Minuman Manis Lebih Berbahaya daripada Makanan Manis
berita
Sumber Foto : lifestyle.kompas.com
29 November 2018 16:30
Anda suka minuman manis? Memang nikmat menikmati secangkir teh manis sambil makan kue yang juga manis.

Tapi tahukah Anda, ternyata mengkonsumsi minuman manis ternyata lebih berbahaya dibandingkan makanan manis.

Penelitian yang dilakukan tim dari RS St.Michael's, Kanada menemukan, minuman manis mengandung lebih banyak fruktosa dibandingkan makanan. Akibatnya, efek yang ditimbulkan pun lebih berbahaya terutama pada peningkatan kadar gula darah.

Fruktosa adalah gula alami yang terdapat dalam makanan, seperti buah dan sayuran, dan madu. Seringkali fruktosa juga ditambahkan dalam makanan dan minuman seperti kue, soft drink, sereal, dan sebagainya bisanya berupa gula pasir, gula halus, atau sirup jagung.

Namun ternyata fruktosa mempunyai efek negatif. Pasalnya minuman yang diberi gula tambahan dapat meningkatkan risiko diabetes. Itu sebabnya kita sebaiknya mulai membatasi asupannya. Namun fruktosa alami pada buah dan sayur diyakini baik dikonsumsi.

Salah satu efek negatif penggunaan fruktosa berlebihan adalah kegemukan. Fruktosa diketahui dapat merangsang produksi sel lemak. Sebaliknya fruktosa tidak merangsang produksi hormon leptin yang bertugas mengatur asupan dan pengeluaran energi.

Jika seseorang kelebihan fruktosa dikhawatirkan terjadi penumpukan lema. Fruktosa berlebih menimbulkan efek yang sama dengan orang yang kelebihan makanan berlemak.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Tabrani Yunis

Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

FOLLOW US

Perlu Inventarisasi Perundangan dan Peraturan             Bukan Jumlah Peraturan Tapi Korupsinya Yang Penting             Sektor Pertanian Masih Gunakan Paradigma Lama             Gelombang Spekulasi Politik             Demokrasi Tanpa Jiwa Demokrat             Rekonsiliasi Sulit Terjadi Sebelum 22 Mei             Industri Manufaktur Memperkokoh Internal Perekonomian             Dibutuhkan Political Will, Bukan Regulasi             Kasus Makar Bernuansa Politis             Pasal Makar Ancam Demokrasi