Bisnis E-Commerce, Pertarungan Harga Diri Produk Lokal
berita
Ekonomika
10 June 2019 16:00
Penulis
Watyutink.com - Maraknya bisnis e-commerce di Indonesia yang bermain pada aneka situs belanja online (marketplace) seperti Lazada, Gojek, Tokopedia, Shopee dan lainnya, menjadi tantangan tersendiri bagi para perencana kebijakan dalam negeri. Khususnya yang bertanggungjawab terhadap masa depan UKM atau startup lokal.

Betapa tidak, UKM atau startup lokal saat ini harus bersaing dengan situs belanja online yang sudah mempunyai valuasi di atas 1 miliar dolar AS (Unicorn). Berhadapan dengan para raksasa marketplace, tiada pilihan lain bagi UKM lokal selain bersedia bergabung menjadi salah satu jaringan pemasok pada situs belanja online tersebut, atau pasar yang dimiliki akan punah diserap oleh penetrasi “Unicorn”.  

Repotnya lagi, belakangan muncul sinyalemen yang menyatakan bahwa strategi merebut pasar UKM atau startup lokal diperoleh dengan cara yang--katakanlah culas--yakni taktik kloning produk UKM yang kebetulan sedang laku di pasaran.

Dengan taktik kloning, startup raksasa meniru produk tersebut di Negara asal dengan modifikasi dan mutu yang lebih baik, kemudian mengirim produk kloning tersebut ke Indonesia, bahkan dengan free ongkos kirim. Dengan demikian, otomatis produk UKM lokal akan tergerus karena kalah daya saing. Baik harga maupun kualitas produk di marketplace.

Tak heran, muncul kasus-kasus produk UKM lokal yang tak lagi laku dipasaran karena tergerus produk impor. Dan memang faktanya, produk yang dijual di marketplace raksasa 94 persen adalah produk impor. Itulah yang kurang lebih menimpa startup lokal “Qlapa” yang menyatakan gulung tikar setelah eksis beberapa tahun.

Menjadi pertanyaan, dengan merajalelanya raksasa situs jual beli online saat ini, bagaimana langkah yang seharusnya ditempuh untuk melindungi UKM atau produk lokal? Mungkinlah UKM atau startup lokal dapat membangun situs jual beli online yang mampu bersaing di level marketplace?

Pertanyaan di atas sepertinya penting diajukan, karena ke depan bisnis e-commerce akan semakin booming. Amat sayang jika kekuatan bisnis produk lokal melalui UKM tidak memanfaatkan celah e-commerce yang masih amat luas.

Dari catatan yang ada melalui perbandingan jumlah penduduk dengan kecenderungan penggunaan internet, dari 264,26 juta penduduk Indonesia sekitar 64,8 persen (171,17 juta orang) merupakan pengguna internet aktif. Dalam setahun, user internet naik sekitar 10,2 persen. Terbesar di Pulau Jawa dengan 55 persen penduduk, lalu Sumatera (21 persen) Kalimantan (9 persen), Sulawesi, Maluku dan Papua (10 persen), dan Bali-Nusatenggara (5 persen).

Dengan besarnya pangsa pasar belanja online yang kebanyakan menjual consumer goods, maka jika peluang tersebut bisa dimanfaatkan oleh UKM lokal dengan dukungan penuh pemerintah dalam perlindungan produk, maka sepertinya bukan hal tidak mungkin marketplace lokal akan bisa bersaing.

Apalagi, data dari Badan Ekonomi Kreatif-Bekraf, menunjukkan bahwa pada 2017 saja target pertumbuhan PDB ekonomi kreatif yang dipatok 6,75 persen sudah terlampaui. Jumlah tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif sebesar 16 juta orang saat ini telah mencapai 18,1 juta. Sumbangan ekonomi kreatif terhadap PDB mencapai Rp1.105 triliun. Dua bidang ekonomi kreatif yang tengah naik daun, yakni film dan game diharapkan dapat terus dipertahankan. Di samping bidang lainnya yang jadi maskot ekonomi kreatif seperti fashion, kuliner dan kriya. Begitu pula desain komunikasi visual/grafis dan desain produk.

Mampukah UKM lokal dan ekonomi kreatif bersaing dengan raksasa marketplace? Atau dibiarkan saja menjadi subsistem atau supplier saja dari marketplace yang disediakan oleh asing?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Dalam bisnis sering banyak cara dilakukan untuk mencapai tujuan: profit yang berkesinambungan dengan berusaha berkelindan di antara tata nilai, etik, dan peraturan bahkan tidak jarang mengabaikannya. Kata kuncinya adalah persaingan usaha. Para pelaku bisnis dari berbagai skala dan platform usaha berjerih payah untuk bertahan dan unggul dalam persaingan di pasar. 

Demikian halnya dengan kisah persaingan bisnis UKM lokal pada platform e-commerce yang tengah marak belakangan ini. Bagaimana UKM lokal dapat memanfaatkan sumberdaya mereka dengan cerdik agar bertahan dan unggul di tengah himpitan para pelaku bisnis modal besar dalam era perdagangan digital?

Petinju kelas berat legendaris Muhammad Ali menyadari bahwa untuk unggul dalam pertarungan melawan Sonny Liston, George Foreman, dan Joe Frazier, diperlukan kecerdikan bukan kekuatan pukulan semata. Oleh karenanya Ali memperkenalkan gaya bertinju float like a butterfly and sting like a bee yang membuat lawan-lawannya kebingungan memukul karena Ali bergerak sangat lincah ke sana ke mari sembari melihat peluang meluncurkan pukulan yang menyengat. Ali berhasil unggul dari para lawannya dengan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki dalam menghadapi persaingan di ring tinju. 

Apakah sumberdaya UKM lokal yang dapat dimanfaatkan dalam persaingan menghadapi para raksasa e-commerce seperti Lazada, Gojek, Tokopedia, Shopee, Buka Lapak dan lainnya?

Salah satu sumberdaya yang harus dimanfaatkan UKM lokal dalam persaingan usaha di era digital ini adalah daya kreasi yang berbasis imajinasi serta jejaring sumber informasi. Generasi milenial yang menjadi mayoritas konsumen di era perdagangan digital memiliki karakter antara lain lekas bosan dan ingin mencoba sesuatu yang baru. Hal ini perlu disikapi UKM lokal dengan terus mengembangkan aneka produk dan jasa yang kreatif. Tidak berpuas diri terhadap kesuksesan suatu produk di pasar namun terus menghadirkan berbagai produk baru yang memiliki keunggulan. 

UKM seharusnya dapat melakukannya karena skala usaha yang relatif kecil sehingga lebih lincah dalam menyesuaikan proses produksinya katimbang perusahaan besar yang harus memperhitungkan dampak perubahan proses produksi serta waktu tenggang yang dibutuhkan agar produk baru bisa diluncurkan ke pasar.   

Jejaring sumber informasi merupakan sumberdaya yang harus dimanfaatkan UKM dalam persaingan bisnis di era digital. UKM tidak perlu memaksakan diri melawan para raksasa e-commerce namun harus cerdik beraliansi dengan memanfaatkan kekuatan jejaring mereka. Meraih keuntungan usaha secara berkesinambungan tidak harus dengan membuat platform e-commerce sendiri namun memanfaatkan apa yang sudah ada dibuat pihak lain dengan membangun daya tawar (leverage) akan lebih realistis. UKM perlu bernegosiasi dengan para raksasa e-commerce agar mendapatkan ruang yang lebih menguntungkan untuk diakses para konsumen milenial. 

Belum ada asosiasi UKM di Indonesia yang cukup kuat menyatukan daya tawar UKM lokal terhadap para raksasa e-commerce sehingga kepentingan UKM lokal dapat diakomodasi dan diperhatikan. Struktur asosiasi UKM di Indonesia perlu dibangun dengan berbasis sektor usaha sehingga upaya pembinaan dan pengembangannya oleh pihak berwenang seperti Bekraf dan Kemenperin, khususnya di bidang daya kreasi berbasis imajinasi akan lebih fokus dan efektif.  

UKM lokal telah terbukti menjadi tulang punggung perekonomian nasional di masa krisis moneter pada masa lalu. Kreativitas serta jejaring informasi menjadi sumberdaya kunci UKM dalam memainkan peran penting yang strategis di masa mendatang khususnya di era perdagangan digital. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Director Innovation Center AMIKOM dan Direktur inkubator AMIKOM Business Park Yogyakarta

Marketplace seperti Tokopedia, Bukalapak dan lainnya diakui berperan besar dalam membantu pengembangan bisnis skala UKM terutama dalam membantu penetrasi pasar.

Banyak kemudahan yang ditawarkan oleh platform tersebut seperti layanan promosi gratis dari penyedia, rekening bersama, harga sewa toko virtual yang murah, jangkauan pembeli yang luas dan bebas dari biaya pengembangan web dan pemeliharaannya. Walaupun demikian kemudahan marketplace sebetulnya lebih sesuai untuk pedagang, bukan untuk entrepreneur.

Mengapa demikian? Karena disamping kemudahan tersebut market place mempunyai banyak kekurangan sehingga UKM atau startup lokal sebaiknya mulai mempertimbangkan lagi untung ruginya menjual produknya di marketplace.

Merujuk pada artikel di Techninasia edisi 16 Oktober 2018 berjudul “Tiga Alasan Mengapa Entrepreneur Harus Meninggalkan Marketplace Online”setidak ada tiga alasan pebinis pemula mengkaji ulang manfaat marketplace sebagai sarana memasarkan produknya.

Alasan pertama, Perbedaan harga sangat tajam antara produk yang sejenis. Produk yang sama misalnya casing HP harganya bervariasi dari puluhan ribu sampai dengan ratusan ribu sehingga kompetisi tidak berjalan secara fair.

Perbedaan harga ini disebabkan produk impor menjual harga produk dengan harga yang sangat rendah karena dukungan pemerintah mereka yang sangat kuat dan skala produksinya yang jauh lebih besar dari pemain lokal.

Jika produk yang dijual bukan merupakan produk unik, pemasaran melalui marketplace justru akan memasukkan produk milik startup dalam kompetisi harga yang lebih sengit. Jika hal ini diteruskan maka akan mengakibatkan penurunan pada margin produk.

Alasan kedua, Startup yang memasarkan produknya lewat marketplace tidak akan pernah berhubungan langsung dengan pelanggan. Sehingga profil pelanggan tidak dipahami oleh mereka, padahal untuk menyusun strategi jangka panjang informasi profil pelanggan sangat di butuhkan.

Apalagi di era saat ini, data analisis sangat menentukan kemenangan kompetisi bisnis.

Alasan ketiga, Bagi pebisnis pemula mungkin sesuai memasarkan produknya lewat marketplace karena banyak fitur yang memudahkan mereka menjangkau pelanggan lebih luas.

Akan tetapi bagi pelaku bisnis yang mulai perlu pengembangan usaha maka marketplace mempunyai banyak hambatan antara lain poin-poin yang telah disebutkan di dua alasan diatas.

Selain itu media pemasaran digital saat ini, marketplace bukan satu-satunya sarana, masih banyak alternatif lain. Tersedia banyak platform media sosial yang bisa digunakan untuk pemasaran, sehingga UKM tidak harus tergantung hanya pada platform marketplace saja.

Salah satunya yang cukup powerfull untuk menjangkau pelanggan adalah Instagram. Menurut statistik ada 1.1 miliar pengguna Instagram setiap bulan.

Dari 1 miliar pengguna aktif Instagram bulanan, 500 juta pengguna aktif harian. Hanya 12 persen pengguna Instagram di Amerika serikat. Sisanya tersebar diseluruh dunia.

Peluang UKM untuk menjangkau customer global lebih besar dibanding marketplace lokal karena pengguna global tentu saja lebih familiar dengan Instagram dibanding tokopedia.

Pengguna aktif Instagram di Indonesia mencapai 62 juta orang. Peluang ini jika bisa dimanfaatkan dengan baik bisa menjadi media pemasaran utama bagi UKM. Pengguna Instagram mayoritas berusia muda dibawah 71 persen.

34 persen pengguna Instagram adalah kaum milenial. Pelanggan berusia muda ini merupakan pasar potensial karena mereka menyukai berintekrasi dengan mediasosial dan mempunyai uang.

Banyak UKM yang memproduksi fashion dengan sasaran anak muda menggunakan Instagram sebagai media promosi dan transaksi, misalnya Hijacksandal dan Elhaus.

Mereka mengkombinasikan instagram dengan website situs jual beli online mereka sendiri untuk proses pemesanan dan pembayaran juga menggunakan platform media sosial lainnya seperti Youtube untuk menvisualisasi nilai keunikan dan keunggulan serta fitur produk mereka. Sehingga menurut saya startup dan UKM tidak perlu terlalu kuatir dengan hegemoni raksasa marketplace karena masih banyak tersedia alternatif media lain yang tidak kalah efektif. Yang lebih penting justru bagaimana startup dan UKM mampu menyakinkan pelanggan bahwa produk mereka mempunyai keunggulan kompetitif dalam memberikan solusi kepada pelanggan dibanding produk lain.

Dukungan pemerintah berupa regulasi dan kebijakan proteksi atau insentif pajak misalnya, tentu saja diharapkan untuk lebih menguatkan posisi produsen lokal akan tetapi bukan menjadi satu-satunya faktor untuk mampu bersaing dengan produsen impor. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FX Sugiyanto, Prof.

Guru Besar Universitas Diponegoro

FOLLOW US

Pengusaha Harus Aktif Lobi AS             Kematian Petugas KPPS Tidak Ada Yang Aneh             Memerangi Narkoba Tanggung Jawab Semua Pihak             Pendekatan yang 'Teenager Friendly'             Pendampingan Tiga Tungku             Perda Dulu Baru IMB             Kelalaian Negara dalam Misi Kemanusiaan             Kematian Petugas Medis; Pemerintah Harus Berbenah             Daerah Terpencil Sebagai Indikator Keberhasilan             Resiko Petugas Sosial