Berharap THR Dorong Pertumbuhan
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 29 May 2019 09:00
Penulis
Watyutink.com - Pegawai Negeri Sipil/Aparatur Sipil Negara (PNS/ASN) dan TNI/Polri  bergembira karena pemerintah menepati janjinya membayarkan uang Tunjangan Hari Raya dan gaji ke-13 pada H-11 Lebaran. Mereka langsung mengecek ke rekening masing-masing dan menggunakannya sesuai dengan rencana yang sudah mereka susun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah telah mencairkan THR sebesar Rp 19 triliun sampai dengan Jumat pekan lalu. Angka tersebut merupakan 95 persen dari total anggaran yang telah disediakan sebanyak Rp 20 triliun.

Rinciannya adalah THR untuk PNS, Prajurit TNI, dan Anggota POLRI sebesar Rp 11,4 triliun dan Rp 7,6 triliun dibayarkan kepada penerima pensiun atau tunjangan. Pembayaran THR bagi penerima pensiun/tunjangan juga dilaksanakan serentak melalui pemindahbukuan ke rekening penerima pensiun/tunjangan yang dapat diambil melalui ATM dan kantor pos.

Di balik pemberian THR dan gaji ke-13 yang relatif cepat tersebut ada tujuan lain yang disasar pemerintah, yakni mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Hal ini secara eksplisit disampaikan oleh Menkeu.  Dia optimistis pemberian THR tahun ini akan mampu mendorong laju konsumsi rumah tangga sebagai penopang pertumbuhan ekonomi. Apakah cara ini cukup efektif? Apakah punya efek jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi?

Sri Mulyani berharap dari sisi agregat permintaan untuk konsumsi berada di atas 5 persen, bahkan mendekati 5,1 persen. Situasi politik diharapkan kondusif sehingga tingkat kepercayaan konsumen terjaga. Sayangnya, Pemilu 2019 masih menyisakan masalah dengan digugatnya hasil penghitungan suara KPU oleh paslon 02. Apakah kondisi ini tidak akan berpengaruh banyak terhadap tingkat kepercayaan konsumen?

Pemerintah memperkirakan  THR  akan berdampak positif bagi kegiatan ekonomi. Para PNS/ASN, Prajurit TNI, dan Anggota POLRI  diharapkan tidak menghabiskan THR seluruhnya, tetapi sebagian ditabung sebagai simpanan, walaupun menjelang Lebaran ada keperluan belanja ekstra.

Selain dari segi konsumsi, pemerintah berharap THR juga memberikan efek berganda kepada  produsen barang, jasa serta pedagang yang berhubungan langsung dengan konsumen. Momentum ini diharapkan dapat berlangsung secara kondusif. Apakah para produsen dan pedagang akan menikmati limpahan likuiditas tersebut? Seberapa besar? Sektor apa saja yang mendapatkan keuntungan dari belanja para abdi negara tersebut?

Pemerintah memperkirakan kuartal kedua tahun ini momentum pertumbuhan akan lebih tinggi, baik dari sisi investasi, permintaan dan penawaran, sektor manufaktur dan perdagangan, serta keuangan dan transportasi. Seberapa besar pertumbuhan yang diharapkan bisa tercapai pada kesempatan pemberian THR dan gaji ke-13 kali ini? Berapa lama efeknya dalam membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Guru Besar Universitas Diponegoro

Pembayaran THR dan gaji ke-13 akan meningkatkan barang-barang kebutuhan konsumsi. Dalam pertumbuhan ekonomi ada beberapa pendekatan antara lain pendekatan permintaan. Ini memang bukan pendekatan langsung kepada produksi, tetapi dengan konsumsi yang tumbuh akan menyebabkan produksi barang-barang, khususnya untuk kebutuhan jangka pendek barang konsumsi, meningkat.

Dalam jangka pendek ekspansi produksi akan terdorong, namun pada bulan berikutnya akan turun lagi karena tidak ada ekspansi kapasitas, hanya mendorong kapasitas yang ada, memproduksi lebih melalui lembur kerja.

