Jadi Tradisi Rutin Saat Lebaran, Mudik Sudah Dikenal Sejak Zaman Majapahit
berita
Sumber Foto: rumahstudio.com
02 June 2019 13:50
Watyutink.com - Saat yang paling ditunggu ketika Lebaran adalah bertemu dan bersilaturahmi dengan sanak saudara di kampung halaman. Bertemu dengan keluarga yang telah lama berpisah adalah momen paling membahagiakan.

Itulah sebabnya pulang kampung atau mudik menjadi kegiatan wajib bagi sebagian besar warga Indonesia. Meski harus bersusah-susah, mudik tetap harus dilakukan.

Tahukah Anda, kapan mudik pertama kali dilakukan di Indonesia?

Mudik atau pulang kampung sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Para ahli sejarah bahkan menyebut tradisi pulang kampung sudah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit. Saat itu para perantau pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam para leluhurnya. Hal ini dilakukan untuk meminta keselamatan dalam mencari rezeki.

Itulah sebabnya para ahli meyakini kata "mudik" berasal dari bahasa jawa " mulih dilik" yang artinya pulang sejenak atau sebentar. Ada pula yang menyebut kata "mudik" terkait dengan kata "udik" yang berarti kampung halaman. Namun yang pasti mudik selalu diartikan sebagai pulang ke kampung halaman setelah sekian lama merantau dan meninggalkannya.

Jika yang dimaksud adalah pulang kampung atau mudik saat lebaran, para ahli mengatakan baru dikenal sekitar tahun 1970-an. Saat itu Jakarta dikenal sebagai satu-satunya kota besar tempat para pendatang mengadu nasib. Kemajuan yang ditunjukkan Jakarta menjadi megnet bagi ribuan warga daerah berdatangan ke ibu kota. Lebih dari 80 persen urbanisasi terjadi di Jakarta.

Mereka yang sudah bermukim dan berdomisili di Jakarta ternyata tidak melupakan tradisi mudik, terutama saat hari-hari besar seperti Idul Fitri. Semakin meningkatnya urbanisasi tidak menyurutkan keinginan pendatang untuk pulang kampung. Bukan hanya sebagai ajang 'melepas rindu' akan masa lalu, mudik juga menjadi momentum menunjukkan eksistensi dan kesuksesan selama mengadu nasib di perantauan.

Seiring dengan munculnya pusat-pusat perekonomian lokal, arus urbanisasi juga melanda kota besar lain, seperti Surabaya, Bandung, Medan, dan sebagainya. Para urbanis di kota-kota besar tersebut ternyata tidak meninggalkan tradisi mudik meskipun lokasi kampung halaman mereka tidak terlalu jauh. Mudik pun berkembang menjadi sebuah fenomena.

Masyarakat memang tidak bisa meninggalkan tradisi mudik. Ada sesuatu yang terasa hilang jika tidak pulang kampung. Itulah sebabnya apa pun dilakukan demi bisa berkumpul dengan sanak kerabat.

 

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Revisi Aturan-aturan yang Tidak Pro Kepada Nelayan!             Kebijakan KKP yang Baru Harus Didukung             Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek