautan. Indonesia adalah negara kepulauan yang wilayah geografisnya juga didominasi oleh lautan sebagai pemersatu pulau-pulau. Proporsi antara luas permukaan laut dan daratnya adalah sekitar 75 persen ditambah sekitar 5 persen permukaan danau dan sungai besar di dalam pulau-pulaunya sehingga Indonesia memiliki cirri khas sebagai negara Maritim. Negara serupa yang juga memiliki karakter maritim adalah Inggris dan Jepang. Namun proporsi permukaan lautnya tidaklah sebesar wilayah Indonesia.

Dalam sejarah perkembangan dunia kita ketahui bahwa proses interaksi perdagangan banyak dilakukan melalui pelayaran dan penjelajahan dengan kapal-kapal berukuran besar dan kecil karena mobilitas dan daya muatnya yang memadai. Indonesia terletak pada daerah geografis yang bias dikatakan sempurna karena diapit oleh dua samudera, yaitu samudera Hindia dan Pasifik, maka tak heran sejak berabad-abad lalu kawasan Nusantara telah menjadi tempat melintas dan berlabuh yang potensial bagi para pedagang dan penjelajah lautan dari seluruh penjuru dunia.

Dengan melihat letak gerografis yang ideal maka pencanangan Indonesia sebagai negara maritim, secara geoekonomi makin mempertegas kawasan ini sebagai sumber ekonomi bagi yang seksi, bahkan secara geopolitik kawasan maritim ini bisa jadi sarana pemersatu bangsa yang kokoh. Bung Karno, pernah mengatakan demikian dalam puncak perjuangannya bahwa, “perjuangannya dalam memerdekakan Indonesia yang buat saya bangga adalah mampu mempersatukan bangsa Indonesia yang heterogen ini, beliau berhasil menumbuhkan nasionalisme sebagai puncak pemersatu dari kemerdekaan Indonesia”.

Keragaman Agama dan Ras

Interaksi dengan dunia luar yang terjalin sejak berabad-abad lamanya membuat beberapa suku di Nusantara memiliki ciri tersendiri dalam sosok individu-individunya. Manado Sulawesi Utara dan Ambon (Maluku) mewarisi sosok orang-orang Eropa karena interaksinya dengan bangsa Spanyol dan Belanda. Masyarakat suku Palembang di Sumatera Selatan merupakan percampuran ras Melayu dan Cina. Di beberapa kota-kota pesisir seperti Aceh, Banten dan Makassar terdapat titik-titik perkampungan warga keturunan Arab yang berasal dari proses perdagangan dan penyebaran agama Islam di Nusantara.

Sebagian masyarakat  Papua juga memiliki keturunan Belanda, bahkan dalam penyebaran agama Islam juga, yang dibawa oleh kerajaan Ternate saat itu. Sebut saja, kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Kaimana dan Kabupaten Fakfak yang mayoritas masyarakatnya adalah agama Islam. Adapun masyarakat di Sumatera Utara yang keturunan Cina, India dan beragama Kristen, Islam serta Hindu-Budha. Secara pengalaman historis, bangsa Indonesia telah mengalami evolusi peradaban yang luar biasa dalam sejarah kerajaan-kerajaan, penyebaran rempah-rempah, penyebaran agama,  sampai zaman kolonialisme saat itu.

Dengan demikian, Indonesia telah mengalami proses pembauran etnis mancanegara sehingga dapat mewakilkan masyarakat global dari seluruh dunia. Kekayaan yang kita miliki ini sekali lagi mempertegas bahwa bangsa Indonesia merupakan “prototype culture dan naturenya” dunia. Dalam kontek sini, dapat kita pahami betapa hebatnya Indonesia memiliki pancasila sebagai perekat etnis, ras, suku, bahasa dan agama yang ada. Para pendiri bangsa telah memahami betul situasi bangsa maka sebagai perekat, pancasila adalah representasi Indonesia yang heterogen.

Kembali pada rentetan sejarah, Indonesia telah mengalami fase panjang hingga republik ini berdiri. Bangsa ini merdeka karena atas dasar senasib dan sepenanggungan itu, pendiri bangsa kita sudah menggarisbawahi satu nasib ini sebagai perwujudan kemerdekaan. Artinya, kemerdekaan ini adalah kemerdekaan semua golongan sebagaimana bunyi konsensus tentang ideologi bangsa dan negara. Kemerdekaan Indonesia tidak sekedar membebaskan diri dari kolonialisme dan imperialisme melainkan mempertegas pentingnya kemanusiaan.

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Polisi Tunduk Pada Hukum             Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?