Membangun Ekonomi RI Dengan Cepat & Tepat
Ninasapti Triaswati, S.E., M.Sc., Ph.D
Staf Pengajar Universitas Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
14 May 2019 10:00
Watyutink.com - Ramadan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Bangsa Indonesia baru saja menyelesaikan perhelatan akbar Pemilihan Umum 2019, namun harus kembali menghadapi realitas ekonomi yang kompleks. Efek domino dari memanasnya perang dagang Amerika Serikat-Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di tataran global akan mempersulit kondisi neraca pembayaran dan menekan kinerja makroekonomi Indonesia.

Kita patut merasa bersyukur bahwa data makroekonomi triwulan I 2019 masih berada dalam tren yang sedikit membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Namun tentu saja kita harus bekerja lebih keras dan cerdas lagi jika ingin mengejar ketertinggalan pembangunan ekonomi. Sebagai negara besar dan terkemuka di Asia, Indonesia perlu membandingkan diri dengan kemajuan ekonomi di negara besar Asia lain yaitu RRT dan India.

Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan pertama 2019 yang baru saja diumumkan BPS di minggu pertama bulan ini, mencatatkan angka 5,07 persen, berada di bawah target APBN 2019 yaitu 5,3 persen, namun masih sedikit di atas angka tahun sebelumnya yang hanya 5,06 persen. 

Dari sisi pengeluaran, sumber utama pertumbuhan ekonomi adalah pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 2,75 persen dan pengeluaran investasi yang dicatat sebagai pembentukan tetap modal bruto yaitu 1,65 persen. Namun tekanan global terlihat pada data ekspor yang mengalami penurunan --0,46 persen dan impor juga mengalami penurunan sebesar -1,62 persen sebagai akibat  kebijakan bio-fuel 20 persen. Nilai tukar Rupiah yang sempat melemah pada pertengahan minggu lalu, kembali menguat pada akhir minggu menjadi Rp 14.327 per dolar AS.

Berdasarkan lapangan usaha, sumber utama pertumbuhan adalah sektor industri pengolahan sebesar 0,83 persen, perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil  0,70 persen, konstruksi 0,59 persen, serta informasi dan komunikasi 0,47 persen

Data inflasi April yang diumumkan awal Mei juga menunjukkan angka cukup tinggi yaitu 0,44 persen akibat kenaikan indeks harga di seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan indeks harga terbesar terjadi pada kelompok bahan makanan (1,45 persen), transportasi, komunikasi dan jasa keuangan (0,28 persen), serta kesehatan (0,25 persen). 

Tingkat inflasi April 2019 dibandingkan April 2018 meningkat 2,83 persen, masih di bawah target APBN 2019 sebesar 3,5 persen. Kenaikan inflasi ditengarai akibat naiknya harga barang yang berfluktuasi, khususnya bawang putih yang telat implementasi impornya akibat tidak konsistennya para birokrat yang seharusnya segera melakukan impor untuk mengendalikan harga komoditas tersebut.

Tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2019 sebesar 5,01 persen mengalami penurunan dibandingkan setahun sebelumnya 5,13 persen. Namun secara kualitas pekerjaan, peran sektor informal di Indonesia masih dominan, yakni 57 persen dari seluruh pekerja. Kelompok pekerja sektor formal hanya meningkat sedikit perannya menjadi 42,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya 41,78 persen. Angka ini memberi gambaran bahwa hanya sedikit saja kemajuan yang dicapai di sektor ketenagakerjaan dalam hal penciptaan lapangan kerja yang berkualitas.

Jika Indonesia ingin menjadi negara besar dengan kinerja makroekonomi terbaik di Asia, maka kita dapat bandingkan dengan perekonomian RRT dan India.

Pada 2018 yang lalu, sebagai dampak dari perang dagang dengan AS, pertumbuhan ekonomi RRT turun menjadi 6,6 persen, terendah selama 28 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi RRT ini masih lebih rendah dari India. Sampai triwulan pertama 2019, pertumbuhan ekonomi tahunan India diperkirakan mencapai 7 persen.  Jelas bahwa  pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertinggal dibandingkan keduanya.

Inflasi tahunan Indonesia pada Desember 2018 sebesar 3,13 persen masih lebih rendah dibandingkan India yang mencapai 4,74 persen namun lebih tinggi dari RRT yang hanya sekitar 1,9 persen. Tingkat pengangguran Indonesia pada Februari 2019 sebesar 5,01 persen lebih tinggi dari RRT yang 3,8 persen dan India 3,53 persen pada akhir 2018.

Kunci keberhasilan RRT dan India terutama karena konsistennya pembangunan industri manufaktur yang ditopang oleh kualitas sumber daya manusia, teknologi dan strategi pendanaan pembangunan yang komprehensif. 

Konsistensi pembangunan RRT terjadi secara merata dan cepat dari pusat sampai daerah melalui Kawasan Ekonomi Khusus akibat pelaksanaan sistem politik satu partai. Hal ini sangat berbeda dengan keadaan politik di Indonesia. Model ekonomi-politik yang ditopang demokrasi di India dapat lebih sesuai untuk menjadi contoh Indonesia.

Yang perlu menjadi catatan, walaupun perekonomian Indonesia berjalan ke arah yang benar, namun masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar pembangunan dapat terjadi dengan cepat. Yang utama adalah bagaimana membangun konsistensi kebijakan pemerintah pusat dan daerah serta mempercepat implementasinya agar mampu mendorong laju pertumbuhan investasi, output, dan lapangan pekerjaan secara merata dengan menjaga stabilitas harga.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung             Idealnya Penjara Tidak Untuk Lansia             Selesaikan PR di Periode Kedua             Jemput Bola Tarik Investasi             Fokus Pada Daya Saing, Reindustrialisasi, Pemerataan             Memperkokoh kemampuan mewujudkan cita-cita Presiden Joko Widodo              Simbol Kemajuan Bangsa dan Rekonsiliasi dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo             Apapun Tafsirnya, Kita Bangga Jokowi - Prabowo Bertemu