Di Bawah Rp15.000/Dolar AS: Melemah atau Keseimbangan Baru?
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 04 October 2018 15:00
Penulis
Di tengah prahara gempa dan tsunami Palu, gejolak ekonomi dunia rupanya tetap ‘setia’ menemani dinamika perekonomian dalam negeri. Pergerakan mata uang dolar AS terus saja menguat terhadap rupiah. Hingga Kamis pagi (04/18) mata uang rupiah meneruskan tren pelemahan ke level Rp15.156 per dolar AS. Padahal, pada (27/9) lalu Bank Indonesia baru saja menaikkan lagi untuk ke 5 kalinya sukubunga acuan sebanyak 25 basis point ke level 5,75 persen. Tetapi, dolar AS tetap saja perkasa.

Uniknya, sementara pihak di pemerintahan tetap menganggap hal pelemahan kembali mata uang rupiah sebagai hal biasa. Pelemahan ke level Rp15.000 per dolar AS bahkan dianggap sebagai level psikologis baru bagi pasar. Artinya, basis perhitungan transaksi bisnis yang memerlukan material bahan baku yang berasal dari impor, atau transaksi apapun yang menggunakan mata uang dolar AS, harus siap-siap merogoh kocek lebih dalam dengan level psikologis baru tersebut. Konsekuensinya, kebutuhan akan BBM dalam negeri yang 60 persennya harus dipenuhi dari impor juga harus mengoleksi cadangan dolar AS yang lebih banyak.

Benarkah begitu? Betulkah bahwa karena stabilitas inflasi yang masih ‘main’ di kisaran 3 persen dan indikator makro ekonomi lain masih dianggap sehat, kita mesti menganggap pelemahan rupiah terus menerus adalah hal yang tak perlu dikhawatirkan? Apakah memang keseimbangan baru rupiah terhadap dolar AS bukan merupakan masalah terhadap ekonomi dalam negeri, padahal akhir September 2018 lalu Menkeu baru saja menyatakan keseimbangan rupiah yang baru adalah Rp14.500 per dolar AS?         

Tetap optimisnya penyelenggara negara terhadap perekonomian dalam negeri tentu menyejukkan. Upaya-upaya yang dilakukan untuk penguatan mata uang rupiah diantaranya menaikkan sukubunga acuan BI 7 Days Repo rate (7DRR) yang telah mencapai total 125 basis point sejak Januari 2018 lalu, dan implementasi biodiesel B20 dalam pasar bahan bakar nabati dalam negeri, patut dihargai. Namun, waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki struktur perekonomian dengan fundamental ekonomi yang kuat, masih membutuhkan waktu. Sementara defisit current account juga masih terus melebar sampai dengan akhir 2018.

Saat ini, upaya menyesuaikan keseimbangan baru rupiah terhadap dolar AS yang telah ditetapkan akhir September lalu dan asumsi bahwa rupiah juga akan menuju pada penyesuaian baru ke level Rp15,000 per dolar AS diperkirakan pasti berdampak pada pelambatan pertumbuhan ekonomi sampai akhir 2018.

Masih bagus jika harga-harga barang konsumsi masyarakat sehari-hari tidak ikutan naik, tetapi gejala kenaikan harga akibat pelemahan terus menerus rupiah sampai ke level Rp15,000 per dolar AS memang patut diwaspadai. Beberapa harga bahan baku makanan dari kedelai misalnya telah mengalami kenaikan, begitu pula dengan barang-barang elektronik.

Belum lagi jika benar-benar ditelaah di lapangan khususnya sektor riil dan industri yang 90 persen bahan baku dan bahan penolongnya berasal dari impor. Kiranya menjadi penting untuk menstabilkan harga-harga, demi menyelamatkan daya beli masyarakat bila pelemahan rupiah terus terjadi sampai di penghujung tahun.

Jadi, bagaimana agar klaim bahwa perekonomian masih aman dan pelemahan rupiah bukanlah sesuatu hal yang harus dikhawatirkan reliable di mata pelaku bisnis, industri dan pada level harga-harga kebutuhan pokok masyarakat? Bagaimana agar ‘stamina’ Bank Indonesia selaku bank sentral yang harus terus ‘lari marathon’ berkejaran dengan penguatan dolar AS dapat terus men-supply pasar dengan cadangan devisa yang harus selalu dijaga?

Apa pendapat Anda? Watyutink? 

SHARE ON
OPINI PENALAR

Perihal apakah Rp15.000 per dolar AS itu adalah keseimbangan baru rupiah atau tidak, jawabannya adalah: iya. Karena menurut model atau simulasi yang saya kerjakan itu memang mengkonfirmasi bahwa ke depan rupiah akan berada di equilibrium yang baru, dan equilibrium yang baru ini atau titik keseimbangan baru ini terus berubah relatif terhadap kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS). Juga, relatif terhadap perbedaan produktivitas dari Indonesia ke negara-negara lain. Jadi dalam konteks nilai tukar, memang telah terjadi perubahan keseimbangan.

Nah, apakah keadaan itu aman? Menurut saya hal itu terhitung masih aman, karena masih di dalam kisaran 10 persen. Artinya, depresiasinya masih termasuk belum sangat parah. Meskipun demikian, kita masih harus terus waspada karena depresiasi yang persisten akan menyebabkan juga hambatan dari pertumbuhan ekonomi. Karena sekali lagi menurut simulasi saya depresiasi ini pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan ekonomi di 2018 dan 2019.

Jadi pada 2018 kuartal III ini, sebagai akibat dari depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pertumbuhan ekonomi kita justru turun menjadi 5,07-5,08 persen. Artinya masih lebih rendah dibandingkan dengan kuartal II yaitu 5,27 persen. Adapun di kuartal ke IV saya juga melihat masih adanya tren depresiasi sebagai akibat dari adanya rencana the fed yang akan menaikkan sukubunganya lagi di akhir tahun, hal itu juga akan menekan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2018 akan berada di level 4,89 persen atau maksimum 5,05 persen.

Dengan demikian, pada 2018 ini kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi kita hanya tumbuh di bawah 5,1 persen. Masih di bawah target pemerintah yang 5,2 persen.

Meskipun kondisi sekarang kami anggap belum terlalu mengkhawatirkan, tetapi kondisinya ke depan akan membuat tren pertumbuhan ekonomi maupun juga trend dari produksi akan terhambat karena depresiasi rupiah ini berpengaruh terhadap proses poduksi. Hal mana komponen terbesar produksi berasal dari impor. Sebagaimana diketahui 90 persen impor kita adalah komponen barang produksi. Hal itu kemungkinan besar akan meningkatkan ongkos produksi. Hal itu adalah channel dimana kemudian pertumbuhan ekonomi kita diproyeksikan melambat.

Ihwal ‘stamina’ Bank Indonesia (BI) menghadapi gejolak moneter seperti ini, saya kira BI sudah melakukan segala cara. Cuma sekarang isunya lebih pada ekspektasi. Jadi selain masalah fundamental ekonomi, isunya adalah ekspektasi.

Dulu ketika sukubunga di AS itu rendah, para investor terutama investor jangka pendek atau hot money meminjam di AS dalam bentuk mata uang dolar AS dengan sukubungan rendah yang hampir nol persen, lalu dari situ kemudian ke Indonesia dikonversikan ke rupiah. Lalu masuk ke pasar saham/obligasi dimana sukubunganya jauh lebih tinggi. Kemudian ketika proses normalisasi terjadi di AS ketika sukubunga the fed dinaikkan secara persisten.

Kedua, terjadinya cycling up atau terjadinya pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di AS—yang berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi di emerging market—menyebabkan investor melihat pasar uang di AS sebagai “safe heaven”, maka mereka segera beralih ke AS dan tidak perduli berapapun naiknya sukubunga acuan dan intervensi oleh BI, mereka tetap memilih untuk memegang dolar AS karena memang tengah terjadi tren normalisasi di AS. (pso)     

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

Saya tidak sependapat jika disebutkan adanya keseimbangan baru terhadap mata uang rupiah pada level Rp15.000 per dolar AS. Jika dilihat lagi dari data-data fundamental kita nilai rupiah semestinya tidak diangka Rp15.000. Hal ini adalah gejolak eksternal/global—meskipun ada juga sisi internal-tapi pemicunya sebetulnya ada 3 hal yang paling besar pengaruhnya yakni pertama, harga minyak bumi yang sudah mencapi 85 dolar AS per barel, sebelumnya kedua, terjadinya perang dagang Amerika Serikat – China, ketiga, Fed Fund Rate (FFR) yang mulai price in.

Dunia internasional juga sudah memperkirakan bahw efek FFR akan lebih landai, tetapi kemudian selalu muncul hal yang baru di gejolak ekonomi global yang membuat rupiah tetap tertekan, yaitu 3 faktor di atas.

Untuk tahun depan, ke 3 hal tersebut juga akan tetap membayangi. Perang dagang sendiri saat ini sudah semakin panas. Di AS sendiri ada survei yang dinamakan policy uncertainty index atau indeks ketidakpastian kebijakan di AS. Publik AS sendiri memilih ketidakpastian perang dagag AS-China sebagai faktor ketidakpastian yang paling besar.

Kebijakan-kebijakan perdagangan Trump telah menyebabkan kondisi ekonomi global menjadi tidak pasti yang berimplikasi kepada capital flight dan spekulasi yang terjadi di negara-negara berkembang.

Perkembangan terbaru adalah tentang harga minyak bumi yang terkait geopolitik dari berbagai macam rencana negara-negara penghasil minyak yang membuat harga minyak bumi terus naik.

Dengan ketiga hal berpengaruh di atas saat ini jadi faktor paling dominan dalam pergerakan mata uang dunia. Bagi rupiah, jika kita tidak berhati-hati apalagi dengan adanya defisit current account kita yang melebar tentu memang kemungkinan akan terdepresiasi lagi masih ada.

Karena disaat yang sama kemampuan kita untuk meningkatkan ekspor juga kurang. Kalau dulu kita menumpuk cadangan devisa sampai 132 miliar dolar AS itu bukan dari aspek yang sangat fundamental. Ketika itu lebih pada banyaknya modal  yang masuk karena Indonesia mulai dipercaya, namun di sisi lain perekonomian Amerika serikat sedang lemah sehingga modal kemudian banyak masuk ke Indonesia. Inflow-nya ketika itu sebetulnya arus masuk yang harus diwaspadai. Sampai-sampai ada isu bahwa BI khawatir dengan utang swasta karena inflow-nya begitu deras sehingga rupiahnya juga sangat stabil.

Tapi persoalan yang terjadi sekarang adalah AS nya mulai ‘membaik’ membaiknya juga masih banyak yang meragukan apakah tahun depan juga masih membaik atau tidak--tetapi yang namanya portofolio investment selalu melihat progress perekonomian negara yang disinggahi. Jika dilihat memburuk, maka investor itu akan hengkang ke negara yang lebih menjanjikan. Problemnya di situ.

Ihwal keseimbangan baru rupiah ini seharusnya kita mengejar target di angka Rp14,500 per dolar AS sesuai dengan APBN. Walaupun sekarang angkanya Rp15,000 per dolar AS. Tapi itu karena BI juga tidak ditargetkan nilai tukar rupiah, seharusnya lebih pada pendekatan fiskalnya bagaimana menggenjot ekspor atau menarik devisa yang lain seperti pariwisata atau lainnya, misalnya. Untuk program biodiesel B20 ada masalah pada implementasi nampaknya.

Jadi rangkaian kebijakannya harus diutamakan untuk mendorong ekspor, walau ada situasi perang dagang, tapi tidak ada cara lain. Kalau tidak mendorong ekspor maka devisa akan terus tergerus dan hal itu jadi agak memberatkan.

Untuk pembukaan pasar baru saya lihat juga belum ada hasil signifikan, lagipula persentasenya kecil. Kalau menurut saya sekarang harus lebih optimal bagaimana merawat dan mengembangkan pasar yang ada. Kalahnya kita sebenarnya lebih pada faktor non teknis yang bukan pada produk tapi pada kemampuan diplomasi bernegosiasi di pasar CPO contohnya, yang kita gagal menjelaskan ketika ada isu lingkungan, tarif dan sebagainya. Hal-hal itu membutuhkan kelihaian tersendiri dalam menjelaskan di captive market kita. Hal itu pula membutuhkan perbaikan pada sisi diplomasi dagang Indonesia. Terlebih Indonesia adalah negara besar dalam konteks ekspor komoditas yang seharusnya lebih proaktif melihat jika ada tanda-tanda akan dihambat di negara tertentu padahal penting untuk menghasilkan devisa maka harus segera mencarikan solusinya.

Terkait nilai tukar yang melemah lalu dikatakan tidak berdampak ke sektor riil, itu menurut saya tidak logis. Karena, mungkin saat ini mereka masih ada stock. Tapi jika depresiasi terjadi terus menerus sampai akhir tahun maka lama-lama sektor riil akan terkena dampak. Sekarang saja sudah mulai berdampak. Misalnya industri penerbangan, itu sebentar lagi mungkin akan terkena dampak pelemahan kurs. BBM pesawat dan suku cadangnya juga akan menjadi lebih mahal. Juga elektronik yang harganya mulai merangkak naik. Kalau BI hanya mengarah kepada indeks tendensi bisnis semua pengusaha ketika ditanya ke depan bagaimana, pasti akan tetap menyebut masih optimis. Tapi sebetulnya kita harus melihat realitas yang terjadi di masyarakat atau industri seperti apa. Itu intinya. Industri saja saat ini tumbuh di bawah 4 persen. Itu gambaran betapa faktor rupiah menjadi sangat penting. (pso)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia

Penguatan dolar AS terhadap rupiah masih terus berlanjut. Kemarin bahkan dolar AS berhasil menembus benteng pertahanan BI di level Rp15.000 per dolar AS sekaligus mendorong BI mundur dan berjaga di benteng atau batas psikologis baru yang saya perkirakan ada di level Rp15.500 per dolar AS.

Kenapa saya sebutkan benteng atau batas psikologis baru? Karena sesungguhnya level-level psikologis ini sesungguhnya tidak pernah ada dan tidak ada juga penjelasan ilmiah bagaimana terbentuknya.

Level psikologis bukan level yang mencerminkan kondisi fundamental, bukan juga level keseimbangan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai benteng yang ditargetkan untuk dijaga jangan sampai bisa direbut musuh yang dalam hal ini adalah dolar AS. Dolar AS jangan sampai melewati Rp15.000 per dolar AS.

Dengan cara berpikir seperti ini kita jadi tidak perlu terlalu khawatir. Ingat dulu bagaimana saat awal pelemahan rupiah kita punya level psikologis Rp14.000 per dolar AS. Seperti permainan, BI berusaha agar dolar AS tidak melewati benteng pertahanan di level Rp14.000. Ketika level Rp14.000 per dolar AS terlewati yang artinya benteng pertahanan dapat direbut musuh dan BI harus bergerak mundur ke benteng berikutnya yaitu di level Rp14.500 per dolar AS. Ketika benteng ini terlewati juga, BI kembali terdesak mundur ke benteng Rp15.000 per dolar AS. Terakhir, kejadiannya baru kemarin, benteng Ro15.000 inipun sudah direbut musuh.

Yang harus dilakukan oleh BI adalah mundur dan mempertahankan benteng berikutnya di level Rp15.500 per dolar AS. Apakah tidak mungkin BI tidak hanya bertahan tapi juga menyerang untuk merebut kembali benteng Rp15.000 per dolar AS? Sangat mungkin apabila kondisinya memungkinkan.

Uraian ini perlu saya sampaikan di awal untuk memberikan pemahaman bahwa level psikologis itu sesungguhnya hanyalah angka target untuk dipertahankan. Angka-angka ini tidak bisa digunakan untuk mengartikulasikan besarnya pelemahan rupiah dan dampaknya terhadap perekonomian. Ambil contoh saja, rupiah melemah melewati level psikologis Rp14 ribu per dolar AS di sekitar bulan April. Kemudian tidak berarti perekonomian kita lalu langsung tidak berdaya. Demikian juga ketika kemudian rupiah menembus  Rp14.500 per dolar AS. Ekonomi kita juga masih bisa berjalan normal. Inflasi y.o.y bahkan bergerak stabil di kisaran 3 persen. Saya meyakini kondisi yang sama setelah rupiah menembus level Rp15.000. Ekonomi kita masih akan baik-baik saja.

Lalu apakah memang tidak akan ada dampak terhadap perekonomian? Ya tentu saja ada dampaknya. Dampaknya ada yang positif dan ada pula yang negatif. Bagi sebagian besar saudara kita khususnya para petani komoditas di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, pelemahan rupiah saat ini lebih menguntungkan. Kenaikan harga komoditas yang diiringi oleh pelemahan rupiah berarti kenaikan pendapatan. Demikian juga dengan pengusaha/eksportir misalnya di bidang pertambangan. Pelemahan rupiah membuat pundi-pundi pendapatan mereka bertambah besar. 

Di sisi lain bagi banyak importir atau pengusaha yang membutuhkan barang impor untuk bahan baku tentu pelemahan rupiah  menyebabkan kenaikan biaya. Tapi mereka masih punya pilihan mentransfer kenaikan harga itu ke harga barang atau menurunkan tingkat keuntungan. Intinya, selama pelemahan rupiah berlangsung gradual dan bisa diprediksi pengusaha masih akan dapat survive dengan melakukan perencanaan yang matang, apakah akan mentransfer beban ke pembeli atau ditanggung sendiri.

Yang tidak punya pilihan atas pelemahan rupiah adalah rumah tangga. Mereka yang akan menerima dampak dari pelemahan rupiah, mulai dari yang skalanya rendah yaitu kenaikan harga barang-barang pokok sampai ke skala tinggi misal penurunan income karena terkena PHK dimana perusahaan tempat mereka bekerja bangkrut akibat melemahnya rupiah. 

Saat ini jangankan dampak skala tinggi yang skala rendah saja belum begitu terasa. Terlihat di angka inflasi yang masih sangat rendah. Sampai level berapa masyarakat akan mulai merasakan dampak negatif pelemahan rupiah? Selama pelemahan rupiah terjadi secara gradual dan terukur, para pengusaha masih akan survive, dan selama pengusaha masih survive, dampak negatif terhadap masyarakat akan terkendali. Ini yang menjadi tugas Bank Indonesia dan pemerintah. 

Satu hal yang menurut saya sangat perlu ditanamkan kepada masyarakat bahwa pelemahan rupiah ini masih akan berlangsung cukup lama. Artinya kita semua harus siap satu saat nanti rupiah bisa jadi melemah menembus Rp15.500 per dolar AS. Tapi kita harapkan itu tidak terjadi segera, melainkan secara gradual dan kita semua bisa mempersiapkan diri. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Enny Sri Hartati, Dr.

Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perlu Inventarisasi Perundangan dan Peraturan             Bukan Jumlah Peraturan Tapi Korupsinya Yang Penting             Sektor Pertanian Masih Gunakan Paradigma Lama             Gelombang Spekulasi Politik             Demokrasi Tanpa Jiwa Demokrat             Rekonsiliasi Sulit Terjadi Sebelum 22 Mei             Industri Manufaktur Memperkokoh Internal Perekonomian             Dibutuhkan Political Will, Bukan Regulasi             Kasus Makar Bernuansa Politis             Pasal Makar Ancam Demokrasi