Berbeda dengan bantuan sosial (bansos) yang disesuaikan dengan tujuannya. Bansos dari pemerintah biasanya kebanyakan untuk barang modal atau barang sosial. Bantuan ini mempunyai akselerasi jangka panjang. Bantuan ini antara lain berupa ambulan, pembangunan masjid. Jarang sekali berupa bantuan yang bukan modal sosial yang dibayarkan lewat anggarannya. Barang modal sosial ini memang sekali beli tetapi memiliki efek lebih panjang, seperti ambulan yang mempunyai efek sosial.

Dengan adanyaTHR maka kenaikan konsumsi rumah tangga berkisar 20 persen dibandingkan konsumsi sebelumnya, namun puncaknya pada hari-hari tertentu saja, menjelang dan sesudah Lebaran. Namun saat ini efeknya relatif lebih panjang karena liburnya panjang. Jika liburnya pendek maka efeknya juga akan pendek.

Saat ini libur Lebaran lebih lama pada masa bulan puasa, bukan setelahnya sehingga punya dampak berbeda jika libur yang lebih panjang terjadi setelah Lebaran. Kecenderungan belanjanya akan berbeda terutama untuk keperluan pariwisata.

Dengan adanya pembayaran THR oleh pemerintah. pertumbuhan konsumsi rumah tangga akan terdorong naik di atas 5 persen, bahkan hingga 6-7 persen terutama di Sumatera dan Jawa. Daya beli menjadi tersebar ke seluruh wilayah. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Efek pembayaran THR dan gaji ke-13 kepada ASN pasti mempunyai dampak terhadap pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Namun pada saat Lebaran, tanpa pembayaran THR kepada ASN pun, semua perusahaan memberikan THR kepada karyawannya.

Oleh karena itu pada bulan Juni, salah satu yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi, khususnya konsumsi rumah tangga adalah gaji ke-13. Ini efek yang lumrah. Lebaran jatuh sekitar tanggal 5 Juni tetapi uang THR sudah dibelanjakan sebelumnya seperti membeli baju dan sebagainya sehingga efeknya akan terasa hanya sampai Juni saja. Kenaikan konsumsi rumah tangga akan naik menjadi 5,1 persen dengan adanya pembayaran THR dan gaji ke-13.

Pada setiap Lebaran konsumsi rumah tangga selalu naik karena pada bulan Puasa banyak kegiatan buka bersama dan membeli pakaian. Namun jangan sampai terjadi tingkat pendapatan masyarakat turun karena pemerintah kurang memperhatikan investasi, karena banyak sekali saat ini kebijakan yang mengarah untuk kelas bawah padahal tingkat konsumsi mereka secara nasional hanya 17 persen.

Yang justru harus banyak diberikan oleh pemerintah adalah insentif yang mampu mendorong perusahaan untuk meningkatkan investasi supaya kelas menengah naik, sehingga akan memacu konsumsi pada tingkat yang selalu tinggi. Investasi ada kaitannya dengan kesinambungan seseorang mendapatkan gaji.

Pemerintah dapat memberikan insentif. Misalnya, perusahaan yang memperkerjakan sejumlah orang diberikan insentif pajak. Selain itu, swasta diberikan porsi yang lebih luas untuk berusaha, jangan dibiarkan BUMN mendominasi usaha. Pemerintah perlu melibatkan lebih banyak swasta dalam pembangunan.

Jika swasta mendapatkan kucuran proyek maka mereka bisa survive, menghindari PHK. Beberapa waktu lalu walaupun tidak begitu tampak, banyak swasta yang bangkrut sehingga terpaksa mem-PHK karyawannya. Jangan sampai hal ini terjadi.

Pada tahun ini pemerintah harus fokus pada pemberdayaan sektor swasta agar pembangunan bisa berjalan terus menerus, termasuk untuk menjaga konsumsi. Karena untuk apa inflasi rendah kalau daya beli masyarakat menurun. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar