Bunga Bank Naik Sektor Riil Tercekik
berita
Ekonomika
Sumber Foto : pictoxo.com (gie/watyutink.com) 24 July 2018 15:00
Penulis
Mengetatnya likuiditas global memaksa  Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (7 DRRR) menjadi 5,25 persen. Hingga level ini BI memutuskan tidak lagi menaikkan suku bunga acuan, berhenti sejenak, menarik napak untuk kemudian bersiap-siap menaikkan suku bunga lagi jika Bank Sentral AS jadi menaikkan suku bunga acuannya, The Fed Rate, sebanyak dua kali lagi pada September dan Desember tahun ini.

Berbarengan dengan penaikan suku bunga acuan, BI mewanti-wanti perbankan agar tidak ikut-ikutan menaikkan suku bunga simpanan dan kredit karena pada saat bersamaan bank sentral juga mengeluarkan kebijakan pelonggaran kepada bank, agar dampak negatif kenaikan suku bunga acuan tidak berdampak pada pembiayaan pembangunan.

Beberapa pelonggaran yang diberikan antara lain aturan mengenai loan to value yang berdampak kepada penghapusan uang muka pembelian rumah, dan meningkatkan rata-rata giro wajib minimum primer menjadi 2 persen dari sebelumnya 1,5 persen sehingga bank memiliki fleksibilitas dalam manajemen likuiditasnya dan mampu  mendorong ekspansi kredit.

Pelongaran tersebut akan memberikan ruang bagi bank untuk melakukan manuver dengan adanya likuiditas yang memadai sehingga tidak perlu menimbulkan perang bunga antarbank untuk menggaet dana pihak ketiga dengan iming-iming bunga yang lebih tinggi.

BI mengibaratkan penaikan suku bunga acuan sebagai jamu pahit, namun pada saat bersamaan menyediakan juga jamu manis agar bank tetap terdorong untuk membiayai perekonomian melalui penyaluran kredit dengan bunga yang tidak memberatkan debitur.

Selain itu, BI mencatat kenaikan suku bunga deposito di bank-bank telah mencapai 40 basis points (bps) sejak bank sentral menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 bps, sementara peningkatan suku bunga kredit mencapai 9-12 bps. Hal ini menjadikan imbal hasil dari aset perbankan di Tanah Air sebagai yang tertinggi di dunia sehingga masih mempunyai spread yang sangat besar. Jadi tidak perlu menaikkan suku bunga.

Tapi apa lacur. Penaikan suku bunga acuan oleh BI sebesar 100  basis poin bak genderang bagi bank untuk menaikkan suku bunga. Dimulai dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menetapkan suku bunga penjaminan, bank-bank sudah bersiap menaikkan suku bunga deposito dan pinjaman yang besarnya bervariasi mulai dari 25 basis poin hingga 50 basis poin.

Cukup sederhana alasan bank menaikkan suku bunga. Dulu pada saat BI menurunkan suku bunga acuan, bank diminta dalam menetapkan suku bunga deposito dan kredit harus mengikuti suku bunga acuan BI. Nah, pada saat BI menaikkan suku bunga acuan, tidak ada yang salah jika bank juga melakukan hal yang sama. Di samping itu, bank tidak mau margin keuntungannya tergerus. Kenaikan suku bunga bank menjadi sebuah keniscayaan.

Kini yang akan merasakan dampak kenaikan suku bunga bank adalah sektor riil yang membutuhkan suntikan dana untuk menjalankan roda usahanya. Likuiditas memang bukan segalanya tetapi tanpa likuiditas segalanya menjadi terhambat.  

Saat suku bunga acuan BI bertengger di level 4,25 persen atau dibawahnya, penyaluran kredit hanya tumbuh sekitar 8-10 persen. Dengan pelemahan rupiah, mengetatnya likuditas dunia, adanya perang dagang antara AS dan China, dan ketidakpastian ekonomi global, pertumbuhan kredit akan semakin berat, apalagi dengan dinaikkannya suku bunga bank.

Mampukah sektor riil bertahan dalam rejim suku bunga tinggi? Apakah ada insentif agar sektor riil tetap mampu bertahan? Bagaimana dengan industri yang memiliki peran dalam penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar dan berorientasi ekspor? Adakah sumber pendanaan lain di luar perbankan?

Apa Pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Guru Besar Universitas Diponegoro

Wajar jika Bank Indonesia mengimbau agar bank tidak menaikkan suku bunga. Namun bank pasti akan menaikkan suku bunga, tidak mungkin tidak, akan menaikkan suku bunga. Kalau bank tidak menaikkan suku bunga tidak mungkin nilai tukar dolar AS akan turun. Oleh karena itu yang diharapkan suku bunga naik dalam jangka pendek yang akan menahan investor melarikan dolar AS ke luar negeri dan menahan pelemahan rupiah.

Kenaikan suku bunga bank, dalam banyak riset dan fakta empiris, akan berpengaruh kepada sektor riil. Ini merupakan konsekuensi dari upaya menstabilkan rupiah. Memang ini sebuah dilema karena plihannya menjadi sulit. Untuk meminimalisasi dampaknya terhadap sektor riil tentu ada kebijakan di sisi lain seperti pembenahan di bidang logistik dan transportasi.

Kondisi makro ekonomi Indonesia, di luar masalah kurs, dalam kondisi baik. Inflasi terjaga, tetapi dalam jangka pendek terkena pengaruh dari kebijakan eksternal negara lain yang cukup kuat sehingga harus menaikkan suku bunga.

Secara empiris kenaikan suku bunga ini akan berpengaruh  kepada sektor riil dalam tiga-enam bulan ke depan. Namun berapa besar pengaruhnya terhadap sektor riil tergantung pada kondisi yang ada. Studi yang pernah dilakukan dalam 10 tahun lalu berbeda kondisinya dengan saat ini. dimana kebijakan di sektor riil sudah lebih fleksibel dibandingkan dengan masa lalu.

Kenaikan suku bunga terhadap sektor riil pada saat ini diperkirakan lebih kecil karena biaya lain di luar suku bunga juga sudah mulai berkurang.

Penaikan suku bunga ini merupakan pilihan kebijakan yang harus dilakukan. Karena kalau dolar AS sudah menguat maka implikasinya sangat luas. Kalau melihat struktur Industri Indonesia, komponen impor rata-rata mencapai 20 persen. dengan adanya kenaikan dolar AS yang cukup tinggi maka akan terpengaruh.

Nilai tukar rupiah yang masih aman untuk industri di level Rp13.800 per dolar AS, namun saat ini sudah terlalu tinggi sehingga akan mempengaruhi industri yang memiliki komponen impor yang tinggi, sehingga strategi yang ditempuh adalah bagaimana menstabilkan rupiah lebih dulu, atau kalau bisa menguatkan rupiah karena saat ini terlalu undervalue.

Kalau dilihat kondisi eksternal dimana inflasi AS sudah mencapai 2,9 persen dan ini salah satu yang tertinggi dalam sejarah ekonomi negara Paman Sam maka mau tidak mau mereka akan menaikkan suku bunga, ditambah kebijakannya yang semakin protektif menjadi persoalan tersendiri, didorong juga oleh kenaikan harga komoditas di sektor pertambangan dan pertanian sehingga masalahnya menjadi kompleks.

Bagi nasabah kaya, kenaikan suku bunga perbankan akan membuat mereka menunda investasi karena bank akan memberikan return yang cukup tinggi, termasuk kepada nasabah kecil.  Namun yang justru menghadapi masalah adalah pemerintah sendiri. Pemerintah mendorong industri tumbuh untuk mengatasi problem ketenagakerjaan, tetapi kenaikan suku bunga ini membuat sektor riil terhambat.

Tetapi saya sepakat dengan ekonom lain yang berpendapat suku bunga memang harus dinaikkan tetapi memang tidak cukup. Ini memang pil pahit yang harus ditelan. Kondisinya mengharuskan menaikkan suku bunga.

Pendanaan alternatif selain bank adalah pasar modal namun perusahaan harus memenuhi standard untuk go public.  Tetapi secara makro sumber pendanaan memang hanya dari perbankan kecuali dari dana sendiri. Pada level mikro perusahaan belum tentu dirugikan karena memiliki alternatif di dalam menempatkan dananya, menunda investasi sehingga masih mendapatkan keuntungan dari sumber lain, tetapi bagi makro menjadi problem. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)

Sebelum ada kenaikan suku bunga kondisi sektor riil kita sudah mengalami kelesuan. Masalahnya memang kompleks. Yang benar-benar memberikan tekanan kepada sektor riil adalah masalah energi dan ekonomi biaya tinggi seperti logistik yang menjadi problem klasik, disamping suku bunga yang jika dibandingkan dengan negara tetangga dan mitra dagang, Indonesia jauh lebih tinggi. Pada saat persoalan klasik tersebut belum selesai, harga minyak dunia meningkat membuat harga energi yang lain mengalami kenaikan.

Dampak kenaikan suku bunga acuan BI akan membuat suku bunga pinjaman ikut meningkat yang akan semakin menekan sektol riil. Belum lagi persoalan depresiasi nilai tukar yang meningkatkan biaya bahan baku akibat ketergantungan pada impor. Semua masalah ini terakumulasi yang tercermin pada penurunan penjualan dan utilisasi sektor riil.

Untuk mengatasi masalah kelesuan di sektor riil pemerintah harus mengeluarkan kebijakan relaksasi seperti dilakukan oleh Presiden AS Donald Trump. Trump menaikkan suku bunga, tetapi dibarengi dengan upaya relaksasi. Dia menurunkan semua pajak dan melakukan proteksi besar-besaran terhadap industri domestik. Ini perimbangan yang dia lakukan.

Memang posisi Indonesia berbeda dengan AS yang mempunyai dana besar yang berkeliaran di banyak negara. Insentif yang diberikan untuk menarik dana tersebut adalah dengan menaikkan suku bunga sebagai instrumen moneter.  

Indonesia tidak semewah AS yang memiliki banyak sumber daya. Tetapi Indonesia bisa melakukan hal yang sama yakni mendorong sektor riil tumbuh dengan membatasi liberalisasi sektor perdagangan yang membuat tekanan terhadap neraca perdagangan sehingga timbul defisit neraca perdagangan. Ini bisa dimulai dengan perubahan pada aktivitas  dan sikap pemerintah.

Government procurement yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah nilainya mencapai lebih dari Rp400 triliun. Ini baru yang tercantum dalam APBD/APBN untuk belanja barang saja. Katakanlah dari jumlah tersebut tidak semuanya sekonyong-konyong bisa dibelanjakan segera. Jika 40 persen saja dibelanjakan maka sudah mampu untuk menggerakkan industri dalam negeri yang sangat besar sehingga bisa dijadikan sebagai salah satu instrumen pengendali impor.

Selain itu, pembangunan infrastruktur yang dilakukan dengan baik juga akan memacu pengembangan industri di dalam negeri seperti industri semen, baja, logam, dan alumunium. Misalnya, pada tahun 2018 akan dibangun sekian km jalan, sejumlah jembatan sehingga dapat dihitung berapa kebutuhan bahan bakunya yang akan dipenuhi dari produksi dalam negeri. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FX Sugiyanto, Prof.

Guru Besar Universitas Diponegoro

FOLLOW US

Pengusaha Harus Aktif Lobi AS             Kematian Petugas KPPS Tidak Ada Yang Aneh             Memerangi Narkoba Tanggung Jawab Semua Pihak             Pendekatan yang 'Teenager Friendly'             Pendampingan Tiga Tungku             Perda Dulu Baru IMB             Kelalaian Negara dalam Misi Kemanusiaan             Kematian Petugas Medis; Pemerintah Harus Berbenah             Daerah Terpencil Sebagai Indikator Keberhasilan             Resiko Petugas Sosial