Mengenal Hipospadia, Kelainan Alat Kelamin yang Sebabkan Bayi Laki-laki Dikira Perempuan
berita

13 March 2021 17:30
Watyutink.com - Baru-baru ini publik dihebohkan dengan kabar seorang anggota TNI AD yang berganti status dari perempuan menjadi laki-laki. Semakin menjadi perhatian lantaran anggota TNI AD tersebut adalah Serda Aprilia Manganang, atlet bola voli yang menjadi langganan Timnas Indonesia.

Saat mengumumkan pergantian status tersebut, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa menegaskan Aprilia bukan transgender. Andika menjelaskan Aprilia sejatinya terlahir sebagai laki-laki. Namun lantaran mengalami kelainan yang disebut hipospadia, Aprilia dikira seorang perempuan.

Tahukah Anda, apa itu hipospadia?

Hipospadia adalah kelainan alat kelamin yang berupa letak lubang kencing atau uretra bayi laki-laki menjadi tidak normal. Akibat kelainan bawaan ini, bayi laki-laki seringkali dikira perempuan.

Pada kondisi normal, lubang kencing berada tepat diujung penis. Namun pada penderita hipospadia, lubang kencing atau uretra berada di bagian bawah penis. Ada juga penderita hipospadia yang uretra-nya terletak di bawah kepala penis atau di area buah zakar atau skrotum.

Dikutip dari alodokter.com, akibat kondisi tersebut penderita akan mengalami gejala seperti, percikan urine tidak normal saat buang air kecil. Selain itu kulup hanya menutupi bagian atas kepala penis. Hipospadia juga seringkali mengakibatkan bentuk penis melengkung ke bawah. Jika tidak ditangani, penderita hipospadia akan kesulitan buang air kecil. Saat dewasa penderita hipospadia juga akan kesulitan saat berhubungan seksual.

Selain itu hipospadia juga berisiko menurunkan kualitas hidup penderitanya. Itulah sebabnya hipospadia harua ditangani sedini mungkin, terutama memperbaiki posisi lubang kencing. Semakin dini ditangani, semakin baik pula hasilnya.

Para ahli menyebut beberapa hal yang menjadi penyebab hipospadia. Salah Satunya perkembangan uretra dan kulup penis yang terganggu. Saat bayi berada di kandungan, kondisi ibu juga bisa menyebabkan hipospadia. Kondisi itu antara lain hamil saat berusia di atas 35 tahun. Menderita obesitas dan diabetes serta menjalani terapi hormon juga berisiko bayi mengalami hipospadia. Paparan asap rokok dan pestisida selama hamil juga bisa menyebabkan hipospadia.

Faktor lain yang bisa menyebabkan hipospadia adalah memiliki keluarga dengan riwayat hipospadia. Bayi lahir prematur juga berisiko mengalami kelainan tersebut.

Jika letak lubang kencing dirasa masih dekat dengan letak yang seharusnya dan penis tidak melengkung, tindakan operasi mungkin tidak diperlukan. Namun jika letak uretra jauh dari posisi normal, operasi adalah satu-satunya cara untuk memperbaikinya. Idealnya, operasi dilakukan ketika bayi berusia 6 sampai 12 bulan.

Perlu diperhatikan, sebaiknya anak yang mengalami hipospadia jangan dikhitan atau disunat sebelum operasi. Pasalnya dokter bedah mungkin memerlukan cangkok dari kulup untuk membuat lubang kencing baru.

Pencegahan hipospadia perlu dilakukan sejak bayi masih dalam kandungan. Ibu hamil wajib mengindari rokok dan minuman beralkohol. Ibu hamil juga harus menjauhi tempat-tempat yang terpapar polusi dan pestisida. Rutin memeriksakan kandungan wajib dilakukan untuk mengurangi risiko hipospadia.
 

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI