Meski Bau, Tapi Banyak Manfaat Makan Petai dan Jengkol
berita

29 December 2018 16:50
Watyutink.com - Banyak orang yang menghindari mengkonsumsi jengkol dan petai. Aroma menyangat yang muncul setelah memakan jengkol dan petai sering menjadi penyebabnya. 

Tahukah Anda, ternyata jengkol dan petai mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan. 

Jengkol atau Archidendron Pauciflorum ini adalah jenis tumbuhan polong-polongan yang banyak diolah menjadi makanan tradisional Indonesia. Meski menimbulkan bau yang tidak sedap, ternyata mengkonsumsi jengkol bermanfaat untuk kesehatan, seperti melancarkan buang air besar, mencegah penyakit diabetes dan jantung koroner, serta dapat membuang racun-racun berbahaya yang terdapat di dalam tubuh. 

Meski bermanfaat, tapi mengkonsumsi jengkol juga mempunyai efek samping, yaitu susah buang air kecil atau yang disebut kejengkolan. 

Sedangkan manfaat petai adalah menurunkan asam lambung dan mengatasi iritasi lambung, mencegah sembelit dan melancarkan buang air besar, mengurangi anemia serta dapat mengatasi stres. 

Manfaat lain dari petai adalah mengatasi gigitan nyamuk. Menggosokkan kulit petai pada kulit bisa mengurangi rasa gatal akibat gigitan nyamuk. 

Namun penderita ginjal dianjurkan untuk tak mengonsumsi petai. Selain itu petai juga dapat meningkatkan asam urat, rematik serta sakit kepala. Mengkonsumsi petai dalam jumlah berlebihan juga dapat menganggu kerja ginjal.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Tarik Investasi Tak Cukup Benahi Regulasi             Tidak Bijak Membandingkan Negara Lain             Semangat Reformasi Perpajakan             People Power and Power of Love             Polisi Tak Boleh Berpolitik             Laksanakan Reformasi Perpajakan Secara Konsekuen             Tunjukkan Sikap Politik yang Matang             Menagih Janji Deregulasi dan Perbaikan Infrastruktur Investasi             Perlu Inventarisasi Perundangan dan Peraturan             Bukan Jumlah Peraturan Tapi Korupsinya Yang Penting