Kamboja, Bunga Kuburan yang Dapat Sembuhkan Rematik dan Asam Urat
berita

02 May 2019 16:55
Watyutink.com – Apa yang terbayang dalam benak Anda jika disebutkan tentang bunga kamboja? Pasti jawabnya adalah kuburan. Tak heran, sebab bunga kamboja memang paling banyak tumbuh dan ditanam di area pemakaman atau kuburan. Itulah sebabnya banyak yang menyebut kamboja sebagai bunga kuburan.

Tidak diketahui secara pasti mengapa bunga ini ditanam di kuburan. Bisa jadi aromanya yang harum serta daunnya yang lebar dapat membuat suasana di pemakaman menjadi lebih teduh dan menyenangkan. Selain itu aroma harum membuat suasana ‘nyekar’ menjadi lebih syahdu.

Namun sejatinya, bunga kamboja tidak hanya bermanfaat untuk mempercantik suasana kuburan. Bunga berwarna putih, kuning, dan merah ini ternyata juga menyimpan beragam manfaat bagi kesehatan.

Tahukah Anda, apa saja manfaat bunga kamboja untuk kesehatan?

Tidak seperti bunga pada umumnya yang pohonnya kecil, kamboja justru mempunyai pokok batang yang besar dan tinggi. Para ahli kesehatan mengatakan tanaman kamboja mengandung banyak senyawa kimia seperti  asam plumerat, asam serotinat, plumierid, dan agoniadin.

Dalam semua bagian pohon kamboja terkandung senyawa fulvoplumierin yang bermanfaat untuk mencegah disentri, radang saluran pernafasan, TBC, maupun hepatitis. Kulit pohon kamboja ternyata juga mengandung getah damar dan asam plumeria. Sedangkan akarnya mengandung zat saponin, polifenol, alkaloid, dan juga fenetilalkohol.

Bunga kamboja juga bisa dimanfaatkan layaknya teh. Rutin mengkonsumsi air rebusan bunga kamboja diyakini dapan mencegah rematik, asam urat, dan memperlancar buang air kecil. Selain itu rebusan bunga kamboja juga bisa meredakan batuk dan menurunkan panas ketika mengalami demam.

Untuk mengolahnya cukup mudah, ambil beberapa kuntum bunga kamboja, jemur hingga kering. Lalu, seduh dengan air panas seperti menyeduh teh. Bisa juga mencampur bunga kamboja kering dengan daun teh.

Bunga kamboja juga bisa digunakan untuk mengobati sakit gigi. Hal ini disebabkan adanya kandungan alkaloid, tanin, flavonoid dan triterpenoid dalam getah kamboja. Zat tersebut dipercaya bermanfaat sebagai antibiotik alami yang dapat meredakan sakit dan gigi berlubang.

Untuk bisa mendapatkan manfaatnya, ambil beberapa tetes getah kamboja menggunakan kapas atau cotton bud lalu tempelkan pada gigi yang berlubang dan sakit. Lakukan satu atau dua kali sehari hingga sakitnya mereda.

Bunga kamboja juga dapat digunakan untuk mengobati bisul. Caranya, ambil selembar daun kamboja yang masih segar. Panaskan diatas api hingga daunnya lemas dan layu. Oleskan minyak kelapa atau minyak zaitun pada daun yang sudah layu tersebut. Lalu tempelkan pada kulit yang ditumbuhi bisul. Tempelkan saat daun masih panas.

Selain cara tersebut, bisa juga dengan mengambil getah kamboja dan dioleskan pada kulit yang ditumbuhi bisul. Lakukan secara rutin hingga bisulnya sembuh.

Kulit kamboja juga bisa digunakan untuk mengatasi bengkak. Ambil kulit pohon kamboja, tumbuk hingga halus. Lalu rebus dengan air hingga mendidih. Rendam atau kompres anggota tubuh yang bengkak menggunakan air rebusan kulit kamboja tersebut.

Bengkak juga bisa dihilangkan menggunakan akar kamboja.Caranya, rebus akar, daun kamboja dan sedikit garam dengan air hingga mendidih. Gunakan air rebusan tersebut untuk merendam atau mengompres anggota tubuh yang bengkak. Lakukan secara rutin dua kali sehari hingga bengkaknya sembuh.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Tarik Investasi Tak Cukup Benahi Regulasi             Tidak Bijak Membandingkan Negara Lain             Semangat Reformasi Perpajakan             People Power and Power of Love             Polisi Tak Boleh Berpolitik             Laksanakan Reformasi Perpajakan Secara Konsekuen             Tunjukkan Sikap Politik yang Matang             Menagih Janji Deregulasi dan Perbaikan Infrastruktur Investasi             Perlu Inventarisasi Perundangan dan Peraturan             Bukan Jumlah Peraturan Tapi Korupsinya Yang Penting